23 May 2017

Ahok memilih jadi lilin

Kalau banding, kemungkinan besar hukuman Ahok diperberat. Bisa 5 tahun, bisa 10 tahun, bisa lebih. Terserah hakim yang dianggap wakil Tuhan. Karena itu, bisa dipahami mengapa Ahok dan keluarganya memilih untuk menerima vonis 2 tahun itu.

''Kami ingin masalah ini selesai sampai di sini,'' ujar Bu Tan istri Ahok kalau gak salah ingat.

Ahok rupanya seorang negarawan sejati. Dia memilih menjalani hukuman dua tahun meskipun para pendukungnya tidak terima dengan vonis yang tidak adil ini. Ahok memikirkan nasib rakyat Jakarta (dan Indonesia) yang butuh suasana kondusif untuk bekerja dan membangun.

Seandainya proses banding tetap berlaku, maka aksi ribuan orang untuk mendukung Ahok akan terus terjadi. Lilin-lilin akan dinyalakan di mana-mana. Bagus untuk pedagang lilin tapi masyarakat akan menuai kemacetan lalu lintas.

Sebaliknya, aksi pro Ahok bakal dibalas dengan demonstrasi sejuta umat setiap Jumat siang. Perang kata-kata kasar pasti tidak akan berhenti. Caci maki, ujaran kebencian, saling hujat... jalan terus. Sampai keluar putusan final dari MA yang makan waktu satu sampai dua tahun.

Maka, kasihan gubernur Anies dan wakilnya yang baru menjabat. Polarisasi pilkada tetap ada, bahkan makin memanas. Situasi itu tidak bagus bagi Anies dan Sandi untuk membangun Jakarta Raya.

Kita yang tinggal di luar Jakarta pun jengah dengan situasi ini. Isu SARA bisa menjalar ke mana-mana.

Nah, Ahok rupanya sengaja memilih menjadi lilin. Yang sengaja membakar dirinya sendiri agar ada secercah terang di tengah kegelapan. Pelan-pelan lilin itu akan hilang di belantara politik nasional yang tidak asyik ini.

Dua tahun bukan waktu yang singkat. Tapi juga tidak terlalu lama... dibandingkan terpidana 20 tahun atau seumur hidup. Selama menjalani masa pemurnian di penjara, lama-lama orang Jakarta jadi lupa sama Ahok.

Apalagi kalau Gubernur Anies ternyata memang lebih hebat ketimbang Ahok. Ini menjadi tantangan berat bagi Anies-Sandi untuk mewujudkan janji-janji manis kampanye kemarin.

1 comment:

  1. dia memang pernah salah ujar di atmosfer kepentingan korup-kuasa-sentimen agama yang makin kuat sebagai efek "bersih-bersih" yang dibutuhkan rakyat. Tapi yang ia lakukan kemudian menunjukkan kualitasnya sebagai orang yang konsisten dengan apa yang ia katakan berulang....

    ReplyDelete