14 July 2017

Pater John Lado SVD di Graha Wacana Ledug Pasuruan




Pria yang tinggal di kawasan Ledug, Pasuruan, ini tak pernah lepas dari kopiah. Koleksi kopiah alias songkoknya banyak. Mulai yang hitam biasa, putih, hingga motif tenun ikat ala NTT.

''Kopiah khas Flores sudah saya hadiahkan kepada seorang bapak kiai di dekat sini,'' ujarnya sambil tersenyum. Logatnya masih kental NTT, lebih khusus lagi Flores Timur, khususnya lagi Lembata.

Bapa Haji dari Flores nyasar ke kawasan Tretes yang sejuk?

Aha, bapa ini bukan haji. Bukan pula orang biasa. Dialah Pater Yohanes Lado SVD. Seorang pastor kongregasi Societas Verbi Divini alias SVD yang sehari-hari bertugas di Graha Wacana.. sebuah rumah retret milik kongregasi SVD.

Sudah 10 tahun Pater John, sapaan akrabnya, melayani Tuhan dengan menjadi pembimbing retret, rekoleksi, hingga konsultan keluarga. Graha Wacana ini memang sejak awal dibangun untuk pembinaan keluarga Katolik di Keuskupan Malang dan Keuskupan Surabaya.

Meskipun sudah banyak rumah retret, bukit doa, hingga camping ground milik Gereja Katolik, Protestan, Pentakosta, Karismatik hingga Advent bertebaran di Prigen, Trawas, Pacet, hingga Batu (semuanya hawa sejuk di bawah 23an derajat celcius), Graha Wacana yang diresmikan pada 24 Maret 2007 oleh Uskup Malang HJS Pandojoputro OCarm ini punya penggemar setia.

''Paling banyak dari Surabaya. Setiap akhir pekan selalu ada keluarga yang datang ke sini. Ada juga yang rombongan,'' ujar Pater John yang sudah bertugas di Graha Wacana sejak 2006.

Betul memang omongan romo berkopiah ini. Belum sampai lima menit ngobrol di depan ruang makan, tiba dua mobil plat L (Surabaya). Pater John langsung menyapa pelanggan tetapnya itu. Rupanya Graha Wacana sudah kayak tempat istirahat pribadi keluarga-keluarga Katolik itu.

Tidak sedikit juga yang bukan Katolik. Sebab keberadaan Graha Wacana sedikit banyak terkait erat dengan Retret Tulang Rusuk. Pembinaan pasutri yang sejak dulu digarap imam-imam SVD, khususnya Pater Jusuf Halim SVD. Begitu dahsyatnya retret ini (kesaksian para alumni) sehingga mereka ingin selalu bertemu. Kebetulan sebagian besar peserta Tulang Rusuk pengusaha-pengusaha Tionghoa kaya dari Surabaya, Malang, Jakarta, dan kota-kota lain di tanah air.

Mereka setiap tahun mengadakan pertemuan Tulang Rusuk di Graha Wacana Ledug ini. Ada pula umat yang adakan rekoleksi atau retret jelang Natal atau Paskah. ''Anda ke sini kebetulan lagi sepi. Cuma kunjungan beberapa keluarga untuk istirahat,'' ujar Pater John.

Wilayah Ledug ini masuk Paroki Pandaan. Sekitar 30 menit turunan pakai motor atau mobil. Umat Katolik biasa misa mingguan di paroki yang mulai setahunan ini dipegang romo-romo CM itu (sebelumnya dari zaman Belanda romo-romo Karmelit alias Ordo Carmel). Maka, umat Katolik di Pandaan juga bisa memanfaatkan Graha Wacana untuk berbagai kegiatan. Selain Griya Santo Vincentius (GSV) di Prigen.

Sebaliknya, umat Katolik juga bisa menumpang ekaristi Minggu pagi di Graha Wacana SVD Ledug. Misa biasanya dimulai pukul 07.00. ''Tapi kadang saya geser ke jam 8. Sesuai kebutuhan keluarga-keluarga yang retret di sini,'' kata Pater John.

Sayang, saya tidak bisa ngobrol lebih banyak dengan pater asal Desa Lerek, Lembata, ini. Sebab Pater John harus mendampingi para tamunya.

Lah, wong saya cuma nyelonong masuk karena kebetulan kesasar dan membaca tulisan Graha Wacana SVD di Ledug. Masuk di dalam pagar, suasananya berubah kayak kampung di NTT saja. Selain romonya dari Lembata dan Manggarai (Pater Elenterius Bon SVD), hampir semua pekerjanya pun orang Flores, khususnya Manggarai.

''Kalau umat Katolik di Sidoarjo atau Surabaya mau adakan kegiatan, silakan ke sini saja. Bisa tampung 800 sampai seribu orang,'' ujar seorang pekerja asal Manggarai yang saya lupa namanya.

Di perjalanan pulang, saya jadi teringat guyonan masa remaja di Flores Timur dulu. ''Di mana ada SVD, di situ ada orang Flores!''

Guyonan main-main ini ternyata terbukti di Ledug Pasuruan.

4 comments:

  1. Sangatlah menarik tentang songkok atau peci (dari bahasa Arab atau Turki "fez") dan hubungannya dengan identitas etnis, agama, dan nasionalisme. Di Malaysia, peci identik dengan Melayu, dan Melayu identik dengan Islam. Kalau bukan Melayu, jangan coba-coba memakai peci.

    Sedangkan di Indonesia, peci itu bagian dari pakaian nasional untuk lelaki. Ahok menjadi pejabat, memakai peci, walaupun Cina dan bukan Islam. Pastor dari Flores, memakai peci. Paskibraka, memakai peci, tidak peduli dari daerah mana pun dan apapun agamanya. Karena peci ialah simbol nasionalisme, bukan milik suatu agama atau etnis tertentu saja.

    Sama statusnya dengan Bahasa Melayu. Di Malaysia, ia milik bangsa Melayu dan agama Islam. Di Indonesia, ia menjadi bahasa persatuan dan simbol nasionalisme.

    ReplyDelete
  2. Betul Bung... selama ini pengalaman nyata dengan pater2 asal NTT, khususnya Flores, itu selalu saya jadikan senjata untuk argumentasi bahwa songkok atau kopiah itu bukan simbol agama tertentu. Banyak sekali pastor yg selalu pakai songkok. Bahkan Uskup Atambua Mgr Anton Pain Ratu SVD (juga asal Flores Timur) selalu pakai kopiah.

    ReplyDelete
  3. Bahasa Melayu di Malaysia ini bahasa ibunya orang Melayu yg mayoritas yg mengklaim sebagai bumiputra. Beda dengan bahasa Indonesia yg sejatinya cuma bahasa kedua ketiga keempat... lingua franca bagi sebagian besar orang Indonesia - kecuali orang Melayu di Sumatera.

    Karena itu, hampir semua orang Indonesia sebetulnya asing dengan bahasa Indonesia. Kita lahir diajari bahasa ibu (daerah), kemudian pelan2 belajar bahasa Indonesia di sekolah atau masyarakat yg multietnik. Makanya, banyak bule eropa amerika yg lebih lancar berbahasa Indonesia ketimbang orang Indonesia sendiri.

    Itu juga yg membuat bahasa Melayu sulit diterima orang Tionghoa dan India di Malaysia yg sama2 punya bahasa dan budaya yg sangat kuat. Apalagi porsi etnis Tionghoa dan India di Malaysia sangat banyak. Mereka tentu sulit menerima supremasi Melayu di atas etnis lain... meskipun secara politik harus takluk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Istilahnya di sana "Ketuanan Melayu".

      Delete