30 July 2017

Stephen Tong gelar simfoni di Surabaya

Pendeta Dr Stephen Tong baru saja bikin konser di PTC Surabaya. Sayang, tidak ada berita atau ulasan tentang konser musik klasik Jakarta Simfonia Orchestra pimpinan Stephen Tong. Padahal konser semacam ini tergolong sangat langka di Surabaya.

Selain Stephen Tong, selama ini konser orkes simfoni hanya digelar Solomon Tong bersama Surabaya Symphony Orchestra (SSO) sejak akhir 1996. SSO rutin bikin konser tiga kali setahun: jelang Natal, Paskah, dan Kemerdekaan RI.

Adakah hubungan Stephen Tong dan Solomon Tong? Sangat dekat. Kakak adik kandung. Keduanya juga sama-sama fokus di gereja (Reformed) dan musik klasik. Tapi Pendeta Stephen Tong jauh lebih terkenal di kalangan umat Kristen, khususnya aliran Reformed. Stephen Tong bahkan sering dijuluki Johannes Calvin dari Indonesia.

Musikalitas bapa pendeta senior ini tak kalah dengan Solomon Tong, kakaknya. Bakat itu terlihat sejak anak-anak. Stephen bahkan bisa bermain piano-pianoan. Piano imajinasi karena ibunya belum bisa membeli piano beneran. Saat itu mereka baru hijrah dari Hokkian Tiongkok ke Surabaya.

Nah, ketika diberi piano beneran, Stephen Tong bisa memainkannya dengan baik. Begitu antara lain cerita yang saya ingat dari buku memoar Solomon Tong. Kebetulan saya jadi editor buku terbitan JP Book itu.

Maka, jangan heran kalau Stephen Tong yang pendeta kondang itu sering mengadakan konser klasik dari kota ke kota. Bulan Juli 2017 ada tujuh kota yang disinggahi: Semarang, Surabaya, Malang, Denpasar, Solo, Jogja, Bandung.

Tahun ini Pendeta Stephen mengangkat Simfoni No 2 Lobgesang karya Medelssohn sebagai sajian utama. Kakek yang juga penulis lagu-lagu liturgi Reformed ini mengandalkan Koor Besar Reformed Injili untuk membunyikan komposisi klasik dalam Grand Concert Tour 2017.

Ada pula menu lain dari Mozart, Beethoven, Strauss, Handel, Suppe dan beberapa lagi. ''Kita ingin menghidupkan musik klasik di Surabaya,'' ujar Pak Tong yang Stephen.

Baik Stephen maupun Solomon sama-sama idealis. Selalu ingin menampilkan orkes simfoni dengan standar tinggi. Jelas tidak akan bisa selevel Eropa atau Amerika. Tapi paling tidak konser klasik yang bisa diperhitungkan di tingkat Asia Tenggara.

''Sayang, kita tidak punya concert hall di Surabaya,'' ujar Tong yang Solomon, dirigen dan pendiri SSO.

Sejak awal 2000 Solomon Tong mengutarakan keinginan agar ada concert hall itu. Saya juga beberapa kali menulis ucapan Pak Tong di koran. Bahkan Pak Tong pernah ngomong langsung di depan Bambang DH, wali kota Surabaya saat itu. Tapi sampai sekarang belum ada wujudnya. Meskipun Bu Risma sudah menjawab dua periode.

Bagaimana konser Stephen Tong kemarin? ''Puji Tuhan... bagus. Orkestranya terlihat lebih siap dan sering latihan,'' ujar seorang kenalan yang doyan konser klasik.

Sayang banget, selain Stephen dan Solomon Tong, yang usianya dekat 80 tahun, belum ada dirigen orkes simfoni usia muda yang siap menerima tongkat estafet. Tongkat dirigen masih sulit lepas dari genggaman dua pendekar tua itu.

1 comment:

  1. Pak Lambertus, sebenarnya sudah ada penerusnya. Dari Gereja yang sama, namanya Pdt Billy Kristanto. Dia arek Porong, dulu sekolah di SMPK AC. Dia belajar musik dan teologi di Jerman, jadi selain fasih Bhs Indonesia dan Jawa Surabaya, dia lancar berbahasa Jerman dan Inggris. Coba google dan kalau ada kesempatan tolong profilkan dia.

    ReplyDelete