23 July 2017

Jokowi bakal jadi capres tunggal?

Begitu kecurigaan politisi Gerindra dan kawan-kawan. Fadli Zon pentolan Gerindra bahkan curiga presidential threshold 20 persen sengaja dipaksakan koalisi pemerintah (minus PAN) untuk menjegal Prabowo Subianto.

Namanya aja politisi, apalagi kelas Fadli, ada saja analisis ala teori konspirasi. Yang pasti, konfigurasi politik sekarang akan beda dengan 2014 ketika Jokowi duet seru dengan Prabowo. Pemilihan presiden paling panas dalam sejarah NKRI.

Seandainya koalisi pemerintah solid, kompak mencalonkan Jokowi, maka dukungan suaranya mencapai 71 persen. Sisa yang 30 persen masih bisalah untuk mengusung Prabowo. Biar bekas komandan Kopassus ini bisa bertarung lagi dengan Jokowi. Syaratnya : Demokrat yang cuma punya 10 persen mau gabung.

Maukah SBY memberi kendaraan politik untuk Prabowo? Namanya juga politik, selalu ada peluang. Tapi dari rekam jejak kedua jenderal tua ini sebenarnya SBY lebih dekat ke Jokowi. Hanya saja ada kerikuhan dengan Megawati bos PDI Perjuangan.

Bagaimana kalau Demokrat gandeng PAN (yang kelihatannya setengah hati di koalisi pemerintah)? Sangat mungkin. Bisa tambah suara dari PBB. Tapi kurang sedikit ke 20 persen.

Maka, kuncinya di PKS. Kalau PKS gabung Demokrat + PAN maka Gerindra sulit memajukan Prabowo ke pilpres. Karena itu, tidak heran Fadli Zon marah-marah dan menuduh ada skenario untuk menjegal Prabowo. Bahkan bisa-bisa hanya ada calon tunggal jika partai-partai-partai gagal membentuk koalisi untuk menghadapi sang juara bertahan Jokowi.

Skenario ini, yang menggunakan hasil pemilu 2014, bakal bubrah jika MK membatalkan ketentuan presidential threshold 20 itu. Kemungkinan itu sangat besar! Sehingga nanti semua partai perserta pemilu berhak mengajukan calon presiden. Termasuk Yusril IM yang partainya (PBB) hanya meraih 1,5 persen sehingga gagal masuk ke Senayan.

Sang raja dangdut Rhoma Irama, ketua Partai Idaman, pun bisa menjadi capres. Tidak perlu koalisi ketika presidential threshold nanti dijadikan nol persen oleh MK.

Apakah koalisi pemerintah bakal buyar jika MK memenangkan gugatan Yusril dkk? Belum tentu. Golkar yang pragmatis rupanya masih mendukung Jokowi (lewat statement) meskipun ketua umumnya jadi tersangka korupsi. PAN yang lihai besar kemungkinan keluar dari koalisi jika kadernya digandeng Prabowo.

Karena itu, penghapusan syarat minimal capres tidak serta-merta membuat partai-partai mengusung calon sendiri-sendiri. Tidak mungkin ada 15 capres. Hary Tanoe ketua Perindo pun besar kemungkinan berpikir ulang untuk maju capres meskipun didukung penuh begitu banyak medianya.

Jika presidential threshold dihapus, saya perkirakan tahun 2019 nanti paling banyak ada lima capres. Bahkan bisa mengerucut jadi tiga saja. Jokowi, Prabowo, dan Mr X. Siapa Mr X itu? Silakan tanya ke dukun.

5 comments:

  1. Jokowi sebenarnya tdk perlu bikin peraturan tsb. Memalukan krn tidak demokratis. Kentara banget permainannya.

    ReplyDelete
  2. politik memang forum untuk negosiasi kepentingan masyarakat yg diwakili partai2. tapi di atas semuanya harus ada idealisme untuk kepentingan bangsa dan negara dalam jangka panjang. pro bene publico.... istilah gerejanya. kalau cuma goreng pasal2 untuk kepentingan jangka pendek ya rusaklah tatanan bernegara. itu yang membuat indonesia seperti jalan di tempat meskipun sudah merdeka 72 tahun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Lambertus, di USA sekarang sedang ramai perdebatan Obamacare. Partai Republikan mau menghapus sistem jaminan kesehatan yg disahkan oleh pemerintah Obama thn 2009 dan berlaku penuh 2014. Alasannya, pemaksaan untuk masuk asuransi kesehatan itu bertentangan dengan asas hak individu. Dll.

      Tapi mereka tidak bisa menggolkan setelah berulang kali karena tidak mampu membuat alternatif RUU yang lebih baik daripada Obamacare atau yg juga dikenal dengan Affordable Care Act.

      Perdebatan2 di USA, terlepas dari kebobrokan Presiden yang sekarang (yang bodoh dan tak berkelas itu), masih terfokus pada isu2 yg menyangkut hajat hidup orang banyak. Sedangkan di Indonesia perdebatan2 dan manuver2 politik lebih untuk melanggengkan kekuasaan scr kasar, memperkaya / bagi-bagi kue anggaran untuk sendiri dan partai. Kualitas manusia pemimpin politik di Indonesia masih rendah.

      Delete
    2. pak trump itu presiden yg menarik. fenomenal. menghancurkan analisis ahli2 politik di seluruh dunia.

      pak trump juga membuktikan bahwa di alam demokrasi siapa pun bisa menang. meskipun tidak kompeten alias bodoh dan tak berkelas.

      Delete
  3. kalo pt nol persen, capres buanyaak, maka jokowi jauh lebih mudah menang. suara terbagi ke banyak calon. yg milih jokowi pasti lebih banyak lah.

    ReplyDelete