22 May 2017

Selamat Jalan Cak Leo Kristi




Mas tau Leo Kristi? Tidak.
Pernah lihat rekaman konser Leo Kristi di YouTube? Tidak.

Begitulah jawaban seorang pemusik muda, 20 tahun, saat ditanya Cak Amdo pelukis senior di Pondok Mutiara Sidoarjo kemarin. Berita kematian Leo Kristi seniman musik kelahiran Surabaya 8 Agustus 1949 baru tersebar di media massa dan media sosial. Orang-orang lama macam Amdo, Yunus, Bello, Heri kaget bukan kepalang.

''Gak nyangka Leo Kristi meninggal. Lah, bulan lalu dia baru mampir ke sini sama seorang wanita cantik,'' tutur Amdo dengan gaya yang humoris. ''Orangnya sehat dan kekar seperti olahragawan. Beda dengan saya yang ceking hehehe....''

Di tempat jujukan seniman itu kami berbagi cerita tentang Leo Kristi. Seniman musik yang punya gaya lain dari lain. Bikin Konser Rakyat dengan tema-tema khas petani, nelayan, wong cilik. Salah satu komposisinya yang terkenal adalah Salam dari Desa.

Musik Leo Kristi berbeda total dengan musik pop industri. Karena itu, sulit masuk televisi dan radio. Karena itu, tidak heran anak-anak muda di bawah 30 tahun mengenal seniman yang suka memakai topi, kaos hitam ketat, itu. Jangankan yang muda, orang-orang tua di atas 50 pun tak banyak yang punya apresiasi terhadap Leo Kristi.

''Musiknya sangat unik. Dia memposisikan diri sebagai corong wong cilik seperti nelayan dan petani,'' ujar Amdo Brada yang asli Surabaya dan punya kedekatan dengan almarhum.

Saya sendiri beberapa kali menyaksikan Konser Rakyat. Leo Kristi benar-benar bintang. Bermodal gitar bolong, vokal dengan tekstur yang tebal, Leo terus gelisah dalam syair dan melodi yang rancak. Teman-temannya musisi lain, penyanyi latar, hanya sekadar pendukung. Wanita-wanita muda itu cuma pemanis di panggung.

Karena itu, Leo Kristi sebetulnya tidak perlu siapa-siapa untuk Konser Rakyat. Cukup dia sendiri di atas panggung. Itu yang diperlihatkan saat pembukaan pasar seni lukis di Surabaya tahun lalu. Suaranya masih garang di usia jelang kepala tujuh. ''Leo itu seniman di luar mainstream. Bahkan anti mainstream,'' ujar Amdo teman akrab almarhum.

Suatu ketika hujan deras di kawasan Ngagel Surabaya. Saya menepi untuk berteduh. Eh... gak nyangka ada seorang laki-laki berkaos hitam dengan topi yang khas. Mas Leo Kristi? Apa kabar? Lho, kok di sini?

Benar-benar kejutan dan berkah. Saya bisa bertemu dan ngobrol santai dengan seniman pengelana itu. Ternyata Bung Leo ini biasa menggunakan kendaraan umum ke mana saja. Gak beda dengan rakyat jelata. Cocok dengan konser-konsernya yang selalu ia sebut konser rakyat.

''Naik angkot atau mobil mewah itu sama saja. Sama-sama sampai ke tempat tujuan,'' ujarnya seraya tersenyum ramah.

Kesempatan lain saya bertemu Leo Kristi di Taman Surya Surabaya. Kebetulan ada tiga seniman besar yang menerima penghargaan dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Leo Kristi, Slamet Abdul Sjukur, dan Tedja Suminar. Kami ngobrol santai, bahasa Suroboyoan, plus guyonan khas arek-arek yang lepas bebas.

Kini tiga seniman besar itu sudah sama-sama paripurna. Tugas mereka sudah rampung.

Selamat jalan Cak Leo Kristi!

3 comments:

  1. Beruntung Anda bisa sempat bertemu dan ngobrol dengan beliau.

    ReplyDelete
  2. Dulu kyaknya thn 90 an pernah kok masuk tv.tpi kyaknya kita kita ga terlalu ngeh dng musik beliau.ya maklum waktu itu kaum remaja lg di gempur dng musik dari luar negeri.

    ReplyDelete
  3. Ulasan Frankie Raden di majalah Tempo tentang alm Leo Kristi sangat bagus. Benar2 menggambarkan komitmen kerakyatan Leo Kristi sejak awal bermusik sampai tutup usia.

    Frankie menulis: dari segi estetika dan originalitas masih belum ada grup musik indie era sekarang yg mampu menyamainya. Semangat dan akar kerakyatan ala Leo tak tampak pada grup2 indie yg orientasinya musik2 urban.

    Leo dapat menjadi guru atau panutan yg luar biasa bagi pemusik muda... terutama pemusik indie.

    ReplyDelete