10 July 2017

Sekolah favorit itu perlu

Menteri P dan K Muhadjir Effendy bikin beberapa gebrakan yang bikin geger. Selain sekolah lima hari, full day school, yang terbaru penerimaan siswa baru sistem zonasi. Istilah lawas: rayonisasi.

Salah satu tujuannya adalah menghapus sekolah favorit. Semua sekolah negeri harus sama mutunya. Dus, tidak boleh ada lagi penumpukan siswa di beberapa SMA negeri. Kalau di Surabaya sekolah favorit itu namanya SMA kompleks. Kalau di Malang ya di Tugu Utara sebelahnya alun-alun bunder yang terkenal itu.

Dengan zonasi, maka anak-anak bisa sekolah dekat rumahnya. Anak pintar di Balongbendo tidak usah jauh-jauh sekolah di SMA Negeri 1 Sidoarjo yang di tengah kota. Sekitar 40 menit sampai 70 menit perjalanan pakai motor. Sebab SMA negeri di radius Balongbendo dibuat sama mutunya seperti SMAN 1.

Apa mungkin? Mungkin saja kalau dipaksakan pemerintah. Pakai skor desa kecamatan kabupaten segala. Sehingga anak yang nilai unasnya tinggi kalah bersaing dengan yang unasnya sedang tapi rumahnya dekat SMAN favorit (dulu).

Pagi ini, saya baca di salah satu koran tiga dosen sangat setuju zonasi. Bisa membongkar kasta pendidikan, kata seorang penerbit buku sekolah Intan Pariwara. Bagus karena tidak ada lagi murid cerdas menumpuk di satu sekolah, ujar dosen farmasi UII. Sekolah bisa dekat rumah, begitu pendapat mahasiswa STKIP di Ponorogo.

Hanya Pak Tito Adi dari Sidoarjo yang sedikit kontra. Doktor managemen yang juga pejabat di Dinas Pendidikan Sidoarjo ini menulis, kebijakan zonasi akan membatasi warga negara untuk memilih sekolah sesuai keinginannya. Siswa jadi cuma bersaing di tingkat kecamatan. Padahal sekarang ini kompetisinya sudah global. Antarnegara.

Sayang, dari semua artikel yang saya baca di koran dalam sebulan terakhir, tidak ada yang mengutip pakar-pakar pendidikan lawas yang kawakan seperti Pater Drost. Atau pakar-pakar pendidikan dari Eropa Amerika yang sudah lama menggeluti isu ini. Bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka.

Entah Pak Menteri yang dari Muhammadiyah itu pakai rujukan pakar pendidikan yang mana. Tampaknya kebijakan sekolah di dekat rumah ini ada kaitan dengan obsesi pendidikan karakter itu. Agar si anak cepat pulang ke rumah. Kumpul orangtuanya.

Memangnya orangtua sekarang selalu ada di rumah? Apa tidak kerja di pabrik, kantor dsb yang pulangnya malam?

Satu hal yang selalu saya ingat dari Pater Drost SJ: sadarlah bahwa anak itu punya bakat dan kemampuan berbeda. Ada yang sangat cepat menangkap pelajaran, tapi ada yang sedang, lambat, bahkan tidak akan bisa memahami hukum Ohm dsb.

Bahkan Drost sejak dulu bilang sebagian besar lulusan SMA di Indonesia itu sejatinya tidak mampu kuliah di universitas. Kalau mau kuliah beneran, menyerap konsep-konsep abstrak di universitas, orang harus dapat NEM minimal 80. Dan harus benar-benar murni. Tanpa rekayasa. Padahal dari dulu NEM rata-rata lulusan SMA di seluruh Indonesia di bawah 60.

Apa jadinya kalau anak yang unasnya di atas 90 dijadikan satu dengan yang 60 atau 70? Sulit dibayangkan. Anak cerdas pasti akan malas kalau pelajaran bolak balik diulang untuk mengakomodasi anak yang lambat belajar itu.

Karena itu, suka tidak suka, penerimaan siswa atau mahasiswa baru selalu menggunakan kriteria akademis alias otak. Otomatis anak-anak pintar berkumpul di sekolah tertentu. Seperti SMAN 3 Malang alias Bhawikarsa yang terkenal itu. Anak dari Lawang atau Kepanjen dari dulu pasti masuk SMAN 3 kalau NEM-nya tinggi.

Sebaliknya, anak yang rumahnya di Jalan Sultan Agung tidak bisa masuk SMAN 3 meskipun jaraknya cuma beberapa meter dari sekolah. Kalau pakai zonasi, anak dari Sultan Agung itu skornya pasti paling tinggi. Meskipun kalah NEM sama yang dari Kepanjen.

Karena itu, sekali lagi, sekolah favorit atau apa pun namanya tidak bisa dielakkan dalam pendidikan. Bahkan, setelah diterima di sekolah tertentu pun, ada lagi pembagian kelas atas dasar peringkat NEM. Sehingga anak-anak cerdas bakal dikumpulkan di satu kelas khusus.

Kastanisasi? Tidak. Ini memang bawaan dari sana. Klasifikasi ini untuk memudahkan pengajaran. Kecuali P dan K sudah menemukan metode pengajaran yang bisa mengangkat kemampuan anak medioker itu. Atau malah menurunkan standar anak yang IQ-nya tinggi itu.

Jangan lupa, di masa lalu, pemerintah Orde Baru justru membuat sekolah khusus untuk anak-anak super cerdas. SMA Taruna Nusantara bikinan Jenderal Benny Murdani itu. Beberapa tokoh lain juga mendirikan sekolah unggulan serupa.

Salahkah sekolah unggulan atau favorit itu?

Seorang Aji Santoso pemain bola asli Kepanjen pasti tidak akan sehebat yang kita kenal kalau tidak pindah ke Arema atau Persebaya. Kalau cuma bermain di tingkat kecamatan saja, ya mana bisa maju?

12 comments:

  1. Negara yang sistem pendidikannya paling bagus ialah negara2 Nordik (Laut Utara), yaitu Finlandia, Norwegia, Denmark, Swedia. Di Finlandia, tidak ada sekolah favorit. Semua sekolah sama. Kuncinya, mereka sangat menghargai profesi guru. Guru harus bergelar S2. Digaji tinggi seperti insinyur. Dan untuk menjadi guru sangat kompetitif. Di dalam kelas2 di Finlandia, murid yang sudah menguasai bahan, agar tidak bosan, disuruh mengajari murid yang belum menguasai. Kemudian mereka dikasih pekerjaan ekstra.

    https://en.wikipedia.org/wiki/Education_in_Finland
    http://news.bbc.co.uk/2/hi/programmes/world_news_america/8601207.stm

    Di negara2 ini, tekanan orangtua dan dari sekolah tidak gila seperti di Singapura, Korea, atau Cina. Toh, nilai yang dicapai oleh murid2 Finlandia sama tingginya dalam skala PISA.

    Keinginan bapak menteri ini dapat dipahami: demi keadilan. Tetapi, untuk membuat kebijakan harus didukung dengan infrastruktur dan investasi. Investasinya ialah pada sumber daya manusia, dalam hal ini pada gurunya. Selain itu, masyarakat Finlandia dan negara2 Laut Utara tsb menganut sistem sosialis (bukan komunis ya), yang berkomitmen memberikan kesempatan yang setara kepada semua anggota lapisan masyarakat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur nuwun cak...
      Informasi yg sangat menarik tentang sekolah bermutu rata ala finlandia. Saya jadi ingat Rod teman saya guru matematika di swiss yg tiap tahun bisa keliling dunia... karena gaji guru di sana lebih dari cukup.

      Bagus banget dan ideal kalo semua sekolah dibuat ciamik.

      Delete
    2. Sebenarnya anggaran NKRI utk pendidikan besar. Sy punya teman yg dulu bekerja di Tim Pengentasan Kemiskinan . Menurut dia masalahnya bukan anggaran, tetapi guru dan kepala Sekolah sejak reformasi menjadi jabatan politis di daerah2 otonomi. Anggaran tdk lagi melalui Kanwil Depdikbud ttp melalui Kantor bupati dulu. Akibatnya, bukan guru profesional yg ditunjuk ttp kroninya si bupati sbg hadiah atas dukungan politik waktu pemilihan. Tidak heran kalau guru sering membolos utk kerja sampingan sambil terima gaji buta. Sedangkan murid2 ditelantarkan dan menjadi bodoh. Jangan salahkan jika mereka nantinya mudah direkrut menjadi anggota khilafah. Penyelesaiannya mudah, tetapi political will tidak ada krn semua sibuk dan enak bancakan. Biasa kan, endonesa. Ini sudah banyak ditulis oleh Elizabeth Pisani seorang epidemiologis yg jatuh cinta dan Indonesia.

      Jika mau, sy bisa kenalkan dengan Dewi, teman saya yg ahli pendidikan lulusan Harvard dan juga seorang arsitek lulusan Berkeley. Dia arek Batu yg alumnus Kosayu / Hua Yin. Menarik utk diprofilkan.

      Delete
    3. Oow... Kosayu alias Huayin (orang Malang yg bukan tenglang biasa bilang Waing). Itu sekolah swasta favorit sejak dulu di Malang selain Dempo Albertus. Sampai sekarang pun masih banyak pejabat NTT yg menitipkan anak2nya di situ.

      Untungnya sekolah2 swasta tidak pakai zonasi. Siapa saja dan dari mana saja bisa diterima... pokoke iso mbayar!!! Dan belum ada larangan bagi lulusan sekolah2 di NTT untuk masuk SMA di Jawa Timur.

      Delete
    4. http://blogs.worldbank.org/publicsphere/kiat-guru-engaging-communities-improve-education-indonesia

      Ini lho inisiatif mbak Dewi untuk memperbaiki pendidikan di desa2 terpencil.

      Delete
    5. Ada masalah urbanisasi, ekonomi budaya dsb yg membuat daerah terpencil seperti itu.
      Akar permasalahannya: brain drain. Orang2 pandai dan berpendidikan tinggi dari daerah terpencil itu tidak pulang ke kampung asalnya tapi bekerja di kota2.

      Contoh: orang2 NTT (daerah terpencil yg miskin) banyak banget yg jadi dosen atau guru2 di jakarta surabaya jogja bali dsb. Romo2 asal flores banyak yg mengajar anak2 Tionghoa atau Jawa yg pintar2 di kota besar.

      Akhirnya... orang2 seperti Dewi ini yg mikirin pendidikan di daerah terpencil seperti NTT itu. Ojo lali, di masa lalu rektor UGM yg paling terkenal itu prof johannes asal pulau rote NTT.

      Program Indonesia Mengajar ala Anies Baswedan itu bagus tapi juga tidak efektif. Sebab sarjana2 yg belajar ngajar di pelosok itu kan cuma mirip KKN aja.

      Delete
  2. Oh ya... di indonesia orang hampir tidak bisa membedakan sosialis vs komunis. Komunis pun hanya dipahami sebagai ideologi yg ateis dan antiagama. Makanya isu sosialis komunis ini sangat laku utk menjegal lawan2 politik di pilkada pileg pilpres.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang membingungkan, krn negara2 yg dikuasai Partai Komunis seperti Cina,
      Kuba, dan Uni Soviet (dulunya) menggunakan kata Sosialis pada nama negara mereka.

      Beda utama antara seorang sosialis seperti Sutan Syahrir dan seorang komunis seperti DN Aidit ialah seorang Syahrir mencapai cita2nya melalui demokratis, lewat parlemen. Sedangkan Komunis menganggap lawannya (kapitalis dan borjuis) itu setan yg tdk layak hidup dan hrs dibasmi atau dibungkam. Komunis per definisi tersebut (seperti juga ISIS) merupakan ideologi fasis yg anti demokratis dan tidak toleran thd ideologi tandingan. Jika perlu gunakan kekerasan dan intimidasi untuk merebut kekuasaan.

      Di jaman moderen ini, ideologi Sosialis memperbolehkan kapitalisme sbg sarana memakmurkan rakyat tetapi diatur dan undang2 agar mencegah eksploitasi, dan mengenakan pajak yang tinggi (40-50%) untuk redistribusi kekayaan demi kepentingan mereka yang miskin atau tidak berdaya. Contohnya ya negara2 Eropa Barat.

      Delete
  3. Pak Lambertus, ini laporan yang sangat bagus tentang sistem pendidikan di Finlandia tsb.

    http://www.smithsonianmag.com/innovation/why-are-finlands-schools-successful-49859555/

    ReplyDelete
  4. Tulisan yg sangat menarik. Baik cara bercerita, jurnalistik narasi, hingga kutipan2 yg enak.
    Misalnya: “We prepare children to learn how to learn, not how to take a test.”
    Kebetulan kantor saya dempet sama bimbel (bimbingan belajar). Anak2 sekolah favorit pun sepertinya ketakutan dengan tes tes tes... sehingga ikut bimbel berjam2. Padahal, pelajarannya sudah super padat. Nggak ada waktu untuk bermain seperti di Finlandia itu.
    “Play is important at this age,” Rintola would later say. “We value play.”

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pak Lambertus yang budiman,

      Bimbel atau Bhs Inggrisnya Test Preparation (test prep, singkatnya) ialah jalan singkat yang ditempuh oleh orang2tua yang mampu, agar anak2nya tetap bisa bertahan di kelas menengah ke atas, baik di Cina, Indonesia, Korea, maupun Amerika, di suatu sistem yang kapitalis. Sistem ini sangat bagus untuk bidang teknologi, ritel, dll industri komersial yang memerlukan kekuatan pasar agar perusahaan bisa inovatif, tetapi sangat tidak bagus untuk barang2 yang seharusnya non-komersial (public goods, istilah ekonominya). Seperti: air bersih, udara bersih, akses ke informasi yang netral, jaminan kesehatan, pendidikan yang baik.

      Sistem Finlandia itu mematahkan bahwa masuk universitas ialah se-gala2nya. Corollary-nya, ialah bahwa belajar itu agar mendapatkan nilai bagus agar bisa masuk uni. Belajar itu agar anak didik bisa berpikir canggih, ga peduli mau jadi tukang atau insinyur, jadi mantri atau dokter, jadi sekretaris atau pengacara. Jika anak diajar berpikir, otomatis hasil test mereka akan bagus dengan sendirinya. Itu efek samping bukan tujuan utama. Saya kagum dengan filsafat pendidikan dasar dan menengah di Finlandia ini, tetapi tidak punya wewenang apapun untuk melakukan apa2, hehehe. Hanya membantu menyebarkan saja. Terima kasih sudah mengakomodasi gairah penyebaran dari saya.

      Delete
    2. Analis kelas yg sangat menarik... dan kelihatannya begitu. Ortu2 jadi sangat berkepentingan utk menjaga status quo kelas. Pengusaha2 bimbel jeli membaca peluang bisnis ini. Guru2 juga nyambi ngajar di bimbel.

      Tujuan utama: bisa lolos tes masuk sekolah negeri, universitas negeri... perguruan tinggi elite.

      Filsafat pendidikan Finlandia itu memang luar biasa. Gak cuma teori thok tapi benar2 diterapkan dalam praktis pendidikan di sana. Luar biasa.

      Alinea terakhir itu persis filsafat pendidikan dan pengajaran yg dulu gencar disuarakan oleh Pater Drost SJ dulu. Apalagi hasil ebtanas dan unas sejak dulu menunjukkan bahwa sebenarnya siswa yg lulus murni itu tidak sampai 20 persen. Beliau lebih menekankan pentingnya sekolah2 kejuruan alias pertukangan di bidang apa pun... plus politeknik2 yg orientasinya kerja profesional di semua bidang.

      Yang terjadi sekarang di Indonesia: lulus S1 terpaksa jadi pelayan toko, buka bengkel warkop atau pekerjaan2 yg sebetulnya tidak perlu pendidikan tinggi.

      Delete