22 May 2017

Ahok ngalah tapi ora kalah



Basuki Tjahaja Purnama jelas bukan orang Jawa. Tapi kelihatannya gubernur DKI Jakarta (nonaktif) ini mulai melakoni coro Jowo. Yakni dengan mencabut bandingnya. Alias menerima vonis 2 tahun penjara. Alias putusan PN Jakarta Utara beberapa lalu berkekuatan hukum tetap (in kracht).

Mengapa Ahok yang biasanya ngotot, menggebu-gebu, kini melunak? Rasanya tak ada yang membayangkan Ahok sepasrah ini. "Pertimbangan keluarga. Istri Pak Ahok dan keluarga besarnya sudah punya pertimbangan matang," kata pengacara Ahok.

Wow... Ahok kelihatannya sudah patah arang. Mungkin juga dia sudah punya firasat kalau hukumannya bakal ditambah (jadi 5 tahun) di pengadilan tinggi. Bisa diperbanyak tahunnya di MA.

Yah, mendingan terima saja dua tahun. Toh, biasanya masa hukuman tidak dijalani full dua tahun. Biasanya cuma dua pertiga setelah dapat remisi macam-macam. Bisa jadi hanya satu tahun di penjara.

Orang Jawa bilang "Wani Ngalah Luhur Wekasane" atau "Andhap Asor, Wani Ngalah Luhur Wekasane". Artinya, siapa yang mau ngalah bakal menang pada akhirnya. Apalagi kalau Ahok dipenjara karena direkayasa oleh lawan-lawan politik agar jagonya menang pilkada DKI Jakarta.

"Ngalah itu bukan berarti kalah," kata Pak Bambang, budayawan senior Sidoarjo.

Mudah-mudahan Ahok bisa memanfaatkan waktu dua tahunnya di dalam penjara untuk refleksi. Baca buku. Menimba banyak ilmu sesama warga binaan (nama resmi penghuni lembaga pemasyarakatan).

1 comment:

  1. Ahok benar-benar konsisten dalam berpolitik. Dalam sejarah nanti, Ahok akan dikenang sebagai pejabat pejuang antikorupsi pertama yang dipenjarakan oleh karena sikapnya yang antikorupsi. Setelah Ahok dipenjarakan, gerakan Pejabat Anti Korupsi dari Ahok akan menjadi gerakan moral yang viral dan membuat rakyat Indonesia mati2an menuntut pejabat yang berkualitas tinggi dan bermental bersih.

    ReplyDelete