18 April 2017

Akhirnya dapat lagu-lagu seriosa di YouTube

Luar biasa era digital ini. Beberapa menit lalu saya mengunduh 20 lagu seriosa Indonesia di warkop perbatasan Surabaya-Sidoarjo. Gratis. Cukup bayar kopi segelas plus pisang goreng dua biji. Internet free.

Ada 15 lagu seriosa lama yang dibawakan Christopher Abimanyu, tenor terbaik yang dipunyai Indonesia. Cintaku Jauh di Pulau, Wanita, Bintang Sejuta, Embun.... Sebagian nomor seriosa ini saya hafal karena memang sangat populer di tanah air.

Sekitar 10 tahun saya mencari album seriosa bung Abimanyu ini di Surabaya, Malang, Sidoarjo, tapi tidak ketemu. Saya juga sempat kontak langsung Abimanyu yang beberapa kali saya tulis kiprahnya di surat kabar dan blog.

'Coba hubungi manajemen saya karena CD-nya terbatas,' kata penyanyi yang beberapa kali juara bintang radio dan televisi jenis seriosa itu. Saking seringnya juara, Abimanyu dilarang ikut lomba nyanyi yang pernah sangat populer di Indonesia itu. Belakangan Abimanyu sering jadi juri atau kasih master class teknik vokal klasik di berbagai kota.

Nah, ternyata manajemen pun tidak bisa membantu. Saya pun melupakan album itu. Cari di YouTube cuma ada 4 lagu Abimanyu yang diunggah (upload). Maklum, tidak banyak peminat seriosa di Indonesia.

Baru pagi tadi saya iseng mengetik seriosa Indonesia di YouTube. Wow... lagu-lagu Christopher Abimanyu yang saya inginkan itu muncul semua. Lengkap dengan foto Inne Lopulisa pianis yang mengiringi Abimanyu. Eureka.....

YouTube memang menjawab hampir semua pertanyaan saya tentang musik. Asal ada orang yang mengunggah lagu atau video ke YouTube maka seisi dunia bisa menikmatinya. Tidak perlu capek-capek ke toko CD/VCD yang hampir pasti tidak punya stok lagu-lagu seriosa ala Christopher Abimanyu.

Namun, saya juga prihatin dengan para musisi macam Christopher Abimanyu ini. Sebab kerja kerasnya tidak mendapat insentif alias uang. Beda kalau kita membeli kaset atau CD di toko yang resmi.

Mudah-mudahan ke depan ada solusi yang menguntungkan para musisi di era digital yang serba bebas dan mudah ini.

15 April 2017

Wartawan tua menulis sampek matek

Minggu lalu saya bertemu beberapa wartawan emeritus di sebuah warkop di Surabaya. Badan boleh tua tapi semangat masih muda. Mereka juga tetap mengikuti isu-isu mutakhir di Indonesia: sosial politik ekonomi budaya olahraga digital dsb.

Topik Persebaya yang kembali berlaga di kompetisi resmi setelah dimatikan oleh PSSI selama lima tahun juga dibahas. Bapak-bapak pensiunan wartawan ini juga masih konsisten ngebul asap rokok.

"Wartawan itu tidak kenal pensiun. Tidak ada yang namanya wartawan emeritus," ujar seorang mantan redaktur mengoreksi istilah wartawan emeritus karangan saya.

"Pensiun kalau sudah mati," tambah yang lain.

Lalu, para emeritus ini memperlihatkan tulisan-tulisan mereka di internet. Wow... rupanya mereka punya laman khusus (website) untuk menulis opini, analisis, hingga reportase. Tulisan-tulisan mereka terasa gurih dan enak karena tidak dikejar deadline.

"Menulis sampek matek...," ujar wartawan lawas lantas tertawa.

Semua orang di warkop ikut tertawa ngakak. "Kalau saya mati, insyaallah teman-teman yang masih hidup menulis obituari untuk mengenang saya. Begitu seterusnya."

Hehe... iso ae Cak!

13 April 2017

Ketika pedagang warkop lupa ingatan

Pagi ini ada sedikit ganjalan di warkop. Masalahnya boleh dibilang sepele tapi bisa juga serius. Sangat serius malah. Pemuda 20an tahun penjaga warkop itu rupanya punya penyakit lupa yang serius.

Setelah ngopi, baca koran Jawa Pos (hampir semua warkop di Surabaya dan Sidoarjo langganan Jawa Pos), nunut internet gratis, saya mau melanjutkan perjalanan. Sudah bayar kopi plus dua roti goreng. Total tak sampai Rp 10 ribu.

Eh, adik kurus itu ngotot bilang saya belum bayar. Aneh. Duit yang tadi dia terima itu memangnya daun? Malah kembaliannya saya masukkan ke kotak amal. Sia-sia saya meyakinkan anak itu. Dia telanjur menuduh saya belum bayar.

Hehe... Saya hanya geleng-geleng lalu membayar lagi. Pemuda itu masih belum ingat kalau tadi menerima duit recehan dari tangan saya. Apa boleh buat, saya bayar lagi.

Masalahnya sih bukan rupiah yang tidak seberapa itu. Tapi memori di kepalanya yang rusak itu bisa menimpa pengunjung yang lain. Sebab warkop-warkop embongan tentu tidak pakai kuitansi, struk dsb. Cukup saling percaya.

Di jalan, sambil nggowes sepeda tua, saya berpikir betapa gawatnya manusia yang memorinya rusak. Apalagi manusia itu pedagang, pemberi utangan dan sejenisnya. Akan banyak masalah kalau duitnya bukan recehan tapi jutaan.

Syukurlah, di Sidoarjo ini masih ada banyak orang yang memorinya sangat sehat. Contohnya Fu Xiansheng, pengusaha di kawasan Juanda Sidoarjo. Saking percayanya dengan orang media, yang sudah lama kenal, Pak Fu tidak mau pakai kuitansi meskipun transaksi iklannya jutaan rupiah.

'Gak usah kuitansi-kuitansian... yang penting kita saling percaya,' ujar Pak Fu.

Mengingat ucapan Pak Fu, saya jadi lupa dengan anak muda di warkop tadi.

Andrew Weintraub teliti musik pop lawas



Andrew Weintraub datang lagi ke tanah air. Kemarin profesor musik dari University of Pittsburg USA ini menghubungi saya. Minta diajak nonton pertunjukan dangdut koplo?

Aha, rupanya tahun 2017 sang professor plontos ini sudah pindah jalur ke pop lawas. 'Apa kamu punya kontak dengan penyanyi-penyanyi-penyanyi 60an dan 70an?' tanya orang Amrik yang lebih fasih bahasa Indonesia ketimbang sebagian orang Indonesia itu.

Hem... jelas beliau mau bikin riset musik pop lama. Pertanyaan-pertanyaan Andrew (dia tidak suka embel-embel prof, doktor, mister, bapak dsb) memang selalu ada maunya. Bukan pertanyaan orang pinggir jalan. Dan dia pasti sudah punya data dan menyimak musik-musik yang akan dia bedah tuntas.

Cukup sulit menyebut nama-nama penyanyi dan pemusik tempo dulu di Surabaya yang masih hidup. Kalau yang era 60an pasti sudah sangat tua. Mungkin di atas 70 tahun. Contohnya Hari Noerdy yang pensiunan hakim. Ida Laila juga artis 60an tapi aliran dangdut.

Oh, ada bu Susy drummer Dara Puspita tinggal di Gedangan Sidoarjo. 'Tapi Dara Puspita sudah banyak yang teliti,' kata Andrew yang punya band Dangdut Cowboy di USA itu.

Lalu saya sebut beberapa nama artis 70an. Ervinna yang sejak 90an lebih sibuk di gereja. Pemilik ratusan album itu bahkan ketua Bunda Kudus Keuskupan Surabaya. Kemudian Sunatha Tanjung gitaris AKA yang juga menghabiskan masa tuanya di gereja aliran karismatik.

Ada juga Ira Puspita yang populer dengan lagu Mama, aku ada tanya... Ada pula Surabaya All Stars kelompok jazz sang maestro mendiang Bubi Chen. 'Ada lagi?' tanya Andrew. Ya, saya sebut beberapa lagi artis sepuh itu.

Dugaan saya memang tidak keliru. Setelah menerbitkan buku Dangdut Stories, kemudian koplo, saat ini Andrew sibuk menggali pop Indonesia di bawah 1970. Masa ketika industri musik masih sederhana. Bahkan belum bisa disebut industri. Kaset masih awal-awal, musik direkam di piringan hitam atau LP.

Andrew juga sempat diundang ke UGM Jogja untuk membahas musik pop Indonesia. Perserta seminar tentu bertanya juga tentang dangdut dan koplo yang sangat ia kuasai. Maklum, Andrew mendalami musik Indonesia sejak 1985 di Bandung. Dia punya data yang lengkap tentang dangdut... dan sulit dilawan peneliti dalam negeri. 

Mana ada profesor doktor kita yang bahas dangdut?

'Saya belum baca kajian Anda tentang koplo,' kata saya. 

Besoknya Prof Andrew Weintraub sudah mengirim buku kajian koplo versi pdf. Detail banget. Sejak dulu saya puji Andrew karena selalu blusukan langsung untuk wawancara dengan sumber pertama di lokasi. Nonton pertunjukan dangdut, ikut joget, nyawer dsb. Beda dengan peneliti-peneliti kita yang bahan-bahan lapangannya sangat mentah karena kurang fulus.

Sayang, Andrew tidak bisa berlama-lama di Surabaya. Sang profesor sudah punya banyak agenda untuk keliling menemui para seniman pop Indonesia tempo doeloe untuk kepentingan risetnya. Kita tunggu buku terbarunya.

 Buku yang benar-benar buku. Bukan kumpulan artikel pendek seperti buku-buku di Indonesia sejak era reformasi.

11 April 2017

Pekan Suci Tahun Ini Lebih Longgar

Tak terasa umat Katolik sudah masuk pekan suci. Ada 3 hari penting yang tidak boleh dilewatkan: Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci.

Misa atau ekaristi selalu diadakan sore atau malam hari. Bagaimana kalau kita kerja malam? Tidak bisa libur atau cuti? Ini memang masalah di Jawa. Sebab orang Jawa, kecuali yang Katolik, tidak kenal pekan suci, kamis putih, jumat agung, paskah dsb.

Beda dengan di NTT, khususnya Flores dan Lembata, yang pekan suci dinyatakan sebagai hari libur. Maka saya selama bertahun-tahun tidak bisa ikut Kamis Putih. Maklum, setiap kali pulang kerja malam hari misa sudah selesai. Tidak bisa menikmati Ubi Caritas est Amor atau Pange Lingua Gloriosi - pengalaman masa kecil yang sulit dilupakan.

Puji Tuhan, rupanya tahun ini jadwal pekan suci di Sidoarjo lebih ramah untuk orang-orang yang kerjanya malam hari. Barusan saya mampir di Gereja Katolik Maria Annuntiata Jalan Monginsidi 13 Sidoarjo.

Wow, misa Kamis Putih sesi kedua pukul 21.30. Rasanya pas lah. Jarak kantor dengan gereja hanya sekitar 7 menitan. Selama ini semua pekerjaan beres di bawah 21.00. Beda dengan di Surabaya dulu yang pukul 22.00 belum tuntas.

Jadwal Sabtu Suci lebih longgar lagi: pukul 22.00. Pasti lebih aman. Jumat Agung juga sangat aman (untuk kita yang tidak kenal tanggal merah) karena sesi pertama jam 12.00.

Rupanya baru tahun ini Jumat Agung di Kota Sidoarjo dibuat tiga sesi. Sejak dulu biasanya dua sesi, yakni jam 15.00 dan 18.00.

Melihat jadwal pekan suci di halaman gereja, saya pun senyam-senyum sendiri. Wow, saya bisa mengikuti Triduum atau trihari suci secara penuh. Selama bertahun-tahun saya hanya bisa ikut Jumat Agung dan Sabtu Suci.

Selamat pekan suci!
Selamat menyambut Paskah untuk umat kristiani di mana saja!

Kampung Pecinan tertua sebelum Majapahit

Salah satu bangunan cagar budaya yang selalu menarik perhatian saya adalah Raos Pecinan. Ada juga yang bilang Pecinan Raos. Lokasinya dekat Kejapanan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Tepatnya di Desa Carat, Kecamatan Gempol. Tidak jauh dari Sungai Porong yang memisahkan Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Sidoarjo.

Saya beberapa kali mampir ke situs sejarah ini. Sayang, kondisinya kurang terpelihara - sama dengan situs-situs lain di Jawa Timur. Lebih parah lagi, akses ke Raos Pecinan pun susahnya bukan main. Harus menyusuri jalan setapak di kebun tebu yang luas.

Hampir semua pemerintah daerah memang kurang memperhatikan cagar budaya di daerahnya. Padahal Raos Pecinan dan situs-situs lain macam candi peninggalan Majapahit bisa dikembangkan sebagai objek wisata. Sayang, kita orang masih menelantarkan begitu banyak situs atau petilasan yang bernilai sejarah itu.

Nah, setiap kali ke Raos Pecinan, saya selalu bertanya apakah situs ini ada kaitan dengan pecinan? Semacam kampung Tionghoa (China Town) atau punya jejak dengan Tiongkok di masa lalu? Apakah penduduknya ada yang keturunan Tionghoa?

Sayang, pertanyaan ini tidak berjawab di Raos Pecinan. Sebab kita sulit menemukan warga setempat untuk dimintai informasi meskipun cuma sepotong. Juru peliharanya pun kebetulan tidak ada di tempat saat tiga kali saya datang ke sana.

'Di kampung ini tidak ada keturunan Cinanya. Semua penduduk di Raos Pecinan ini pribumi (orang Jawa),' kata seorang bapak.

Kok namanya Raos Pecinan? 'Mungkin cuma nama aja. Bisa juga karena tempo doeloe pernah jadi tempat pertempuran tentara Mongol yang dikirik dari China,' kata bapak itu mengutip pendapat umum yang berkembang selama ini.

Saya kemudian mencari informasi di internet tentang Raos Pecinan. Tapi tidak banyak menolong. Bongkar beberapa buku pun tidak dapat jawaban. Malah mbah Google merujuk ke sebuah artikel yang sudah lama saya tulis di blog saya sendiri. Hehe... asem tenan! Sejak itu saya hanya membatin setiap kali melintas di papan penunjuk ke Raos Pecinan ketika turun dari Trawas atau Jolotundo.

Akhirnya, seperti kata pepatah barat lama, waktu jugalah yang menjawab. Pertanyaan saya 10 tahun lalu baru terjawab 10 April 2017 di rumah Bapak Gatot Hartoyo, peminat sejarah yang baru dua pekan lalu merilis 4 buku tentang peradaban Gunung Pemanggungan, petirtaan Jolotundo, hingga sejarah Kabupaten Sidoarjo dan Kerajaan Jenggolo (cikal bakal Sidoarjo sekarang).

Pak Gatot sempat membahas Raos Pecinan di Dusun Pecinan Raos, Desa Carat, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Situs itu punya sepasang Dwarapala atau dua patung raksasa sebagai pintu gerbang. Kira-kira di situlah bibir Sungai Porong jaman biyen yang konon lebarnya satu sampai tiga kilometer. Tahun 2017 ini lebar Sungai Porong kurang dari 100 meter.

Mengutip Negara Kertagama, Gatot Hartoyo menulis: '... bangsa Cina Mongol pada 1 Maret 1293 mendirikan perkampungan di tepi Sungai Brantas (Kali Porong). Tepatnya di Dusun Pecinan Raos, sekarang masuk Desa Carat wilayah Kecamatan Gempol, berbatasan (berseberangan sungai) dengan Dusun Macanmati, Desa Kebonagung, Kecamatan Porong Sidoarjo. Perkampungan pecinan ini melebar hingga Jembatan Porong-Gempol sekarang.'

Gatot menambahkan: 'Kelompok masyarakat Cina Mongol ini berasal dari kesatuan pasukan Tartar di bawah komandan Sih Pi, Kau Tsing, dan Ike Masse atas perintah Kaisar Khublai Khan.

Yang juga menarik, seperti ditulis Mpu Prapanca dalam buku Negara Kertagama, perkampungan China di tepi Sungai Brantas itu sudah ada sebelum pasukan Tartar datang. 'Jadi, perkampungan Cina di Dusun Pecinan Raos itu sudah terbentuk sejak zaman Kerajaan Kahuripan pada awal-awal bandar Hujung Galuh dibangun,' tulis Gatot Hartoyo dalam bukunya yang berjudul Lembah Hilir Delta Sungai Brantas Kahuripan - Sejarah Sidoarjo.

Masih mengutip Negara Kertagama, Gatot mengungkapkan fakta sejarah yang sangat menarik: 'Kunjungan masyarakat Cina dari perkampungan Cina di Raos Pecinan ke Terik pada saat Sanggrama Wijaya mendirikan Desa Majapahit.'

Disebutkan pula dalam sejarah Dinasti Yuan bahwa pada bulan April 1293 Raden Wijaya mengirim utusan ke masyarakat Cina di perkampungan Cina di tepi Kali Porong itu.

Jarak antara Terik (Majapahit) dengan perkampungan Tionghoa itu relatif dekat. Sekitar 5 sampai 7 kilometer. 'Dari Pecinan Raos ke Desa Majapahit itulah bandar dagang sungai Hujung Galuh,' tegas Gatot dalam percakapan dengan saya di rumah panggungnya di Dusun Biting, Desa Seloliman, Trawas, Mojokerto.

Catatan sejarah ini kian membuktikan bahwa kehadiran orang Tionghoa di Nusantara sebenarnya jauh lebih tua ketimbang Kerajaan Majapahit yang berdiri pada 1293. Komunitas Tionghoa di tepi Sungai Porong ini jelas berbeda dengan para pendatang baru dari negeri Tiongkok pada zaman penjajahan Belanda.

Kalau Belanda sengaja membuat pecinan untuk memisahkan (segregasi) komunitas Tionghoa dengan pribumi, menurut Gatot, komunitas Tionghoa di Pecinan Raos ini justru memilih hidup sebagai pribumi. 'Artinya, hidup dengan kebiasaan, tradisi, adat istiadat masyarakat Jawa di sekitarnya,' ujar Gatot.

'Mereka tidak ada kontak apa pun dengan warga etnis Cina yang datang berikutnya. Mereka merasa sebagai pribumi asli.... Warga Pecinan Raos (sekarang) memang hampir 100 persen persis tipe Jawa pada umumnya. Namun samar-samar masih terpancar (Tionghoa) walau hanya 5 persen,' tulis Gatot Hartoyo di bukunya yang lain, Gunung Penanggungan Awal Peradaban dan Menyimpan Teknologi Leluhur.

09 April 2017

Perarakan Minggu Palem di Salib Suci Sidoarjo

Tidak terasa hari ini sudah masuk pekan suci. Pagi buta saya sudah meluncur ke Gereja Salib Suci, Tropodo Waru Sidoarjo. Niat misa minggu palem sesi pertama. Pukul 05.00 sudah sampai di gereja.

Kok sepi? Cuma ada empat lima orang di halaman. Parkiran masih kosong. Misanya jam berapa? Biasanya misa pertama jam 5.30. Hem... pasti ada perubahan jadwal misa untuk pekan suci. Saya yang tidak tahu karena selama ini lebih sering misa di Wonokromo atau Sidoarjo.

''Nggak tau Mas jadwalnya,'' ujar seorang bapak di warkop dekat Gereja Katolik Salib Suci. Dia memang bukan Katolik sehingga tidak punya urusan dengan jadwal misa, pekan suci, kamis putih, jumat agung dsb. Urusannya cuma jualan kopi, nasi bungkus, cemilan dsb.

Maka saya pun berjalan ke halaman gereja. Ketemu seorang ibu yang ramah. ''Misa Minggu Palem mulai jam 7.00. Kumpulnya di sekolahan Santo Yosef,'' ujar ibu asal Jakarta yang tunggal di sini sejak 1972.

Saya dikasih lihat jadwal pekan suci. ''Kamu motret aja biar gak lupa.'' Kami pun ngobrol ngalor ngidul untuk membunuh waktu. Sebab masih ada waktu hampir dua jam.

Lalu saya pamit ke warkop untuk cangkrukan sambil ngopi bersama beberapa polisi yang bertugas menjaga keamanan gereja. Ada juga tiga pria muslim warga perumahan yang sering kebanjiran itu. Temanya sepak bola. Mas yang gemuk itu pinter banget menganalisis sepak bola Spanyol, khususnya Barcelona.

Ngobrol di warkop itu memang membuat menit demi menit berlalu begitu cepat. Umat makin banyak membawa daun palem. Rupanya sudah diumumkan jauh hari. Saya tidak bawa karena biasa minta di halaman gereja. Siapa tahu kali ini ada tersisa daun yang bagus.

Jam 06.00 lebih sedikit saya cabut dari warkop. Jalan kaki ke sekolahan yang jaraknya lumayan jauh. Sekitar 600an meter atau hampir satu kilometer. Melewati jalan perumahan yang kiri kanannya ramai pedagang kaki lima.

Wow, luar biasa Paroki Salib Suci! Selama bertahun-tahun tinggal di Surabaya dan Sidoarjo baru kali ini saya mengikuti prosesi minggu palem yang jauh dari gereja. Biasanya cuma di halaman thok. Bahkan lebih sering tidak ada perarakan melambai-lambaikan daun palem sambil bernyanyi Hosanna, Anak-Anak Ibrani, dan sebagainya.

Beda dengan di kampung saya di NTT, waktu saya kecil, perarakan jalan kaki ini bisa tujuh sampai delapan km dari kampung A ke kampung B. Maka saya bersyukur bisa ikut perayaan ekaristi minggu palem di Salib Suci Waru. ''Kami dari dulu memang biasa perarakan dari sekolahan ke gereja,'' ujar Pak Heri salah satu tokoh umat Katolik kepada saya.

Saya pun kagum dengan tata liturgi paroki ini, khususnya minggu palem (orang kampung di Flores menyebut minggu daun-daun), yang mirip di NTT yang mayoritas kristiani. Di tengah mayoritas muslim, umat Katolik di Wisma Tropodo ini 'berani' tampil berliturgi di luar kompleks gereja.
''Paroki Salib Suci ini parokinya romo-romo SVD. Jadi, liturginya sangat diperhatikan,'' kata Pak Heri yang Tionghoa itu. Asal tahu saja, Paroki Salib Suci Sidoarjo (hampir) selalu juara lomba paduan suara di Keuskupan Surabaya. Mereka juga paling jago membawakan lagu-lagu gregorian yang mengalir lembut itu.

Misa dipimpin Pater Servas Dange SVD, pastor asal Flores, yang dua tahun lalu merayakan pesta perak imamat. Beliau didampingi romo asal Flores juga. Saya lupa namanya. Ada juga frater asal Batak yang ikut membantu. Plus banyak suster karena di Wisma Tropodo ini memang ada biara susteran.

Setelah homili tentang Yesus masuk Kota Yerusalem: mengalami keledai, mengapa betina... perarakan pun dimulai. Umat mengangkat daun palma sambil berjalan ke gereja. Menyanyi Terpuji Raja Kristus (PS 552) selama perarakan. Lagunya cuma satu ini. Beda dengan di Flores yang lagunya banyak, ditambah doa Bapa Kami dan Salam Maria, karena jaraknya sangat jauh.

Bagaikan karnaval, perarakan minggu palem ini jadi tontonan warga setempat. Mungkin mereka heran ada apa kok orang Katolik jalan kaki sambil mengangkat daun-daun palma. Sayang, tidak ada atraksi yang ciamik seperti sandiwara Yesus naik keledai (bisa diganti kuda) atau visualisasi kitab suci.

Polos-polos aja tapi sangat berkesan bagi saya yang sudah sangat lama tidak mengikuti adegan ini di Jatim. Oh ya, saya juga berterima kasih kepada seorang suster kongregasi ALMA yang memberi saya sehelai daun palem yang bagus.