28 May 2017

Tak ada Ahok di pilgub Jatim

Jawa Timur beda dengan Jakarta. Pilkada Jatim insyaallah aman dan kondusif. Ini disampaikan Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin di Surabaya.

Betul banget. Jatim memang bukan Jakarta. Dinamika politik yang luar biasa yang bikin gonjang ganjing republik ini dengan politik identitas, SARA, kami vs mereka, tidak akan terjadi di pilkada Jatim 2018. Sebab mustahil ada Ahok yang jadi calon gubernur Jatim.

Ahok di Jakarta benar-benar anomali. Sulit dibayangkan ada orang Tionghoa, Kristen, asal Belitung Timur, dijadikan cagub Jakarta. Bahkan sempat menang di putaran pertama. Dari sosiologi politik, kemunculan Ahok benar-benar kejutan di NKRI yang makin islamis itu.

Mungkinkah ada orang Nasrani atau nonmuslim yang jadi cagub Jatim? Rasanya hil yang mustahal.. meminjam istilah pelawak Asmuni Srimulat. Jangankan jadi cabup, berpikir ke sana aja gak pernah. Gak usah jauh-jauh ke pilgub, jadi anggota DPRD di Jatim saja sulitnya bukan main. Contoh: 100 persen anggota DPRD Sidoarjo beragama Islam.

Politik pilgub di Jatim identik dengan NU alias nahdliyin. Karena itu, yang paling sibuk dan banyak bicara tentang pilgub adalah kiai-kiai dan politisi nahdliyin. Sama-sama muslim tapi bukan nahdliyin ya sulit bersaing di pilgub. Biasanya politisi atau tokoh muslim yang bukan NU hanya bisa berharap jadi wakil gubernur. Itu kalau digandeng cabup yang nahdliyin.

Begitulah. Maka nama-nama yang mengerucut jelang pilgub Jatim hanya berputar-putar di lingkaran NU. Gus Ipul. Khofifah. Halim Iskandar. Ketiganya sama-sama santri dan politisi NU tulen.

Sampai saat ini tidak ada nama lain di luar NU yang muncul. PDI Perjuangan yang kursinya banyak pun kelihatannya tidak berani memunculkan nama. Mungkin trauma karena kalah telak di dua pilkada sebelumnya. Kita masih ingat Sutjipto (almarhum) dan Bambang DH tidak laku di pilkada yang lalu.

Kabar terakhir: kiai-kiai NU merekomendasikan Gus Ipul sebagai cagub dari PKB. Pak Halim ketua PKB Jatim yang sudah sosialisasi selama satu tahun pun pasrah. Bagaimana dengan Khofifah? Apakah akan maju lagi? Wong sudah kalah dua kali berturut-turut?

Bisa saja Khofifah maju lagi. Bersama partai-partai yang lain. Tapi ya itu tadi, kalau fatwa kiai-kiai sepuh sudah turun ya menteri sosial ini harus mikir panjang. ''Bu Khofifah itu cocoknya jadi menteri. Takdirnya bukan di gubernur,'' ujar warga yang biasa cangkrukan di warkop.

Bisa-bisa Gus Ipul bakal maju sendiri. Jadi calon tunggal.

2 comments:

  1. Bagus NU. Islam Nusantara, ga pernah meninggalkan jati diri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cocok... Gus Ipul dkk dari nahdliyin ini sudah makan garam. Komitmen keindonesiaan dan kebinekaan mereka tidak diragukan lagi.

      Delete