10 June 2017

Kangen Kampoeng Ilmu Surabaya

Sudah lama banget saya tidak mampir ke Kampoeng Ilmu. Pusat buku-buku lawas (plus) bajakan di Jalan Semarang, Surabaya. Padahal dulu hampir tiap minggu saya singgah untuk memburu buku-buku murah. Harganya lebih murah di bawah 50 persen ketimbang di Gramedia.

Suasana Kampoeng Ilmu tidak seramai 5 atau 6 tahun lalu. Pengunjungnya tidak sampai 20 orang. Itu pun lebih banyak yang nunut internet gratis. Tidak ada yang baca buku. Mungkin inilah tanda-tanda senjaningkala buku di negeri kita. Negeri yang masyarakatnya tidak sempat menjadi reading society, tapi langsung melompat ke media sosial dan internet.

''Turun banyak Bang. Sehari dapat 5 pembeli aja wis apik,'' kata gadis berjilbab di pojok. Dulu bisa 50 pembeli sehari.

Saya perhatikan cukup banyak buku baru, best seller, edisi miring. Alias kopian. Alias bajakan. Saya pun membeli 3 nobel. Satu karya Pramoedya dan 2 karya Eka Kurniawan. Tidak sampai IDR 100 ribu. Kalau di Gramedia bisa IDR 250.

''Titip Arus Balik dan Dunia Sophie,'' pesan Novita novelis asal Sedati Sidoarjo.

''Ada... tapi versi kopian. Gak apa-apa?'' jawab saya. Siapa tahu penulis buku ini benar-benar antibuku bajakan.

Hem... mau juga. Bagaimana kalau bukumu juga dibajak dan dijual di lapak-lapak itu? Gak sempat saya tanyakan. Hehe...

Semoga buku cetak masih diberi umur panjang! Tapi kalo gak ono sing moco yo piye...

No comments:

Post a Comment