19 June 2017

Sulitnya menyimak khotbah di gereja

Tidak gampang menyimak homili (alias khotbah) di gereja. Khususnya usia kita sudah tak muda lagi. Ketika usia romo lebih muda. Sebab bahan-bahan khotbah itu sudah kita kunyah sejak sekolah dasar.

Joke-joke pastor untuk bumbu khotbah pun hampir tidak ada yang baru. Guyonan lawas. Kita sudah hafal kelucuannya di mana. Maka, ketika banyak orang tertawa, saya hanya diam saja. Senyum sedikit lah.

''Mazmur itu seluruhnya ada berapa? Ada umat yang tahu,'' ujar Romo Stanislaus E. Beda CM dengan logat Flores Timur super kental.

''Ada 150 romo....,'' jawab seorang pelajar dengan suara keras.

''Bagus... ternyata ada juga umat Katolik yang paham kitab Mazmur,'' ujar romo kongregasi misi (CM) itu. Umat tertawa sejenak.

Setelah pater senior ini bicara tentang ekaristi. Sesuai topik Tubuh dan Darah Kristus. Isi homilinya sudah tak asing lagi bagi umat yang usianya di atas 30.

''Kita harus menjadi umat Katolik yang ekaristis,'' ujar pater masih dengan logat Lamaholot kental punya.

Maksudnya ekaristis? Saya sudah melamun ke mana-mana. Badan di dalam gereja, dengar homili, tapi otak berkeliaran tak menentu. Betapa sulitnya mengendalikan pikiran. Konsentrasi mendengarkan khotbah.

Tahu-tahu khotbah selesai. Misa dilanjutkan dengan Credo alias Aku Percaya.

''Maksudnya pater tentang umat yang ekaristis ya umat yang rajin ikut ekaristi. Aktif misa di gereja,'' begitu kesimpulan yang saya buat sendiri di warkop usai misa.

Apa benar begitu? Kapan-kapan saya tanya Pater Stanis, romo asal Flores, yang nyasar ke Pandaan Pasuruan, Keuskupan Malang.

Salam ekaristi.

1 comment:

  1. Ekaristi itu artinya roti dan anggur yang sudah berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Mengalami transformasi dari makanan biasa menjadi kurban untuk penebusan dosa. Mungkin begitu maksudnya: transformasi diri dari manusia biasa menjadi seperti Kristus.

    ReplyDelete