22 June 2017

Doa BAPA KAMI yang sering dilupakan

Umat Katolik di seluruh dunia hari ini disuguhi bacaan tentang doa Bapa Kami. Pater Noster. Romo Kawulo. Our Father. Ama Kamen (bahasa Lamaholot, Flores Timur)....

Doa sederhana yang diajarkan untuk anak-anak TK, selain Salam Maria, Aku Percaya, Kemuliaan. Kalau tidak hafal Bapa Kami jangan harap ikut komuni pertama. Itu pernah dialami teman saya di pelosok NTT... dulu.

''Bapa kami yang ada di surga... saya sudah tobat,'' begitu doa Bapa Kami versi teman saya yang sangat sulit mengingat.

Sampai sekarang saya masih ingat teman masa kecil ini ketika umat Katolik mendaraskan (lebih sering dinyanyikan) Bapa Kami di gereja. Saya tidak sempat mengecek apakah kawan ini sudah hafal Bapak Kami setelah punya beberapa anak.

Yang pasti, umat Kristen (semua denominasi) sangat paham Bapa Kami. Bahkan tahu banyak lagu yang syairnya diambil dari doa yang diajarkan Yesus Kristus ini. Mulai yang gregorian (banyak versi), pentatonik Jawa, Tionghoa, Flores (versinya banyak), hingga versi keroncong dan karismatik.

Saya sendiri belakangan suka Bapa Kami versi KAJ (Keuskupan Agung Jakarta) yang hit di paroki-paroki seluruh Pulau Jawa itu. Dua nyanyian Bapa Kami ciptaan Pak Putut itu memang indah sekali melodinya. Dan tetap dalam pakem liturgi.

Beda dengan lagu Bapa Kami Filipina yang sudah lama tidak dipakai dalam misa karena iramanya mars. Katanya tidak cocok dengan kriteria liturgi. Padahal dulu Bapa Kami Filipina paling ngetop di Jawa. Sampai semua orang Katolik di Jawa hafal nomornya di Madah Bakti: 144.

Bacaan Injil pagi tentang Bapa Kami juga mengingatkan saya pada seorang ibu Tionghoa di kawasan Trawas Mojokerto. Ibu janda ini bangga banget dengan putrinya yang punya banyak prestasi di sekolah, fashion show, duta wisata, dsb.

Apa rahasianya Bu? ''Doa Bapa Kami. Tiap hari saya dan anak-anak saya selalu berdoa Bapa Kami,'' ujar ibu yang aktif di gereja aliran Pentakosta.

Wow... Saya pun manggut-manggut. Jadi malu karena saya tidak rutin berdoa Bapa Kami.

Pater noster
qui est in caelis...

5 comments:

  1. Doa ini sangat sederhana kelihatannya, tetapi sebenarnya sangat radikal, terutama kalimat:

    "Dimuliakanlah namaMu, datanglah KerajaanMu; jadilah kehendakMu DI ATAS BUMI seperti di dalam surga."

    Yesus mengajarkan dan mendoakan agar kehidupan manusia di bumi ini, pada saat ini (tidak menunggu saat mau mati), menurut peraturan Tuhan, bukannya peraturan Romawi yg opresif. Pengikut Yesus jangan hanya berbuat bagi dengan harapan hidup kekal di akhirat, tetapi berjuang menegakkan keadilan di atas bumi sekarang juga. Itulah sumber ajaran keadilan sosial Gereja Katolik untuk membela orang miskin dan tertindas, yang sering dilupakan oleh umat.

    Doa Bapa Kami itu bukan untuk pesugihan atau meminta kemuliaan atau penghargaan bagi diri atau keluarga sendiri, seperti ke Gunung Kawi. Yesus mengajarkan, kalau minta ke Tuhan itu hanyalah "our daily bread", rejeki yang cukup untuk makan saja. Bukan prestasi sekolah, atau menang show, atau jabatan. Salah kaprah.

    ReplyDelete
  2. Om Hurek, bagi saya DOA BAPA KAMI sebagai doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri memang betul2 doa yang paling indah dan mendalam dari segala doa yang pernah saya dengar.

    Kalimat "jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" dan "berilah kami rezeki / makanan secukupnya" itu menunjukkan bahwa kita gak perlu minta macam2 sama Tuhan dan jangan jadi orang yang serakah. Kita cuma minta "daily bread", bukan minta mobil Mercedes S Class, rumah 500 hektar, atau emas 25 karat.

    *Mengenai perbedaan arti "Daily Bread" (atau dalam terjemahan lamanya "Superstitious Bread") yang membuat beda versi doa antara Katolik dan Protestan, ini satu hal yang unik. Dalam bahasa Indonesia, doa versi Katolik ini mengartikan "bread" dengan "rezeki", sementara versi Protestan "makanan secukupnya". Tetapi justru agak beda dalam bahasa Batak, di mana orang Katolik menggunakan kata "sipanganon" (makanan), sementara Protestan memakai kata "hangoluan" (kehidupan, nafkah). Tapi esensinya sama saja, dan saya merasa gak ada yang aneh. Doa Bapa Kami dalam Alkitab LAI yang dipakai secara umum oleh umat Protestan pun tertulis di buku nyanyian Puji Syukur.

    Kemudian "ampunilah kesalahan kami, seperti kami mengampuni yang bersalah kepada kami" ini juga dalam sekali maknanya. Di sini inti ajaran Kristen. Tuhan tidak menyuruh kita membalas apa yang dilakukan oleh orang lain, tapi memaafkannya. Poin yang, maaf saja, rasanya tidak saya temui di agama lain dan membuat saya masih setia menjadi Kristen sampai detik ini, karena dalam agama ini saya menemukan Tuhan yang menyebut dirinya "Bapa" yang penuh kasih.

    Sayang sekali jika ada beberapa gereja, terutama yang selalu disebut oleh om hurek sebagai "aliran Haleluya", yang tidak memasukkan doa Bapa Kami dalam bagian "ibadah raya" mereka di hari Minggu.

    Ada om saya yang pernah ikut rombongan ziarah ke Yerusalem. Kebetulan penyelenggaranya dari "aliran Haleluya" (om saya sendiri orang GPIB). Berhari-hari dalam tour ini, om saya merasa ada yang kurang. Akhirnya di hari terakhir, om saya bilang ke pendeta "Pak pendeta, dari kemarin kayaknya kita belum berdoa Bapa Kami", dan akhirnya rangkaian peziarahan di Yerusalem ditutup dengan Doa Bapa Kami. Setelah diceritakan begini sama om saya, akhirnya orang tua saya yang mau ke Yerusalem pun harus berhati-hati memilih tour, harus dilihat siapa penyelenggaranya, dan dapatlah tour yang pendetanya dari GBKP (Gereja Batak Karo Protestan, serumpun sama GPIB dan GKI).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Nababan, entah mengapa dalam bhs Inggris tidak dibedakan di gereja Katolik maupun Protestan sama menggunakan "our daily bread". Bedanya hanyalah Ampunilah kesalahan kami, dlm versi Katolik menggunakan "trespass" yg artinya "pelanggaran", sedangkan versi Protestan menggunakan "debt" yg artinya "hutang". Pd jaman itu, banyak orang miskin yg terlibat hutang kpd tuan-tuan tanah. Krn itu mungkin Yesus mengajarkan kalau menjadi pengikutku hrs mau mengampuni hutang2 sesama termasuk orang miskin. Nah lu. Bisa nggak jadi pengikut Yesus yg menuruti doa Bapa Kami?

      Delete
    2. Kalau saya baca di Alkitab yang diterjemahkan lembaga2 Katolik, seperti "Alkitab Ende" atau "Kitab Suci Komunitas Kristiani", kata yang digunakan adalah "utang".

      Alkitab Ende: "Hapuskanlah utang kami seperti kami telah menghapus utang orang terhadap kami"

      KSKK: "Hapuskanlah utang-utang kami seperti kami pun menghapus utang orang kepada kami."

      Alkitab bahasa Inggris terjemahan Douay-Rheims (yang diterjemahkan oleh lembaga Katolik) juga menggunakan kata "debts". Begitu juga alkitab Latin (Vulgate) menggunakan kata "debita" (utang).

      Dan saya juga sudah cek di Alkitab dalam bahasa aslinya (Yunani Koine), kata "utang" atau "dosa" ini adalah terjemahan dari "ὀφειλήματα" (opheilema) yang secara harafiah artinya "utang".

      "Utang" atau "debt" di sini ya mengacu kepada dosa, bukan utang secara materi seperti utang panci ke Haji Anu atau utang makanan di warung Mbok Sum.

      Maka dari itu, Yesus hadir ke dunia untuk wafat dan bangkit, untuk "menebus" dosa manusia. Namanya utang kan harus ditebus. Seharusnya kita sendirilah yang menebus dosa kita, menurut tradisi Yahudi, dengan menyerahkan korban bakaran di mezbah. Tetapi Yesus merelakan diri-Nya sebagai korban penebusan dosa. Begitulah filosofinya. Jadi "debt" atau "utang" ini bukan soal materi.

      Delete
    3. Terima kasih atas penjelasan lanjutan. Jd "dosa" dalam ajaran Yesus yg masih mengikuti konsep Yahudi merupakan suatu "hutang" yg tidak cukup hanya minta maaf kpd yang disalahi, tetapi harus ditebus dengan suatu persembahan.

      Delete