13 April 2017

Ketika pedagang warkop lupa ingatan

Pagi ini ada sedikit ganjalan di warkop. Masalahnya boleh dibilang sepele tapi bisa juga serius. Sangat serius malah. Pemuda 20an tahun penjaga warkop itu rupanya punya penyakit lupa yang serius.

Setelah ngopi, baca koran Jawa Pos (hampir semua warkop di Surabaya dan Sidoarjo langganan Jawa Pos), nunut internet gratis, saya mau melanjutkan perjalanan. Sudah bayar kopi plus dua roti goreng. Total tak sampai Rp 10 ribu.

Eh, adik kurus itu ngotot bilang saya belum bayar. Aneh. Duit yang tadi dia terima itu memangnya daun? Malah kembaliannya saya masukkan ke kotak amal. Sia-sia saya meyakinkan anak itu. Dia telanjur menuduh saya belum bayar.

Hehe... Saya hanya geleng-geleng lalu membayar lagi. Pemuda itu masih belum ingat kalau tadi menerima duit recehan dari tangan saya. Apa boleh buat, saya bayar lagi.

Masalahnya sih bukan rupiah yang tidak seberapa itu. Tapi memori di kepalanya yang rusak itu bisa menimpa pengunjung yang lain. Sebab warkop-warkop embongan tentu tidak pakai kuitansi, struk dsb. Cukup saling percaya.

Di jalan, sambil nggowes sepeda tua, saya berpikir betapa gawatnya manusia yang memorinya rusak. Apalagi manusia itu pedagang, pemberi utangan dan sejenisnya. Akan banyak masalah kalau duitnya bukan recehan tapi jutaan.

Syukurlah, di Sidoarjo ini masih ada banyak orang yang memorinya sangat sehat. Contohnya Fu Xiansheng, pengusaha di kawasan Juanda Sidoarjo. Saking percayanya dengan orang media, yang sudah lama kenal, Pak Fu tidak mau pakai kuitansi meskipun transaksi iklannya jutaan rupiah.

'Gak usah kuitansi-kuitansian... yang penting kita saling percaya,' ujar Pak Fu.

Mengingat ucapan Pak Fu, saya jadi lupa dengan anak muda di warkop tadi.

No comments:

Post a Comment