11 April 2017

Kampung Pecinan tertua sebelum Majapahit

Salah satu bangunan cagar budaya yang selalu menarik perhatian saya adalah Raos Pecinan. Ada juga yang bilang Pecinan Raos. Lokasinya dekat Kejapanan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Tepatnya di Desa Carat, Kecamatan Gempol. Tidak jauh dari Sungai Porong yang memisahkan Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Sidoarjo.

Saya beberapa kali mampir ke situs sejarah ini. Sayang, kondisinya kurang terpelihara - sama dengan situs-situs lain di Jawa Timur. Lebih parah lagi, akses ke Raos Pecinan pun susahnya bukan main. Harus menyusuri jalan setapak di kebun tebu yang luas.

Hampir semua pemerintah daerah memang kurang memperhatikan cagar budaya di daerahnya. Padahal Raos Pecinan dan situs-situs lain macam candi peninggalan Majapahit bisa dikembangkan sebagai objek wisata. Sayang, kita orang masih menelantarkan begitu banyak situs atau petilasan yang bernilai sejarah itu.

Nah, setiap kali ke Raos Pecinan, saya selalu bertanya apakah situs ini ada kaitan dengan pecinan? Semacam kampung Tionghoa (China Town) atau punya jejak dengan Tiongkok di masa lalu? Apakah penduduknya ada yang keturunan Tionghoa?

Sayang, pertanyaan ini tidak berjawab di Raos Pecinan. Sebab kita sulit menemukan warga setempat untuk dimintai informasi meskipun cuma sepotong. Juru peliharanya pun kebetulan tidak ada di tempat saat tiga kali saya datang ke sana.

'Di kampung ini tidak ada keturunan Cinanya. Semua penduduk di Raos Pecinan ini pribumi (orang Jawa),' kata seorang bapak.

Kok namanya Raos Pecinan? 'Mungkin cuma nama aja. Bisa juga karena tempo doeloe pernah jadi tempat pertempuran tentara Mongol yang dikirik dari China,' kata bapak itu mengutip pendapat umum yang berkembang selama ini.

Saya kemudian mencari informasi di internet tentang Raos Pecinan. Tapi tidak banyak menolong. Bongkar beberapa buku pun tidak dapat jawaban. Malah mbah Google merujuk ke sebuah artikel yang sudah lama saya tulis di blog saya sendiri. Hehe... asem tenan! Sejak itu saya hanya membatin setiap kali melintas di papan penunjuk ke Raos Pecinan ketika turun dari Trawas atau Jolotundo.

Akhirnya, seperti kata pepatah barat lama, waktu jugalah yang menjawab. Pertanyaan saya 10 tahun lalu baru terjawab 10 April 2017 di rumah Bapak Gatot Hartoyo, peminat sejarah yang baru dua pekan lalu merilis 4 buku tentang peradaban Gunung Pemanggungan, petirtaan Jolotundo, hingga sejarah Kabupaten Sidoarjo dan Kerajaan Jenggolo (cikal bakal Sidoarjo sekarang).

Pak Gatot sempat membahas Raos Pecinan di Dusun Pecinan Raos, Desa Carat, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Situs itu punya sepasang Dwarapala atau dua patung raksasa sebagai pintu gerbang. Kira-kira di situlah bibir Sungai Porong jaman biyen yang konon lebarnya satu sampai tiga kilometer. Tahun 2017 ini lebar Sungai Porong kurang dari 100 meter.

Mengutip Negara Kertagama, Gatot Hartoyo menulis: '... bangsa Cina Mongol pada 1 Maret 1293 mendirikan perkampungan di tepi Sungai Brantas (Kali Porong). Tepatnya di Dusun Pecinan Raos, sekarang masuk Desa Carat wilayah Kecamatan Gempol, berbatasan (berseberangan sungai) dengan Dusun Macanmati, Desa Kebonagung, Kecamatan Porong Sidoarjo. Perkampungan pecinan ini melebar hingga Jembatan Porong-Gempol sekarang.'

Gatot menambahkan: 'Kelompok masyarakat Cina Mongol ini berasal dari kesatuan pasukan Tartar di bawah komandan Sih Pi, Kau Tsing, dan Ike Masse atas perintah Kaisar Khublai Khan.

Yang juga menarik, seperti ditulis Mpu Prapanca dalam buku Negara Kertagama, perkampungan China di tepi Sungai Brantas itu sudah ada sebelum pasukan Tartar datang. 'Jadi, perkampungan Cina di Dusun Pecinan Raos itu sudah terbentuk sejak zaman Kerajaan Kahuripan pada awal-awal bandar Hujung Galuh dibangun,' tulis Gatot Hartoyo dalam bukunya yang berjudul Lembah Hilir Delta Sungai Brantas Kahuripan - Sejarah Sidoarjo.

Masih mengutip Negara Kertagama, Gatot mengungkapkan fakta sejarah yang sangat menarik: 'Kunjungan masyarakat Cina dari perkampungan Cina di Raos Pecinan ke Terik pada saat Sanggrama Wijaya mendirikan Desa Majapahit.'

Disebutkan pula dalam sejarah Dinasti Yuan bahwa pada bulan April 1293 Raden Wijaya mengirim utusan ke masyarakat Cina di perkampungan Cina di tepi Kali Porong itu.

Jarak antara Terik (Majapahit) dengan perkampungan Tionghoa itu relatif dekat. Sekitar 5 sampai 7 kilometer. 'Dari Pecinan Raos ke Desa Majapahit itulah bandar dagang sungai Hujung Galuh,' tegas Gatot dalam percakapan dengan saya di rumah panggungnya di Dusun Biting, Desa Seloliman, Trawas, Mojokerto.

Catatan sejarah ini kian membuktikan bahwa kehadiran orang Tionghoa di Nusantara sebenarnya jauh lebih tua ketimbang Kerajaan Majapahit yang berdiri pada 1293. Komunitas Tionghoa di tepi Sungai Porong ini jelas berbeda dengan para pendatang baru dari negeri Tiongkok pada zaman penjajahan Belanda.

Kalau Belanda sengaja membuat pecinan untuk memisahkan (segregasi) komunitas Tionghoa dengan pribumi, menurut Gatot, komunitas Tionghoa di Pecinan Raos ini justru memilih hidup sebagai pribumi. 'Artinya, hidup dengan kebiasaan, tradisi, adat istiadat masyarakat Jawa di sekitarnya,' ujar Gatot.

'Mereka tidak ada kontak apa pun dengan warga etnis Cina yang datang berikutnya. Mereka merasa sebagai pribumi asli.... Warga Pecinan Raos (sekarang) memang hampir 100 persen persis tipe Jawa pada umumnya. Namun samar-samar masih terpancar (Tionghoa) walau hanya 5 persen,' tulis Gatot Hartoyo di bukunya yang lain, Gunung Penanggungan Awal Peradaban dan Menyimpan Teknologi Leluhur.

1 comment:

  1. Menarik. Bisa dites dna penduduk setempat

    ReplyDelete