09 May 2017

Mulut Ahok jadi harimau

Sudah jatuh diimpit tangga pula. Itulah yang dialami Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Sudah kalah telak di pilkada Jakarta... eh divonis 2 tahun penjara. Majelis hakim bahkan memerintahkan agar Ahok ditahan.

Sudah berbulan-bulan kita berdiskusi, debat, tentang ucapan Ahok di Pulau Seribu yang dianggap menodai agama Islam. Sudah banyak saksi ahli yang memberi keterangan di persidangan. Baik yang memberatkan dan meringankan. Sidangnya juga sangat lama dan panjang.

Akhirnya... palu hakim dijatuhkan. Ahok harus masuk penjara. Di tingkat banding hukumannya bisa ditambah, bisa kurang, bisa tetap. Yang pasti, Ahok punya banyak waktu untuk meditasi atau introspeksi di dalam penjara.

Jauh sebelum rame-rame unjuk rasa ribuan umat, saya sudah menulis bahwa Ahok telah melakukan blunder besar. Mulutnya jadi harimaunya. Gara-gara mulut besar yang tak terkontrol itulah, lawan-lawan politik beroleh peluang untuk melakukan serangan masif jelang pilkada.

Strategi serangan berbasis SARA itu sangat efektif. Masyarakat Jakarta boleh puas dengan kinerja Ahok tapi di bilik suara mereka justru memilih Anies. Suara Ahok cuma 40 persen. Sangat jauh dari tingkat kepuasan yang mencapai 70 persen.

Nasi sudah jadi bubur. Ahok kalah total. Masuk bui pula. Peluang untuk maju lagi di pilkada lain pun rasanya berat. Jokowi pun mungkin berpikir panjaaang jika harus mengangkat Ahok sebagai menteri dsb. Bisa-bisa didemo sejuta umat karena dianggap melindungi penista agama.

Puaskah para demonstran itu? Saya rasa belum. Mereka baru puas kalau Ahok dipenjara 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun. Tapi mungkin mereka bisa menerima karena toh Ahok sudah kalah di pemilihan gubernur DKI Jakarta. Bukankah itu motif utama gerakan mereka selama ini?

Terlalu banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kasus Ahok. Khususnya bagi kaum minoritas di Indonesia. Jangan ngawur kalau bicara tentang agama mayoritas. Diam itu emas. Lebih baik bicara tentang musik, kuliner, kesenian, pemandangan yang indah, wanita cantik, atau angin sepoi basa.

6 comments:

  1. Sebagai seorang pejabat yang non-muslim, Ahok melakukan blunder dengan mengkritik orang yang menggunakan ayat Al Quran untuk tidak memilih dia. Kalau dilihat secara logis obyektif, Pak Lambertus, dia tidak ngawur. Sangat logis ucapan dia itu. Krn di kalangan ulama sendiri, ayat tersebut masih diperdebatkan. Dia tidak menghina umat Islam, hanya mengingatkan jangan mau dibohongi oleh yang menggunakan ayat2 agama dengan maksud politik.

    Sementara seorang Brisik dengan senak udelnya mengatakan, "Allah kok punya anak", menyerang inti teologi Kristen tentang ketuhanan Yesus, tidak diapa-apakan.

    Tetapi, rakyat Indonesia masih banyak yang kurang pandai, mudah dimanipulasi dengan isu-isu agama. Yang di belakang demonstrasi dan penekanan terhadap pengadilan (trial by the mob) ini siapa? Yang ingin menang pilkada, kan? Tetapi, tahukah anda, siapa yang memerintahkan berkas pengadilan diproses dalam waktu 2 minggu sebelum pilkada? Wakil Presiden sendiri. Ternyata ada musuh Jokowi dalam selimut.

    Pelajaran yang bisa saya petik ialah: jangan terlalu berharap jauh lah, akan kemajuan negara Indonesia. Masih jauh. Jauh. Business as usual saja. Tetap korupsi, tetap pungli. Yang minoritas, kembali lah ke kampung, jauh dari Jakarta. Bangunlah kampung, agar suatu saat NKRI bubar, kampung kalian siap.

    ReplyDelete
  2. Ini memang permainan politik pilkada Jakarta aja. Omongan Ahok digoreng seperti ini, dijadikan tersangka, karena dia maju sebagai calon gubernur. Kalo dia gak maju ya pasti aman2 aja. Blunder omongan di Seribu itu yg dimanfaatkan lawan2 politiknya karena sulit berkompetisi secara sehat dan normal.

    Jurus silat politik SARA ini memang terbukti ampuh di Jakarta. Padahal jarene wong Jakarta itu pinter2 dan paling rasional di Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kita telaah kronologi Yesus di kitab2 Injil sinoptik, Yesus blusukan ke sana kemari sambil mengutuk petinggi agama dan pejabat kuil yang korup dan hipokrit. Mereka terus mencoba menjebak Yesus dengan berbagai cara: membayar pajak tidak kepada penjajah Romawi? menghukum mati tidak si wanita pendosa? bekerja tidak pada hari Sabbat? boleh makan barang sesembahan atau tidak? boleh bergaul tidak dengan "kafir" pegawai kerajaan Romawi seperti pemungut pajak? Jawaban2 Yesus selalu jujur, benar, dan menohok dengan telak. Skak mat terus. Yesus mengutamakan kemanusiaan drpd hukum tertulis.

      Sampai akhirnya dia melakukan blunder, mengobrak-abrik tempat pertukaran uang. Nah, ini dia kesalahan terbesar Yesus, karena menyangkut UUD (ujung-ujungnya duit). Mata pencarian pejabat kuil, ya dari situ, uang Romawi ditukar uang Yahudi untuk persembahan, ada komisinya dong. Ada markupnya. Kok diobrak-abrik, lha gua makan apa??!! Dibikinkanlah tuduhan dengan pasal penistaan agama. Dibawa ke pengadilan Pontius Pilatus. Pilatus bilang, dosa orang ini apa? Petinggi2 agama bawa massa ke Pilatus: awas elu kalo ga menghukum, kalo ribut elu yang tanggung ke Caesar.

      Pilatus: ya udah, gua vonis dah. Salib.

      Faham?

      Delete
  3. saya kime dari jurusan sastra indonesia unair. saya melihat tulisan anda di blogspot. dan saya tertarik untuk mengangkat wayang potehi menjadi obyek tugas akhir saya di perkuliahan. apakah saya boleh minta nomer tlp dan alamat dalang wayang potehi di surabaya?

    ditunggu balasannya kak :) G

    ReplyDelete
  4. Ahok for NTT bung.....sudah saatnya melayani umat sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow... keliru mas. Kalo sampeyan pernah baca beberapa artikel saya tentang politik NTT, preferensi SARA juga sangat kuat di NTT. Orang NTT itu yg dilihat pertama itu anda dari suku atau daerah mana, bukan agamamu apa. Biarpun sama2 protestan tapi satunya Sumba satunya Timor pasti dia mengutamakan sesama asalnya.

      Yang parah lagi adalah segregasi agama yg dilakukan penjajah Portugis dan Belanda. NTT bagian utara alias Flores dan sekitarnya Katolik vs NTT bagian selatan seperti Timor Sumba Sabu dsb yg protestan alias GMIT.

      Makanya Ahok tidak cocok maju di NTT yg masih primordial tradisional. Apalagi kalo kristennya bukan katolik or protestan tapi gereja2 haleluya alias karismatik pentakosta dan sejenisnya.

      NTT itu sangat unik dan ajaib Bung!

      Delete