23 May 2017

Mourinho merusak irama MU

Akankah MU memenangi Liga Eropa (Europa League)? Saya kok ragu. Sangat ragu. Bukan apa-apa. Penampilan MU jauh dari standar MU versi Alex Ferguson yang selama dua dekade kita nikmati. Sepeninggal Sir Alex, MU berubah menjadi klub yang biasa-biasa saja.

Lebih parah lagi ketika MU dilatih Jose Mourinho. Pelatih asal Portugis yang gaya permainannya sangat tidak menarik, menurut saya. Operan-operan bola sering meleset, pemain mudah kehilangan bola, dan sulit merebutnya kembali.

Karena itu, dulu saya pernah menulis di blog ini agar Mou dipecat dari Chelsea. Dan... betul Mou akhirnya dipecat. Setelah dipegang Conte, Chelsea langsung berubah menjadi tim yang dahsyat. Juara Liga Inggris musim ini. Dengan materi pemain yang sama versi Mourinho kecuali Kante di lini tengah.

Mou yang dipecat Chelsea kok malah direkrut untuk melatih MU? Yang filosofi bermainnya beda dengan Mou? Tentu manajemen United lebih paham. Mereka rupanya terpukau dengan rekor trofi yang dikoleksi Mou. Apalagi dia pernah pegang tim raksasa Real Madrid.

Tapi seperti dugaan saya, Mou is Mou. Gayanya yang bertahan, minim ball possession ditularkan di MU. Maka laga-laga MU tidak enak ditonton... menurut saya. MU juga sulit menang meskipun sulit kalah juga.

Mou membuat MU jadi raja seri di Liga Inggris. Ya sulit jadi juara. Jangankan juara, masuk empat besar saja susah. Musim ini MU cuma finish di posisi 6. Jelas jelek untuk tim sebesar MU.

Masih untung Mou berhasil membawa MU ke final Liga Eropa. Lawannya Ajax Amsterdam. Setahu saya, tim-tim Belanda jago passing dan bermain atraktif. Tidak melulu bertahan dan sesekali counter attack ala Mourinho.

Saya membayangkan di final nanti Ajax bisa mendikte MU dengan operan-operan pendek cepat untuk mengancam gawang De Gea. Sebaiknya pelatih-pelatih yang membuat sepak bola jadi menjemukan macam Mou ini tak lagi mendampingi tim-tim besar.

No comments:

Post a Comment