22 March 2017

Pelukis Itu Harus Gila Dulu

Buku terbaru karya Henri Nurcahyo berjudul SENI RUPA PANTANG MENYERAH dibahas di Kampung Seni Pondok Mutiara Sidoarjo. Sejumlah perupa antusias mendiskusikan isi buku tentang kegigihan para perupa dalam berkarya dan berpameran.

Dibandingkan seniman-seniman lain, menurut Henri Nurcahyo pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo, para pelukislah yang paling banyak mengadakan pameran. Baik pameran tunggal maupun pameran bersama. Di mana sana, termasuk di bawah pohon seperti di Pondok Mutiara Sidoarjo. ''Mereka tidak memikirkan soal laku apa tidak laku,'' ujar Henri.

Penulis 35 buku yang tinggal di Bungurasih Timur itu membahas kiprah sejumlah pelukis di Jawa Timur yang gigih dalam berkarya. Baik yang sudah meninggal maupun yang masih seger waras. Di antaranya, Jansen Jasien asal Krian yang juga dikenal sebagai aktivis pelestari bangunan cagar budaya, M Thalib Prasodjo (almarhum), Hardono (almarhum), hingga maestro sketsa Lim Keng (almarhum) yang lahir di Desa Kalitengah, Tanggulangin.

Menurut Henri, yang sudah puluhan tahun menjadi pemerhati seni rupa di Jatim, pameran-pameran lukisan yang sangat banyak itu tidak selalu jadi ajang pasar atau jual beli lukisan. Meskipun banyak pelukis yang diam-diam berharap lukisannya laku saat pameran. ''Tapi ada juga pelukis yang sedemikian idealisnya sampai-sampai dia menolak lukisannya laku,'' tutur pria kelahiran 22 Januari 1959 itu.

''Pelukis jenis ini sengaja tidak mau menjual lukisannya. Dia bisa mencari penghasilan dari usaha lain, bukan lukisan,'' tambahnya.

Ada tiga kutipan menggelitik dari maestro Affandi yang memancing diskusi hangat di kalangan para perupa. Pertama, ngelukis iku sing asik sing cepet. Kedua, pelukis itu harus pernah gendheng. Nek durung tau gendheng ojo dadi pelukis. Ketiga, nek dodol lukisan ojo didol dhewe, ora apik. Ngongkono wong liya!

Benarkah seorang pelukis itu harus pernah gila (gendheng)? Amdo Brada, pelukis senior yang juga kepala suku Kampung Seni, tertawa ngakak. Tapi ada pula beberapa pelukis yang tidak setuju omongan Affandi yang memang nyentrik itu.

''Gendheng di sini jangan diartikan secara harfiah. Intinya, pelukis atau seniman apa pun harus total dalam berkarya. Tidak boleh setengah-setengah,'' kata Amdo.

Gendheng juga bisa diartikan sebagai menciptakan karya-karya yang unik, eksperimental, tidak klise. Para pelukis tidak boleh terjebak dalam tuntutan pasar atau pesanan pedagang-pedagang seni rupa. ''Di dunia seni lukis itu selalu ada orang yang suka goreng-menggoreng lukisan untuk menaikkan harga,'' katanya.

Muhammad Adnan, pelukis senior, tidak setuju ucapan Affandi tentang kegilaan pelukis itu tadi. Selama 30-an tahun menekuni seni lukis, dia merasa selalu sehat jasmani dan rohani. ''Kalau gendheng tentu saya nggak bisa berkarya,'' ujarnya lalu tertawa kecil.

Amdo Brada tergolong pelukis yang pantang menyerah. Selain jam terbangnya yang panjang di seni rupa, dia masih tetap mempertahankan Kampung Seni di Pondok Mutiara yang dibuka pada 2015. Ruko yang disulap jadi studio dan tempat tinggal seniman itu sepi pengunjung dan berkali-kali ditinggal penghuninya. Namun, Amdo tetap saja berkarya dan menggelar pameran bersama di halaman.

Amdo juga mewajibkan peserta untuk membuat karya-karya terbaru yang out of the box dengan tema daur ulang. ''Alhamdulillah, bupati, kapolresta, ketua DPRD, beberapa pejabat dan tokoh masyarakat datang untuk memberikan apresiasi. Ada juga beberapa lukisan yang laku meskipun kami tidak jualan. Hehehe...,'' ujarnya.

No comments:

Post a Comment