13 April 2017

Andrew Weintraub teliti musik pop lawas



Andrew Weintraub datang lagi ke tanah air. Kemarin profesor musik dari University of Pittsburg USA ini menghubungi saya. Minta diajak nonton pertunjukan dangdut koplo?

Aha, rupanya tahun 2017 sang professor plontos ini sudah pindah jalur ke pop lawas. 'Apa kamu punya kontak dengan penyanyi-penyanyi-penyanyi 60an dan 70an?' tanya orang Amrik yang lebih fasih bahasa Indonesia ketimbang sebagian orang Indonesia itu.

Hem... jelas beliau mau bikin riset musik pop lama. Pertanyaan-pertanyaan Andrew (dia tidak suka embel-embel prof, doktor, mister, bapak dsb) memang selalu ada maunya. Bukan pertanyaan orang pinggir jalan. Dan dia pasti sudah punya data dan menyimak musik-musik yang akan dia bedah tuntas.

Cukup sulit menyebut nama-nama penyanyi dan pemusik tempo dulu di Surabaya yang masih hidup. Kalau yang era 60an pasti sudah sangat tua. Mungkin di atas 70 tahun. Contohnya Hari Noerdy yang pensiunan hakim. Ida Laila juga artis 60an tapi aliran dangdut.

Oh, ada bu Susy drummer Dara Puspita tinggal di Gedangan Sidoarjo. 'Tapi Dara Puspita sudah banyak yang teliti,' kata Andrew yang punya band Dangdut Cowboy di USA itu.

Lalu saya sebut beberapa nama artis 70an. Ervinna yang sejak 90an lebih sibuk di gereja. Pemilik ratusan album itu bahkan ketua Bunda Kudus Keuskupan Surabaya. Kemudian Sunatha Tanjung gitaris AKA yang juga menghabiskan masa tuanya di gereja aliran karismatik.

Ada juga Ira Puspita yang populer dengan lagu Mama, aku ada tanya... Ada pula Surabaya All Stars kelompok jazz sang maestro mendiang Bubi Chen. 'Ada lagi?' tanya Andrew. Ya, saya sebut beberapa lagi artis sepuh itu.

Dugaan saya memang tidak keliru. Setelah menerbitkan buku Dangdut Stories, kemudian koplo, saat ini Andrew sibuk menggali pop Indonesia di bawah 1970. Masa ketika industri musik masih sederhana. Bahkan belum bisa disebut industri. Kaset masih awal-awal, musik direkam di piringan hitam atau LP.

Andrew juga sempat diundang ke UGM Jogja untuk membahas musik pop Indonesia. Perserta seminar tentu bertanya juga tentang dangdut dan koplo yang sangat ia kuasai. Maklum, Andrew mendalami musik Indonesia sejak 1985 di Bandung. Dia punya data yang lengkap tentang dangdut... dan sulit dilawan peneliti dalam negeri. 

Mana ada profesor doktor kita yang bahas dangdut?

'Saya belum baca kajian Anda tentang koplo,' kata saya. 

Besoknya Prof Andrew Weintraub sudah mengirim buku kajian koplo versi pdf. Detail banget. Sejak dulu saya puji Andrew karena selalu blusukan langsung untuk wawancara dengan sumber pertama di lokasi. Nonton pertunjukan dangdut, ikut joget, nyawer dsb. Beda dengan peneliti-peneliti kita yang bahan-bahan lapangannya sangat mentah karena kurang fulus.

Sayang, Andrew tidak bisa berlama-lama di Surabaya. Sang profesor sudah punya banyak agenda untuk keliling menemui para seniman pop Indonesia tempo doeloe untuk kepentingan risetnya. Kita tunggu buku terbarunya.

 Buku yang benar-benar buku. Bukan kumpulan artikel pendek seperti buku-buku di Indonesia sejak era reformasi.

No comments:

Post a Comment