15 April 2017

Wartawan tua menulis sampek matek

Minggu lalu saya bertemu beberapa wartawan emeritus di sebuah warkop di Surabaya. Badan boleh tua tapi semangat masih muda. Mereka juga tetap mengikuti isu-isu mutakhir di Indonesia: sosial politik ekonomi budaya olahraga digital dsb.

Topik Persebaya yang kembali berlaga di kompetisi resmi setelah dimatikan oleh PSSI selama lima tahun juga dibahas. Bapak-bapak pensiunan wartawan ini juga masih konsisten ngebul asap rokok.

"Wartawan itu tidak kenal pensiun. Tidak ada yang namanya wartawan emeritus," ujar seorang mantan redaktur mengoreksi istilah wartawan emeritus karangan saya.

"Pensiun kalau sudah mati," tambah yang lain.

Lalu, para emeritus ini memperlihatkan tulisan-tulisan mereka di internet. Wow... rupanya mereka punya laman khusus (website) untuk menulis opini, analisis, hingga reportase. Tulisan-tulisan mereka terasa gurih dan enak karena tidak dikejar deadline.

"Menulis sampek matek...," ujar wartawan lawas lantas tertawa.

Semua orang di warkop ikut tertawa ngakak. "Kalau saya mati, insyaallah teman-teman yang masih hidup menulis obituari untuk mengenang saya. Begitu seterusnya."

Hehe... iso ae Cak!

No comments:

Post a Comment