15 August 2017

Patung Jayandaru Sidoarjo Pindah ke Finna Golf Pandaan

Ribut-ribut patung Dewa Kwang Kong di Tuban mengingatkan kita pada kisruh patung di Alun-Alun Sidoarjo. Tepatnya di monumen Jayandaru di tengah Kota Sidoarjo. Kejadiannya menjelang pemilihan bupati tahun 2015.

Singkat cerita, patung nelayan, petani, dan wong cilik di tambak karya Nyoman Winten dari Bali itu diturunkan. Padahal Sekar Laut Group mengeluarkan biaya tak sedikit untuk produksi patung, pemasangan, transportasi dsb. ''Kami mengikuti aspirasi yang berkembang di masyarakat,'' begitu ucapan pihak Sekar Laut.

Apakah tidak ada izin? Belum koordinasi dengan pemkab? Tidak dijelaskan. Yang pasti, perusahaan pengolahan hasil laut ini punya tim analisis yang canggih.

Menghabiskan uang miliaran rupiah untuk patung untuk diturunkan? Mending dipakai untuk perbaikan sekolah-sekolah atau jalan desa yang rusak.

Pekan lalu saya mampir ke Finna Golf di Pandaan Pasuruan. Lapangan golf yang hijau dan asri ini milik Sekar Laut. Ternyata patung eks Sidoarjo itu dipasang di sana. Di jalur trek para pejalan kaki.

Karena itu, tidak banyak warga yang tahu ada patung-patung realis yang begitu detail khas seniman Bali itu. Maklum, kawasan Finna Golf ini memang eksklusif buat para tamu yang ingin main golf atau sekadar mampir ngopi plus istirahat.

''Membuat patung manusia di Jawa Timur memang masih rawan karena masyarakat punya persepsi yang berbeda,'' kata Santoso seniman patung di Gedangan Sidoarjo. Cak San ini pembuat patung Cak Durasim di Taman Budaya Jatim, Jalan Gentengkali Surabaya.

Apresiasi terhadap seni rupa tiga dimensi memang masih payah di sini. Apalagi kalau sudah ada muatan politik SARA di dalamnya. Karena itu, Santoso lebih sering membuat patung manusia di luar Jawa. ''Kalau di Sidoarjo, saya yang paling banyak membuat patung udang dan bandeng. Pasti aman,'' katanya.

No comments:

Post a Comment