22 May 2017

Koran cuma jadi bungkus kacang

Akhir-akhir ini saya sering membawa koran dan majalah bekas (tidak tua
amat) ke kawasan Jolotundo di Trawas Mojokerto. Untuk bahan bacaan
anak-anak SD sampai SMA dan masyarakat desa yang biasa cangkrupan di
warung-warung kopi. Apalagi sinyal seluler nyaris tidak ada.

Saya titipkan bahan-bahan bacaan ini di dua warung langganan saya.
Sekadar mencontoh gerakan mendiang Bambang Haryaji pelukis senior
Sidoarjo sekitar tahun 2005 dan 2006. Gerakan literasi ini gagal
total. Siapa tahu saya agak berhasil.

Betapa kagetnya saya, pekan lalu, melihat koran-koran titipan saya itu
tersebar ke mana-mana. Dibaca orang? Dikliping anak-anak? Bukan.
Justru jadi tutup makanan di warung.

''Korannya sampean memang bagus untuk nutupi makanan biar gak
dihinggapi lalat. Warungnya kelihatan lebih bersih,'' ujar Mbak
Hasanah seraya tersenyum.

Mbak yang gemuk ini cerita kalau sebagian koran diambil si Liauw,
orang Tionghoa Sidoarjo yang minggat ke pegunungan Penanggungan di
Trawas. Sang mbak kelihatan tidak suka koran jatahnya dibawa Liauw.

Ngapain Koh Liauw bawa koran? ''Katanya buat dibaca,'' ujar Hasanah.

Wow, syukurlah, masih ada orang yang serius membaca berita-berita di
koran dan majalah. Justru di tengah era media sosial dan digital yang
kian menepikan surat kabar. ''Kalau naik lagi tolong bawa koran-koran
bekas ya. Di sini saya kehilangan informasi banyak,'' ujar Koh Liauw
serius.

''Jangan dikasihkan mbak Hasanah itu. Nanti cuma dibuat bungkus kacang
dan makanan,'' ujar si Tionghoa yang cerdas tapi agak stres itu. Stres
karena tekanan ekonomi dan keluarga di Sidoarjo.

''Percuma sampean bawa koran ke sini kalau tidak dibaca. Kalau cuma
untuk bungkus makanan kan bisa pakai daun pisang atau daun-daun yang
lain,'' ujar kenalan lama itu.

Benar juga si Liauw. Sebagai orang koran, saya tidak suka koran-koran
bekas dikilokan di pasar loak. Harganya terlalu murah. Bahkan tak
berharga sama sekali. Sebab yang dilihat cuma kertasnya. Bukan huruf,
kata, dan gambar yang tercetak di kertas putih pucat itu.

Karena itu, saya lebih suka menyumbangkan koran-koran bekas kepada
kenalan. Syukur-syukur dibaca. Bukan dikilokan atau dibuat bungkus
kacang rebus. Tapi... begitu sulitnya menemukan orang-orang yang mau
membaca koran gratisan.

Zaman memang berubah total. Dulu, ketika masih SD di pelosok NTT, kami
berebut membaca koran dua mingguan Dian dan majalah bulanan anak-anak
Kunang-Kunang terbitan SVD Ende Flores. Satu koran dikeroyok rame-rame
5 sampai 10 orang. Padahal berita-beritanya sudah basi satu dua bulan
lalu.

Majalah, koran, buku atau apa saja dilahap anak-anak desa yang belum
kenal peradaban listrik atau televisi. Majalah Katolik Hidup yang
bekas pun jadi rebutan. Koran-koran bekas dari Malaysia pun dibaca
rame-rame.

Rupanya era digital yang bermula awal 2000 mengubah kebiasaan membaca
rakyat kita. Koran-koran cuma dijadikan bungkus makanan di
warung-warung. Masih untung ada Liauw, 30an tahun, yang lapar
informasi dari koran.

Koran koran koraaaan....

No comments:

Post a Comment