02 July 2017

Hongkong setelah 20 tahun merdeka

Agak aneh Presiden Tiongkok Xi Jinping baru kali pertama berkunjung ke Hongkong pekan lalu. Padahal Hongkong itu bagian dari RRT. Semacam salah satu provinsinya meski punya sistem yang berbeda.

Satu negara dua sistem! Itulah komitmen RRT ketika Hongkong dikembalikan ke RRT pada 1997. Tak terasa sudah 20 tahun berlalu. Hongkong tetap berjalan dengan sistemnya ala Inggris yang telah berjalan satu abad. Plus beberapa modifikasi sebagai konsekuensi jadi bagian dari negara komunis RRT itu.

''Hongkong selalu ada di hati saya,'' ujar Presiden Xi yang memang suka puisi dan istrinya penyanyi klasik Tiongkok papan atas Nyonya Peng Liyuan.

Apakah sistem Hongkong yang beda dengan Zhongguo tetap dipertahankan? Seperti biasa, Pak Xi tidak menjawab secara tegas. Cukup basa-basi ala diplomat. Katanya, sistem HK masih bisa dipertahankan paling tidak selama 50 tahun.

Setelah tahun 2047? Pak Xi hanya tersenyum. Tidak ada tanya jawab dengan wartawan.

Yang pasti, RRT tentu ingin punya kontrol penuh atas Hongkong. Konsep satu negara dua sistem itu hanya bersifat sementara. Tidak bisa seterusnya. Negara komunis yang punya satu partai saja pasti ingin 'satu negara satu sistem'. Mulai sistem politik, ekonomi, hukum, sosial budaya dsb. Termasuk bahasa.

Bukan apa-apa. Orang Hongkong lebih suka menggunakan bahasa Kanton ketimbang Putonghua alias Mandarin itu. Berkali-kali rakyat Hongkong unjuk rasa menolak apa yang mereka sebut pemaksaan bahasa Mandarin. Mereka lebih suka bahasa Kanton yang sudah berurat berakar. Mereka tidak suka bahasa elite ala orang utara itu.

Orang Hongkong juga tidak suka sistem transliterasi Hanyu Pinyin ala Beijing. Makanya pimpinan tertinggi Hongkong pakai nama CY Leung, bukan penulisan ala RRT.

''Kenapa kalian belajar bahasa Mandarin? Belajar bahasa Inggris saja lebih bagus,'' ujar Josephine seorang aktivis Gereja Katolik asal Hongkong saat berkunjung ke Surabaya beberapa waktu lalu.

Nah, khusus untuk yang Katolik ini ada persoalan yang jauh lebih serius. Yakni sikap Beijing yang sejak dulu tidak mengakui takhta suci di Vatikan. Pemerintah komunis RRT hanya mengakui gereja patriotik yang dikontrol penuh oleh kaki tangan rezim komunis itu. Makanya di Tiongkok ada dua macam gereja: Gereja bawah tanah (yang berafiliasi dengan Vatikan) dan gereja patriotik yang diakui pemerintah tapi berada di luar kontrol Sri Paus di Vatikan.

Apa jadinya Gereja Katolik di Hongkong kalau nanti Tiongkok tidak lagi memberlakukan satu negara dua sistem? ''Sulit dibayangkan,'' kata wanita Katolik asal Hongkong itu. ''Kita hanya bisa berdoa dan berusaha.''

3 comments:

  1. Baru dengar saya soal Beejing tidak mengakui Tahta Suci Vatikan. Lalu gereja bawah tanah itu aktivitasnya seperti apa ya? Apakah hanya Hongkong yang mengakui Tahta Suci?

    ReplyDelete
  2. Oh... sudah lama sejak Tiongkok jadi komunis tahun 1949. Bahkan sebelumnya rezim Beijing mengontrol semua kegiatan keagamaan di Tiongkok. Gereja Katolik (universal, Vatikan) yg paling menderita. Romo2 katolik tidak bisa masuk ke Tiongkok.
    Kalau Hongkong dan Taiwan sih bebas merdeka. Makanya dari dulu presiden Tiongkok (atau wakil pemerintahnya) tidak pernah hadir saat inaugurasi Paus di Vatikan. Presiden Taiwan justru paling semangat untuk hadir.
    Kebetulan saya beberapa kali ngobrol dengan romo2 yg tugas di Taiwan. Ada juga kawan saya yang jadi suster di Hongkong....

    Terima kasih atas komentar bung!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Om hurek, sekadar informasi tambahan, mantan pemimpin eksekutif Hong Kong, Donald Tsang, beragama Katolik. Wakil presiden Taiwan saat ini (Chen Chien-jen) juga orang Katolik.

      Sampai saat ini Tahta Suci hanya mengakui hubungan dengan Republic of China (Taiwan) dan tidak dengan PRC.

      Delete