07 March 2017

Nostalgia Bahasa Latin di Gereja Katolik

Misa di Wonokromo Surabaya malam Minggu kemarin dipimpin Pater Kris Anen SVD asal Adonara Flores Timur NTT. Sama-sama berbahasa Lamaholot seperti saya yang asal Lembata, tetangga terdekat Adonara. Sejak awal 70an romo-romo asal NTT, khususnya Flores, memang dipercaya mengelola Paroki Yohanes Pemandi Surabaya itu.

Yang menarik bukan karena kedekatan asal usul dan kesamaan bahasa ibu saya dan pater paroki. Melainkan penggunaan bahasa Latin oleh kor yang dominan. Mulai ordinarium Kyrie sampai Agnus Dei plus Pater Noster alias Bapa Kami.

Lagu-lagu Gregorian Latin memang agak diabaikan gereja-gereja Katolik di Indonesia selama 50 tahun ini. Bahkan di seluruh dunia. Setelah Konsili Vatikan II tahun 1965, dimulailah penggunaan bahasa lokal untuk misa alias perayaan ekaristi. Syair Gregorian yang aslinya Latin pun jadi berbahasa Indonesia.

Maka umat Katolik yang lahir di atas 1970 boleh dikata tidak hafal doa-doa utama dalam bahasa Latin. Bahkan Pater Noster dan Ave Maria, doa resmi yang paling banyak diucapkan di kalangan Katolik, pun tidak hafal. Hanya para pater atau suster yang menguasai doa-doa bahasa Latin.



Begitulah. Saat paduan suara di Wonokromo mengajak umat menyanyikan Pater Noster dari Puji Syukur nomor 402, semua orang kelimpungan. Bolak balik Puji Syukur tapi tetap kesulitan karena tidak biasa. Padahal melodinya sangat sederhana dan hampir tiap Minggu dinyanyikan di kampung asal saya di Lembata... tapi pakai syair bahasa Indonesia.

Rupanya setelah 50 tahun meninggalkan bahasa Latin, saya perhatikan umat Katolik mulai kangen-kangenan atau nostalgia ke masa lalu. Kor-kor makin banyak membawakan Gregorian asli bahasa Latin. Malah banyak lagu yang tingkat kesulitannya sangat tinggi.

Bahkan, banyak pula umat Katolik yang ikut komunitas pencinta Misa Tridentina alias Tridentine Mass. Misa versi pra Vatikan Kedua ini sepenuhnya dalam bahasa Latin. Kecuali homili dan bacaan kitab suci. Romo juga tidak menghadap umat seperti sekarang.

Saya pun mencoba membiasakan diri menikmati tembang-tembang Gregorian yang diambil dari Youtube. Awalnya terasa datar seperti sayur kurang garam.. tapi lama-lama ketagihan. Apalagi kalau menikmati Exsultet yang biasa dibawakan saat malam Paskah itu. Luar biasa indah. Bikin pikiran jadi tenang.

Fenomena kembalinya nuansa Latin ini rupanya tidak bisa dilepaskan dari kepemimpinan Paus Benediktus XVI yang sekarang emeritus. Bapa Suci ini memang mengajak umat Katolik untuk melantunkan beberapa doa sederhana dalam bahasa Latin. Meskipun sudah diganti Paus Fransiskus yang gayanya agak lain, imbauan Paus Benediktus makin dirasakan di tanah air.

Saya sendiri masih belum bisa hafal doa Saya Mengaku alias Confiteor Deo. Apa boleh buat, saya terpaksa baca aja dari buku misa tua terbitan tahun 1958 di lapak pedagang buku bekas di Jalan Semarang, Surabaya. Saya yakin tidak banyak orang Katolik di Jawa Timur yang masih menyimpan buku Misa Tridentina itu.

Confiteor Deo omnipotenti,
et vobis, fratres,
quia peccavi nimis
cogitatione, verbo,
opere, et omissione:
...............................
...............................

9 comments:

  1. Bahasa Latin menjadi nostalgia. Namun hampir seluruh manusia diatas bumi setiap hari memakai Alphabet Latin. Tidak ada sertifikat tanah, akta kelahiran, dll. di Indonesia, jika tidak ada tulisan latin. Mungkinkah pada suatu hari di Terra Mater, alphabet latin diubah menjadi alphabet arab ?
    Saya dan anak2 pernah belajar bahasa latin, karena terpaksa, diharuskan di sekolah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan terkejut xiansheng, jika 25 tahun lagi Bahasa Indonesia dituliskan lagi dengan huruf Jawi seperti jaman Bahasa Melayu dahulu. Trendnya sekarang segala yang keArab2an dianggap suci.

      Delete
  2. Kata salaman, jika bertemu teman atau anak2, dan juga ketika akan berpisah, yang paling sering saya gunakan, adalah kata SERVUS ! Kedengarannya sangat akrab, mungkin seakrab kata Jancuk di Jawa Timur.
    Servus artinya budak, pelayan.
    Servus ! Aku budak mu !
    Servus ! Aku bersedia melayani mu !
    Ada juga Ordo Katholik Serviten ( Ordo Servorum Mariae ). Mengapa melayani seseorang dianggap perbuatan hina oleh bangsa kita ?

    ReplyDelete
  3. Bahasa Latin ini sangat klasik dan menarik. Tapi saya sangat terlambat sadar sehingga tidak sempat mendalaminya. Saya hanya mengikuti bahasa Latin via beberapa lagu gregorian di gereja yg populer.

    Deo gratias... akhir2 ini saya makin tertarik sama bahasa Latin yg merupakan bahasa liturgi Katolik yg indah. Lagu gregorian kalo syairnya tidak pakai Latin rasanya seperti sayur tanpa garam. Ibarat tembang pentatonis Jawa tapi syairnya bahasa Indonesia atau English.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lambertus, utk humor saya sarankan nonton filem Life of Brian, yg merupakan parodi. Di sana ada adegan yg lucu tentang pelajaran bahasa Latin utk sang pemberontak Yahudi I masa pendidikan Romawi. Ini cuplikannya https://youtu.be/KAfKFKBlZbM

      Delete
  4. Bung Lambertus, misa Latin itu hanya nostalgia saja di antara para tradisionalis yang merindukan Gereja Katolik yang konservatif seperti sebelum Konsili Vatikan II. Gereja yang menegakkan hukum kanon dengan tangan besi, yang mengecam aliran2 lain termasuk Protestan and Islam sebagai sesat.

    Setelah Konsili ke-2, Gereja Katolik menjadi lebih terbuka dalam liturgi, mau menerima budaya lokal. Juga, dalam hal teologi, lebih terbuka, mengakui adanya kebenaran di ajaran2 lain, walaupun tetap meng-klaim bahwa Kebenaran di dalam Yesus melalui Gereja Katolik lah yang paling sahih. Paus Benediktus mewakili golongan tradisionalis ini. Sedangkan Paus Fransiskus tidak ambil pusing, dan malah dibikin pusing oleh para tradisionalis ini. Dia lebih menekankan ajaran Keadilan Sosial: https://en.wikipedia.org/wiki/Catholic_social_teaching

    Saya termasuk penyuka Paus Fransiskus, karena lebih cocok dengan pesan Yesus (yang tidak bisa berbahasa Latin walaupun hidup di bawah penjajahan Kekaisaran Romawi): jangan terlalu terikat hukum dan ritual. Yang penting itu Kasih Allah Bapa di surga harus diwujudkan di dunia ini. Datanglah KerajaanMu, dan jadilah di atas bumi, seperti di dalam surga.

    Advéniat régnum túum. Fíat volúntas túa, sícut in cáelo et in térra.

    Pesan Yesus: beragama iku ojo omong tok, praktekkan dengan ahlakmu; dan lebih dari itu, berjuang secara sistematis untuk mewujudkan keadilan sosial di atas bumi; jangan hanya menyicil pahala pribadi untuk hidup kekalmu sendiri di akhirat.

    ReplyDelete
  5. Mantaap... itulah gunanya sampeyan biyen makan sekolah katolik. Jadi bisa paham esensi ajaran2 gereja katolik meskipun sampeyan bukan katolik. Gak kalah sama teolog beneran.

    Pope Francis ini memang santo bapa yg pikirannya sangat terbuka, cenderung liberal, gak pusing dengan tata liturgi yg ribet dengan bahasa Latin dsb yg beliau anggap cuman kulit luar aja. Kalo kita baca ucapan2 Pope Francis maka bisa kita ambil kesimpulan tidak ada manusia yg kafir di bumi ini. Yang kafir itu yg suka korupsi, menindas sesama dsb dsb. Beliau seperti Dominus yg sangat frontal melawan kaum farisi yg munafik itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya ini bukan xianshengmu, ttp seorang Katolik lewat, alias sudah dibaptis di paroki Kelsapa Maria Surabaya, tetapi sudah lapsed, malas ke gereja. Saya banyak membaca tafsiran (exegesis) dan melihat video penjelasan dari teolog2 liberal baik Katolik maupun Protestan. Jika mau terbuka pikiran kita, studi Alkitab selama 150 tahun terakhir banyak mengupas sejarah BUMN seorang Yesus bisa dijadikan Kristus, walaupun akhir hidupnya sbg manusia ia pecundang dihukum mati oleh kaumnya sendiri. Dan pemahaman ini berbeda dengan doktrin gereja ttg kebangkitan dan ketuhanan Yesus secara harafiah dalam ajaran Kristen yang ortodoks, termasuk Katolik. Krn itu saya malas ke gereja krn tidak sefaham. Ttp sy tetap menghargai Gereja Katolik sbg sumber ajaran spiritual saya, dan mengikuti ajaran2 Yesus dan memahami Yesus sbg penjelmaan Illahi tanpa terlalu peduli dengan kelahiran, kebangkitanNya secara harafiah, atau substansiNya sbg manusia vs Tuhan yg banyak diperdebatkan gereja purba. Maaf, ini jadinya sangat personal dan bukan bermaksud menyebarkan keyakinan pribadi. Jadi, jangan ikut murtad!

      Delete
    2. Menarik sekali. Waktu saya muda, ayah saya mempunyai buku Di Bawah Bendera Revolusi. Di dalamnya, ada pemikiran-pemikiran Bung Karno tentang Islam, yang ditelaah olehnya ketika dia dibuang di Ende, Flores. Pemikiran-pemikiran itu sangat relevan di jaman sekarang, walaupun ditulis hampir 80 tahun yang lampau. Beliau tidak suka orang Islam yang mengkafir-kafirkan orang lain; mengkritik orang Islam yang terlalu terikat kepada fikih dan tidak mau mengerti mengerti inti ajaran Nabi dan kitab suci. Untung masih ada yang membaca karya pemikiran Bung Karno dan menyarikannya dalam artikel berikut.

      http://www.berdikarionline.com/islam-dalam-pemikiran-soekarno/

      Delete