17 May 2017

Nyadran di Balongdowo

Menjelang bulan puasa, nelayan di Balongdowo Candi, Kabupaten Sidoarjo, mengadakan ritual nyandran. Atau ruwat desa. Nyadran tahun ini digelar pada Ahad pagi kemarin.

Saya pun datang ke lokasi karena kangen suasana nyadran yang (biasanya) sangat meriah. Biasanya ada puluhan perahu (di atas 50an) yang beriringan ke pantai Kepetingan di muara sungai perairan Selat Madura.

Sayang, kali ini cuma 25 perahu. Mungkin kurang sedikit. ''Dulu memang banyak perahu. Tapi beberapa tahun ini sebagian perahu dijual. Lah, anak-anak muda sekarang lebih suka kerja di pabrik ketimbang jadi nelayan,'' kata Bu Sanipah.

Ibu yang rumahnya dekat sungai ini dulu juga punya perahu. Tapi, karena itu tadi, suaminya sudah tua dan anaknya tak mau melanjutkan, ya dijuallah perahu itu. ''Padahal hasil kupang itu lumayan lho. Bisa mbangun omah,'' katanya.

Asyik juga ngobrol sama ibu-ibu nelayan Balongdowo. Kampung yang sejak dulu dikenal sebagai penghasil kupang dan petis di Sidoarjo. Kita jadi tahu banyak tentang dunia nelayan hingga pergeseran pilihan kerja anak-anak nelayan. Boleh dikata, sangat jarang ada anak cucu nelayan yang mau nyemplung ke laut setiap hari untuk mengambil kupang atau ikan.

Doa pelepasan rombongan ke makam Dewi Sekardadu di Kepetingan pun dibacakan seorang kiai. Lalu berangkatlah para nelayan untuk unjuk syukur sekaligus pengajian di makam ibunda Sunan Giri itu. Ada pula polisi air yang ikut mengawal peserta nyadran.

''Biasanya kalau mau coblosan atau pilkada ada pejabat yang ke sini. Sekarang kan nggak ada hajatan politik. Makanya nggak ada pejabat yang nongol,'' ujar seorang bapak seraya tersenyum.

No comments:

Post a Comment