04 May 2017

Mengenang Romo Janssen CM (1922-2017)



Romo Prof. Dr. Paulus Henricus Janssen, CM, yang akrab disapa Romo Janssen, lahir di sebuah kota kecil di Belanda, Venlo, pada 29 Januari 1922. Beliau adalah putra dari pasangan Hubertus Janssen dan Maria Helena Fillot. Sejak awal tak ada cita-cita lain kecuali menjadi misionaris.

Tahun 1940 masuk biara CM (Kongregasi Misi) dan ditahbiskan menjadi imam pada 13 Juli 1947. Moto imamatnya adalah “Kamu adalah alat pilihan untuk-Ku, untuk membawa nama-Ku ke bangsa-bangsa. Dan Aku akan menunjukkan kepadamu betapa banyak engkau akan bersusah-payah demi nama-Ku”.
Romo Paulus Henricus Janssen CM adalah adik dari Romo Willem Paul Janssen yang telah dipanggil Tuhan.


Tepat satu bulan ditahbiskan, cita-citanya terpenuhi. Berlayar menuju China. Dua bulan ada di kapal dagang sampai akhirnya tiba di Shanghai. Tugas pertamanya bukan di Shanghai tapi di Nan Chang yang terletak di tengah-tengah China. Baru setengah tahun di Nan Chang beliau ditarik ke Kasim, kota di sebelah selatan Shanghai, untuk mengajar di Seminari. Kesan romo selama tugas di China adalah tersentuh oleh penderitaan dan kemelaratan manusia akibat perang, lebih-lebih selama musim dingin.

Saat itulah beliau melihat dari dekat, penderitaan yang dialami oleh anak-anak yang sakit, cacat, telantar di jalan, dibuang oleh keluarganya sendiri karena kesulitan ekonomi, dan tidak sedikit yang yatim piatu, karena perang.

Hal yang paling berat dialami Romo Janssen dalam tugasnya di lain benua namun dijalankan dengan tabah dan setia sebagai misionaris, adalah saat mendapat kabar ibunya wafat. Kesetiaan atas panggilan misinya, ditunjukkan dengan tidak sering pulang ke negara asal kelahirannya. Baru setelah 17 tahun di luar negeri, romo mengambil cuti dan melihat tanah air yang telah lama ditinggalkan.

Malapetaka karena perang belum berakhir, muncul prahara baru, serbuan komunis dari Utara. Kota Nan Chang pun mereka rebut. Terjadilah pertempuran antara pengikut Mao Zhedong dan Chiang Khai Sek. Keadaan hidup serba tidak menentu. Dan yang paling tragis adalah serbuan komunis membuat misionaris terjepit.

Tak ada pilihan lain, Internuntius memutuskan agar semua frater dan profesor (sebutan untuk para dosen) dipidahkan ke luar negeri. Maka seminari dipecah menjadi dua bagian, yang CM pindah ke Manila dan yang Projo pindah ke Italia. Akhir 1948, Romo Janssen bersama kira-kira 20 frater menuju ke Manila, Filipina.

Di Manila kongregasi CM memiliki 5 seminari, salah satunya adalah seminari Projo yang dipercayakan ke CM. Kesibukannya membina calon imam projo, tidak menyurutkan romo untuk melanjutkan studi. Romo Janssen melanjutkan studinya di Universitas Santo Thomas dan memperoleh gelar doktor dalam bidang theologi dengan disertasinya berjudul: "Katolisitas Gereja dalam Karya Santo Agustinus". Di universitas yang sama romo memperdalam bidang pendidikan, khususnya guidance, counseling dan psikologi.


Tahun 1950 Romo meninggalkan Filipina. Mau ke China tak mungkin karena dominasi politik komunis yang merajalela. Pilihannya untuk melanjutkan karya misinya di Chili, Amerika Latin ditolak oleh Provinsial. Tempat baru Romo Janssen adalah Indonesia.

Pada 1 Mei 1950 Romo Janssen tiba di Surabaya dan bertemu dengan Uskup. Terus terang kedatangannya ke Indonesia tak terlalu membuatnya gembira. Mengapa? Karena amat khawatir akan ditempatkan dibagian pendidikan, padahal kerinduannya adalah untuk menjadi misionaris. Uskup sempat bertanya: "Mau menjadi misionaris? Kalau begitu silakan ke Kediri."


Pada 5 Mei 1951 Romo sudah berada di Kediri. Ketika bertugas di Puhsarang, Romo sangat senang. Inilah tempat yang selama ini dicari. Stasi-stasi kecil dikunjunginya dengan naik sepeda. Pastor kepala waktu itu, Pastor E Mensvoort yang amat fasih berbahasa Jawa, menawarkan nasihat kepada Romo Jannsen, bagaimana mulai mengenal budaya Jawa. "Jangan mulai belajar bahasa Indonesia, mulailah belajar bahasa Jawa," demikian tawaran Romo E Mensvoort CM.

Kebahagiaan Romo dalam tugas semakin bertambah ketika menemukan suasana yang penuh dengan kelembutan, keramahan, keterbukaan, yang konon menjadi ciri khas orang Jawa. Tugas utama Romo Janssen adalah mencari orang-orang yang dulu sudah menjadi Katolik namun kemudian kurang mendapat perhatian. Bersama dengan Romo Wolters CM, Romo Janssen membangun daerah Puhsarang dan Gereja Puhsarang. Salah satu kegiatan rohani yang patut dicatat di Kediri ialah berdirinya Legio Maria pertama di Indonesia. Pendirinya tak lain adalah Romo Janssen.

Dalam melakukan pelayanan pastoralnya berkeliling ke daerah Gringging, Kalinanas, dan Kalibago, Romo Janssen menemui banyak sekali orang yang sakit TBC dan frambosia. Beliau juga banyak berjumpa dengan anak-anak cacat, miskin dan telantar. Hati Romo Janssen mulai tersentuh untuk menangani anak-anak cacat dan miskin itu. Menghadapi umatnya yang banyak mengidap penyakit TBC, Romo kadang juga harus bertindak sebagai "dokter". Obat-obatan beliau usahakan dengan mencari bantuan ke Surabaya.

Selain menjalankan tugas pastoralnya, Romo Janssen mulai giat mendirikan sekolah baik Taman Kanak Kanak Montesori, SD maupun SMP Don Bosco. Dasar pemikirannya adalah orang dapat terbantu melalui pendidikan yang diperolehnya. Untuk merekrut tenaga guru, beliau datang ke Jogjakarta. Selain itu beliau juga mendirikan kursus B1 Pendidikan (sebagai cikal bakal Perguruan Tinggi Pendidikan Guru, yang kemudian menjadi FKIP). Aktivitasnya mendirikan dan mengelola/menyelenggarakan lembaga pendidikan, tidak mengurangi perhatiannya pada anak-anak cacat, terlantar dan miskin.


Juli 1959, Romo Janssen hijrah ke Madiun. Di kota inilah Romo Janssen mendirikan ALMA (Akademi Lembaga Misionaris Awam), tepat pada peringatan 300 tahun wafatnya Vincensius a Paulo, yang jatuh pada 27 September 1960.

Pada 8 September 1963, di Jalan Wilis No 21 Madiun, 7 orang secara resmi mengikat diri seumur hidup untuk menjalankan karya dan pelayanan yang sesuai dengan nasihat Injil. Mereka adalah Ibu C Pariys D, Ismilah, Yustine Sumringah, Cecilia Suliyah, Modesta, Robutine dan Maria. Lembaga ini terus berkembang, sampai tahun 1997 tercatat 200 orang tergabung di komunitas ini.

Dalam perkembangannya, berdasarkan renungan pendiri ALMA, Romo Janssen, yang dijiwai oleh pandangan dasar Konsili Vatikan II (Romo Janssen sendiri hadir dan mengambil bagian dalam Konsili Vatikan II di Roma), bahwa tugas Gereja dalam dunia adalah tugas seluruh umat. Timbul gagasan pendiri untuk menjalankan tugas Kristiani dari dan dalam situasi yang konkret dunia.

Kader awam yang dimaksud adalah awam yang menyerahkan hidupnya untuk membawa umat kepada Kristus dalam situasi awam melalui karisma yang diberikan dan dikembangkan oleh mereka menurut panggilan masing-masing. Maka ALMA yang kita kenal sekarang adalah Asosiasi Lembaga Misionaris Awam (ALMA) yang tanggal lahirnya 8 September 1968.

Karya besar romo yang paling tak boleh kita lupakan adalah mendirikan Yayasan Bhakti Luhur di Madiun pada 5 Agustus 1959.

Perjalanan karya Romo Janssen berikutnya:

(1) Pada 26 Agustus 1967, Mgr. AEJ Albert OCarm secara resmi menerima ALMA sebagai Institut Sekulir dibawah yuridiksi Uskup Malang.
(2) Perkembangan selanjutnya adalah berdirinya ALMA Putra, yang banyak berkecimpung pada karya evangelisasi, pelayanan anak-anak cacat dan CBR (Community Based Rehabiltion). Romo Janssen tetap hadir sebagai pelindung sekaligus bapak rohani.

(3) 1973, Institut Pembangunan Masyarakat didirikan oleh Romo Janssen tahun 1969, menempati gedung di Galunggung, Malang.
(4) Menjadi guru besar di IKIP Malang.
(5) Mendirikan SMPS (Sekolah Menengah Pekerja Sosial) di Malang.
(6) 29 Juni 1968 mendirikan IPI (Institut Pastoral Indonesia), di Malang.
(7) Mendirikan Sekolah Evangelisasi Katolik di Malang.


Bahan: Buku Kenangan 50 Tahun Pesta Imamat Romo Paul Janssen

No comments:

Post a Comment