24 August 2017

Musik Siter Bu Warsini di Ambang Punah

Bu Warsini namanya. Sudah 10 tahun lebih saya menikmati permainan musiknya yang bikin hati tenang. Alat musik siter atau kecapi dipetik wanita asal Wonoayu Sidoarjo ini dengan skill tingkat tinggi. Lalu kadang ditingkahi dengan tembang Jawa.

Dulu, sekitar 2005, pelukis senior Bambang Thelo dan Thalib Prasodjo (keduanya sudah almarhum) sering nganggap Bu Warsini untuk menghibur sesama seniman di Akar Jati Cafe, dekat Gelora Delta. Dikasih Rp 50 ribu aja pemusik siter ini matur nuwun. Apalagi 100 ribu atau lebih.

''Kalau kita tidak ikut menghidupi... tidak lama lagi musik siter jowo ini akan hilang. Coba anda cari di seluruh Sidoarjo, berapa orang yang masih main siter? Mungkin gak sampai lima orang,'' ujar Bambang Thelo pelukis yang doyan menggambar tekek alias tokek. Makanya disapa Eyang Tekek.

Ketika kafe plus galeri itu masih ada, Bu Warsini dapat slot tampil reguler. Honornya sedikit tapi selalu ada saweran dari pengunjung kafe. Lumayan kalau dikumpulkan dari hari ke hari. ''Alhamdulillah, ada saja rezeki dari Tuhan. Saya bisanya hanya main siter,'' ujar Bu Warsini.

Sayang, umur Akar Jati ternyata tidak panjang. Eyang Thalib dan Eyang Tekek pun sudah kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Maka saya pun tak lagi menikmati instrumentalia tunggal ala Bu Warsini. Katanya sih ngamen dari warung ke warung di Sidoarjo. Dalam kota.

''Biasanya Bu Warsini main di dekat kantor pos,'' kata Pak Totok, pengasuh Napak Tilas JTV, yang juga pimpinan Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa. ''Beliau masih mau nguri uri budaya dengan melakukan pertunjukan musik keliling dari depot ke depot.''

Pak Totok sendiri korban lumpur Lapindo. Dua rumah warisan di Siring, tak jauh dari pusat semburan lumpur, sudah lama tenggelam. Kehidupan rumah tangganya dengan Mbak Hesti pun tidak mulus lagi. Maka perhatiannya terhadap seni budaya jauh berkurang.

''Sekarang ini seniman tradisi seperti Bu Warsini harus berjuang sendiri untuk bisa bertahan. Berat banget... tapi lumayan banyak orang yang mau nyumbang,'' kata Pak Totok.

Bagaimana dengan pemerintah daerah? Dinas pariwisata dan kebudayaan? Dewan kesenian? Rupanya tak banyak harapan. Seni budaya sepertinya diserahkan ke pasar. Tentu saja seni tradisi seperti musik siter ini tinggal menunggu ajal karena pemainnya sudah lanjut usia.

Itu pula yang terjadi dengan wayang wong atau ketoprak yang sudah lama hilang di Sidoarjo. Ludruk masih ada tapi sekarat. ''Mestinya ada pemihakan dari pemerintah. Sayang kalau sampai hilang,'' ujar Alfian mantan duta wisata.

Mas Nonot, pengurus Dewan Kesenian Jatim, yang tinggal di Taman Sidoarjo, menjawab pertanyaan saya tentang musik siternya Bu Warsini yang terancam punah. Begini isinya:

''Karena tidak ada regenerasi, di samping itu pengembangan seni tradisi tidak ditangani dengan benar. Seni tradisi hanya dianggap kelangenan bukan sebagai bagian dari jati diri budaya bangsa, maka jangan berharap akan lestari.''

Waduh....

Orang dewan kesenian pun pesimistis melihat seni tradisi yang kian meranggas. Bagaimana pula dengan masyakarat yang kian menjadi penikmat musik pop modern dan aneka hiburan di era digital? Sulit membayangkan seniman tradisi kayak Bu Warsini harus bersaing dengan Raisa, Rossa, Ayu Ting Ting, Agnes Monica....

No comments:

Post a Comment