09 April 2017

Perarakan Minggu Palem di Salib Suci Sidoarjo

Tidak terasa hari ini sudah masuk pekan suci. Pagi buta saya sudah meluncur ke Gereja Salib Suci, Tropodo Waru Sidoarjo. Niat misa minggu palem sesi pertama. Pukul 05.00 sudah sampai di gereja.

Kok sepi? Cuma ada empat lima orang di halaman. Parkiran masih kosong. Misanya jam berapa? Biasanya misa pertama jam 5.30. Hem... pasti ada perubahan jadwal misa untuk pekan suci. Saya yang tidak tahu karena selama ini lebih sering misa di Wonokromo atau Sidoarjo.

''Nggak tau Mas jadwalnya,'' ujar seorang bapak di warkop dekat Gereja Katolik Salib Suci. Dia memang bukan Katolik sehingga tidak punya urusan dengan jadwal misa, pekan suci, kamis putih, jumat agung dsb. Urusannya cuma jualan kopi, nasi bungkus, cemilan dsb.

Maka saya pun berjalan ke halaman gereja. Ketemu seorang ibu yang ramah. ''Misa Minggu Palem mulai jam 7.00. Kumpulnya di sekolahan Santo Yosef,'' ujar ibu asal Jakarta yang tunggal di sini sejak 1972.

Saya dikasih lihat jadwal pekan suci. ''Kamu motret aja biar gak lupa.'' Kami pun ngobrol ngalor ngidul untuk membunuh waktu. Sebab masih ada waktu hampir dua jam.

Lalu saya pamit ke warkop untuk cangkrukan sambil ngopi bersama beberapa polisi yang bertugas menjaga keamanan gereja. Ada juga tiga pria muslim warga perumahan yang sering kebanjiran itu. Temanya sepak bola. Mas yang gemuk itu pinter banget menganalisis sepak bola Spanyol, khususnya Barcelona.

Ngobrol di warkop itu memang membuat menit demi menit berlalu begitu cepat. Umat makin banyak membawa daun palem. Rupanya sudah diumumkan jauh hari. Saya tidak bawa karena biasa minta di halaman gereja. Siapa tahu kali ini ada tersisa daun yang bagus.

Jam 06.00 lebih sedikit saya cabut dari warkop. Jalan kaki ke sekolahan yang jaraknya lumayan jauh. Sekitar 600an meter atau hampir satu kilometer. Melewati jalan perumahan yang kiri kanannya ramai pedagang kaki lima.

Wow, luar biasa Paroki Salib Suci! Selama bertahun-tahun tinggal di Surabaya dan Sidoarjo baru kali ini saya mengikuti prosesi minggu palem yang jauh dari gereja. Biasanya cuma di halaman thok. Bahkan lebih sering tidak ada perarakan melambai-lambaikan daun palem sambil bernyanyi Hosanna, Anak-Anak Ibrani, dan sebagainya.

Beda dengan di kampung saya di NTT, waktu saya kecil, perarakan jalan kaki ini bisa tujuh sampai delapan km dari kampung A ke kampung B. Maka saya bersyukur bisa ikut perayaan ekaristi minggu palem di Salib Suci Waru. ''Kami dari dulu memang biasa perarakan dari sekolahan ke gereja,'' ujar Pak Heri salah satu tokoh umat Katolik kepada saya.

Saya pun kagum dengan tata liturgi paroki ini, khususnya minggu palem (orang kampung di Flores menyebut minggu daun-daun), yang mirip di NTT yang mayoritas kristiani. Di tengah mayoritas muslim, umat Katolik di Wisma Tropodo ini 'berani' tampil berliturgi di luar kompleks gereja.
''Paroki Salib Suci ini parokinya romo-romo SVD. Jadi, liturginya sangat diperhatikan,'' kata Pak Heri yang Tionghoa itu. Asal tahu saja, Paroki Salib Suci Sidoarjo (hampir) selalu juara lomba paduan suara di Keuskupan Surabaya. Mereka juga paling jago membawakan lagu-lagu gregorian yang mengalir lembut itu.

Misa dipimpin Pater Servas Dange SVD, pastor asal Flores, yang dua tahun lalu merayakan pesta perak imamat. Beliau didampingi romo asal Flores juga. Saya lupa namanya. Ada juga frater asal Batak yang ikut membantu. Plus banyak suster karena di Wisma Tropodo ini memang ada biara susteran.

Setelah homili tentang Yesus masuk Kota Yerusalem: mengalami keledai, mengapa betina... perarakan pun dimulai. Umat mengangkat daun palma sambil berjalan ke gereja. Menyanyi Terpuji Raja Kristus (PS 552) selama perarakan. Lagunya cuma satu ini. Beda dengan di Flores yang lagunya banyak, ditambah doa Bapa Kami dan Salam Maria, karena jaraknya sangat jauh.

Bagaikan karnaval, perarakan minggu palem ini jadi tontonan warga setempat. Mungkin mereka heran ada apa kok orang Katolik jalan kaki sambil mengangkat daun-daun palma. Sayang, tidak ada atraksi yang ciamik seperti sandiwara Yesus naik keledai (bisa diganti kuda) atau visualisasi kitab suci.

Polos-polos aja tapi sangat berkesan bagi saya yang sudah sangat lama tidak mengikuti adegan ini di Jatim. Oh ya, saya juga berterima kasih kepada seorang suster kongregasi ALMA yang memberi saya sehelai daun palem yang bagus.

No comments:

Post a Comment