20 July 2017

Anda ini wartawan atau tukang pos???

Ngobrol di gedung tua di Kembang Jepun dengan beberapa wartawan tua (emeritus) selalu menarik. Nostalgia para senior era 80an dan 90an ketika belum ada HP, internet, media sosial dsb. Namun para jurnalis lawas ini selalu bisa menemukan narasumber (pelaku, korban) yang rumahnya nyelempit di dalam gang.

Sekarang enak. Cukup googling... sudah dapat banyak informasi dan petunjuk. Motret juga bisa pakai HP. Gak perlu boros film yang mahal. Foto korban (semasa hidup) bisa cuplik di medsos. ''Dulu kita harus datang ke rumahnya. Itu belum tentu keluarga punya foto,'' kata Cak Sur anggota Cowas JP, komunitas wartawan lawas JP dan grupnya. 

Oh ya... Djowo W. Oesman, juga Cowas JP, pekan lalu baru menulis catatan tentang penugasan ke Lampung. Meliput gajah main bola. Penugasan langsung dari Pak Bos: Dahlan Iskan. Mantan redaktur plus guru saya ini menulis:

''Saya wartawan Jawa Pos 24 tahun. 
Dulu, wartawan Jawa Pos tidak bertanya lagi, setelah ditugasi. Tidak ada penolakan, tidak ada pertanyaan. Doktrin: Tugas... kerjakan...

Seandainya ada wartawan bertanya: "Nama orangnya siapa, pak?" atau "Alamatnya di mana?" 

Maka, Dahlan akan balik bertanya:

''ANDA INI WARTAWAN ATAU TUKANG POS? KALAU TUKANG POS MAKA SAYA BERI NAMA LENGKAP, ALAMAT LENGKAP, NOMOR TELEPON!!!''

Padahal, Dahlan juga tidak tahu nama dan alamat orang yang akan diwawancarai wartawan.

Prinsipnya: Wartawan jago mencari. Ibarat, sampai lubang semut pun, harus dapat. Meskipun sangat banyak lubang semut. Setelah ketemu lubangnya, tangkap seekor yang dicari. Idiiih.''

Hehehe.... Cak Djono yang asli Surabaya ini memang paling seru kalau menulis boks. Apa saja jadi enak di tangan DWO sapaannya. Apa lagi kalau menulis ditemani kopi dan rokok (minus bir hehe...).

Zaman memang sudah jauh berubah. Wartawan-wartawan sekarang punya kemudahan dan kemewahan yang tiada tara. Internet, google, media sosial sangat membantu kerja jurnalis di lapangan. Tapi ya itu... cerita petualangan ala DWO mencari pusat latihan gajah di Lampung itu tidak ada lagi.

''Pak, pabrik yang itu alamatnya di mana? Namanya apa? Sebelah barat atau timur jalan raya?'' Begitu pertanyaan khas wartawan tahun 2017.

Hemm... Saya jadi ingat omongan Bos Dahlan Iskan di era sepak bola gajah: ''Anda ini wartawan atau tukang pos?''

2 comments:

  1. Menjadi wartawan atau pekerja berbasis pengetahuan apapun di abad ke-21 ini hrs bisa melakukan riset. Mencari narasumber masih mudah. Setelah itu, mencari validasi data dr literatur atau narasumber lain, analisa data yang terkumpul, menjadikannya suatu artikel dengan aliran cerita yang mengalir, dengan ditambahi analogi dari ekosistem yg lain, atau dengan diberi suatu perspektif atau wawasan yang berbeda. Nah itu baru wartawan ciamik

    ReplyDelete
  2. Matur nuwun Cak..
    Komentar sampean termasuk ajaib karena naskah ini baru 2 klik. Langsung dikomentari... dan bagus banget. Itulah tantangan baru para reporter di era sekarang.

    Tapi prinsip dasar jurnalisme adalah VERIFIKASI akan tetap abadi kalau ingin reportasenya akurat dan dipercaya. Dan verifikasi yg paling sempurna adalah wawancara langsung... one on one. Tidak bisa main copas di medsos aja.

    Sekarang ini banyak media online tapi isinya hampir sama. Mengapa?karena main copas sambil ngopi di mall...

    ReplyDelete