10 March 2017

Sukari 40 Tahun Menjaga Pulau Dem Sidoarjo


Tahun ini genap 40 tahun Pulau Dem di Dusun Tlocor, Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, dihuni orang. Sukari yang babat alas pulau di dekat muara Sungai Porong ini pun masih bertahan bersama keluarga Slamet Solikin untuk menjaga pulau yang luasnya sekitar 600 hektare itu.

Saking lamanya menetap di Dem, lelaki asal Jember ini sering disebut Danyang Pulau Dem. Tak terasa, waktu 40 tahun berlalu begitu cepat. Sukari pun tak lagi khawatir menghadapi binatang-binatang liar seperti celeng, ular, monyet, hingga buaya. "Sekarang ini ramai karena banyak pekerja tambak dan orang-orang yang datang ke sini untuk mancing. Makanya, saya dan istri bisa jualan kopi, mi instan, camilan, dan sebagainya," ujar Sukari kepada saya di rumahnya di Pulau Dem, Minggu 5 Maret 2017.

Mengapa Pulau Dem tidak dijadikan tempat wisata? Wacana seperti itu sudah sering diucapkan. Apalagi ketika jalan akses dari Jembatan Porong ke arah timur hingga Dermaga Tlocor sudah mulus. Namun, tidak mudah diwujudkan mengingat ribuan petak tambak ini dimiliki begitu banyak juragan asal Tanggulangin, Porong, Jabon, Sidoarjo dan sebagainya. Berbeda dengan pulau buatan BPLS yang bernama Pulau Lumpur alias Pulau Sarinah yang statusnya 100 persen milik pemerintah pusat. Sehingga Pulau Sarinah punya prospek yang sangat cerah untuk dikemas sebagai destinasi wisata baru.

Sebaliknya, para juragan tambak di Pulau Dem ini rupanya sudah kerasan dengan usaha pertambakan yang memang sangat menguntungkan. Usaha rumput laut yang baru belakangan dikembangkan di Pulau Dem pun ternyata cocok. Hasilnya tidak kalah dengan di Tanjungsari, salah satu desa di Kecamatan Jabon. "Selama ini wisatanya ya mancing itu. Ada juga pelajar yang ke sini untuk survei dan
wawancara," katanya.

Meski begitu, Sukari mengakui pernah ada pengusaha yang mencoba membangun tempat wisata di Pulau Dem. Pengusaha dari luar itu bahkan sempat membangun gazebo, jembatan, dan sebuah dermaga baru. Juga membuat fondasi bangunan yang cukup luas di dekat tempat
peristirahatan yang menghadap ke Tlocor itu. Namun, tiba-tiba 'pembangunan yang sangat gencar di awal itu dihentikan.

"Saya tidak tahu kenapa kok tidak dilanjutkan. Lah, wong saya nggak pernah ngobrol sama pengusaha itu," katanya.

Apakah ada masalah dengan status tanah? "Setahu saya tidak ada karena sertifikatnya kan ada. Yah, kita lihat saja perkembangannya," ujar ayah tiga anak itu.

Di sisi lain, Pulau Dem yang dikuasai puluhan individu juragan tambak juga menjadi kendala bagi pemerintah untuk mengembangkannya sebagai destinasi wisata. Sebab pemkab tentu tidak mungkin membangun wahana rekreasi di lahan milik warga. Kecuali tanah-tanah itu dibebaskan dulu alias dibeli pemerintah.

Sejauh ini Pemkab Sidoarjo hanya bisa membantu pemavingan jalan-jalan setapak di pematang tambak. Itu pun sangat terbatas. "Alhamdulillah, sekarang sudah ada listrik (PLN) sehingga kami bisa punya hiburan televisi, ngecas HP, pasang kipas angin dan sebagainya," ujar Sukari.

No comments:

Post a Comment