30 July 2017

Membakar bambu penolak bala

Ada tontonan yang gak lucu di televisi nasional kemarin pagi. Acara keagamaan. Seorang pemuda 20an tahun di Sidoarjo, daerah Pepelegi Waru, kerasukan. Lalu, dibersihkan ilmu pegangannya itu oleh seorang guru (ustad).

Setelah dibaca doa-doa, diurut, dikasih makan bawang hitam, pemuda itu meronta-ronta. Ilmunya dikeluarkan sedikit demi sedikit dari tubuhnya. ''Tapi ada yang masih mengganjal,'' ujar sang guru.

Oh, ternyata ada sesuatu di halaman rumah. Tidak sulit mencarinya. Sebatang pohon bambu kuning yang rimbun. Rupanya, menurut guru, yang jadi salah satu pegangan remaja itu. Untuk tolak bala dan sebagainya. ''Ini yang harus dihilangkan,'' katanya.

Lalu, pohon bambu itu dicabut. Dicuci akarnya. Kondisi si pemuda mulai lebih baik. Tidak lagi kejang-kejang dan berteriak. Agar bambu itu tidak lagi mengikat pemuda itu... maka dibakar. Habislah bambu yang sebetulnya membuat indah pemandangan itu.

Sebagai penggemar bambu, saya sedih melihat tanaman yang juga disukai masyarakat Tionghoa itu dibakar. Apa salah si bambu? Siapa yang bilang bambu jadi penolak bala? Tempat bersarang ilmu hitam? Menjauhkan orang dari Tuhan?

Saya jadi ingat pohon-pohon besar yang dianggap keramat di desa-desa. Masyarakat turun-temurun menganggap pohon besar itu ada penunggunya. Makhluk halus, jin, atau apa pun namanya. Jika pohon itu dirusak atau ditebang, maka ada dampak negatif yang luar biasa. Kualat.

Begitu kepercayaan orang kampung tempo doeloe yang belum makan sekolah. Kemudian datanglah orang-orang muda terpelajar yang gandrung agama. Mereka menertawakan kepercayaan lama yang dianggap sirik dsb. ''Omong kosong itu. Itu pohon biasa. Tidak ada apa-apanya,'' kata orang modern yang rasional.

Lalu, pohon besar yang dikeramatkan turun-temurun itu ditebang. Memang tidak ada jin atau makhluk halus yang terlihat. Cuma batang, ranting, dan daun-daun yang rimbun. Tapi... tidak lama kemudian... mata air di kampung itu kering. Warga kesulitan air bersih.

Begitu kira-kira isi cerpen Dawam Rahardjo beberapa tahun lalu.

Mengapa bambu kuning dianggap punya kelebihan tolak bala? Mengapa pohon besar dianggap ada penunggunya? Mungkin ini yang dianggap kearifan lokal zaman dulu. Ketika ilmu hayat (biologi) belum berkembang. Ekologi belum dipelajari.

Nenek moyang dulu membuat cerita-cerita klenik, yang absurd, tentu ada maksudnya. Menciptakan pemali agar tidak ada orang yang menebang pohon-pohon sembarangan. Khususnya pohon-pohon besar yang akar-akarnya mengikat air tanah.

Sayang, kita yang hidup di zaman internet ini sering gagal paham dengan kearifan lokal.

3 comments:

  1. Ya begitulah, kaka. Orang2 modern yg beragama Nasrani atau Islam dengan mudah mentertawakan orang2 desa yang masih mempertahankan kepercayaan lokal turun temurun, yang sebenarnya menyiratkan suatu kearifan.

    Tetapi, ketika orang2 atheis ganti mentertawakan elemen2 dalam agama2 samawi tsb, kita tidak terima. Mereka mengkritik: "Roti dan anggur kok bisa berubah zat menjadi tubuh dan darah seseorang yg hidup dan mati 2017 tahun yang lalu"; "manusia kok bisa hidup di dalam perut ikan paus selama berhari-hari"; "dicari di fosil atau hutan manapun gak ada hewan yg bernama buraq yang bisa terbang dari Mekkah ke Yerusalem bolak balik dalam waktu semalam", dll. hal-hal yang tidak logis yang dituliskan di dalam kitab2 suci kita. Banyak di antara kita yang ngotot mempertahankan bahwa apa yang dituliskan itu benar2 terjadi.

    Padahal, seperti kearifan lokal itu, yang penting itu bukan apa yang tersurat, tetapi apa yang tersirat.

    ReplyDelete
  2. njih mas..
    dulu ada analisis bahwa semakin modern dan rasional, maka agama semakin terpinggir. lama2 meredup... dan padam. rupanya analisis itu lebih cocok di barat yg sekular.

    di negara berkembang macam indonesia justru terbalik. makin maju dan modern, jaman internet dan medsos, agama malah makin keras dan rigid. umat yg ultra konservatif ingin mempraktekkan hidup seperti ketika para nabi masih hidup. minggu lalu ramai di internet banyak orang menolak anaknya diimunisasi dsb.

    simbol2 agama juga makin menonjol di ruang publik. banyak sekolah negeri yang memaksakan semua murid pakai busana muslim meskipun anak itu nonmuslim. kalau tidak mau pakai hijab ya ditolak masuk negeri. padahal sekolah2 negeri itu dibiayai dengan uang rakyat seluruhnya. termasuk rakyat yg beragama hindu buddha kristen konghucu... etnis tionghoa dsb. pemahaman agama di kalangan PNS dan guru2 pun makin sempit dan rigid.

    ReplyDelete
  3. di NTT khususnya flores dan lembata juga banyak tempat keramat yg ada pohon2 besar. sangat rindang, teduh, kaya oksigen di alam yg panas. waktu saya SD tempat2 itu biasanya ditakuti anak2 yg memang belum punya penalaran bagus.

    saat saya pulang kampung, pohon2 itu tidak ada lagi. mati sendiri karena tua. maka terasa banget bedanya ketika ada pohon2 besar dan kasongan.

    ReplyDelete