14 March 2017

Mengapa Grup Medsos Mati Suri?

Sejak tahun lalu saya perhatikan berbagai grup media sosial, khususnya Facebook, di Sidoarjo bubar. Sebetulnya masih ada tapi tidak ada status atau pos baru. Ada grup yang cuma punya 4 postingan dalam setahun.

Kelihatannya grup-grup media sosial di Sidoarjo sudah mencapai titik jenuh. Grup SMS (Suara Masyarakat Sidoarjo) pagi ini cuma ada 4 status baru. Itu pun tidak lagi berisi informasi tentang kemacetan, genangan air, kesehatan, pendidikan, atau hal-hal yang menyangkut kepentingan masyarakat.

Postingan yang ada 90 persen jualan alias iklan. Kemudian dakwah teman-teman yang beraliran skripturalis dan mengusung isu purifikasi. Dakwah macam ini sangat aktif di media sosial. Aslinya sih hasil copy paste atau share dari sumber-sumber lain.

Lantas ke mana 3504 member SMS yang pernah disebut-sebut grup paling populer di Sidoarjo itu? Tidak aktif. Bahkan banyak member yang sudah tidak follow. "Grup-grup medsos itu kan cuma untuk guyonan aja. Orang cepat bosan kalau isinya tidak sesuai dengan seleranya," kata Syamsul dari Gedangan.

Berikut beberapa penyebab grup-grup medsos di Sidoarjo mati suri:

1. Anggota yang terlalu heterogen dengan berbagai latar belakang.

2. Tidak saling kenal di dunia nyata. Hanya sedikit yang berteman di alam nyata. Itu pun hasil kopi darat beberapa kali.

3. Tidak ada TS alias topic starter yang mumpuni. TS yang sejalan dengan visi dan misi grup.

4. Terlalu banyak dakwah dan isu SARA yang cenderung menyudutkan agama lain. Termasuk menyerang sesama agama yang berbeda aliran atau paham.

5. Terlalu banyak iklan baik terselubung maupun terang-terangan. Grup-grup medsos memang lahan empuk bagi bakul-bakul start-up untuk promosi.

6. Para admin tidak melakukan evaluasi secara berkala. Mengapa grup sepi? Mengapa banyak member yang dulu rajin menulis isu-isu penting mundur.

7. Perpecahan di tubuh administrator. Mereka membuat grup-grup baru yang sejenis.

8. Diskusi sering tidak terarah. Isu jalan rusak misalnya ditanggapi dengan guyonan atau meme-meme yang kocak atau rada ngeres. Moderator atau admin seperti tak berdaya.

9. Banyak isu lawas atau foto-foto lawas di-republish seakan-akan peristiwa aktual. Contoh: ada member menaikkan foto tumpukan sampah di daerah Taman plus komentar yang sangat kritis. Setelah dicek ternyata foto itu sudah satu tahun lalu.

10. Informasi atau diskusi di medsos jarang ditindaklanjuti oleh pemerintah. Contoh: jalan rusak atau pungutan liar di sekolah. Isu ini paling banyak dibahas di grup-grup Sidoarjo tapi efeknya hampir tidak ada.

11. Dianggap kurang spesifik. Grup Forum Kesenian Sidoarjo ditinggalkan para pelukis yang bikin grup sendiri namanya Komunitas Perupa Delta. Ada pelukis lain yang bikin grup Sketsapora, Bumbu Pawon, dan entah apa lagi.

Grup-grup beranggota sedikit ini biasanya sangat kompak dan guyub. Seperti Komperta (pelukis) yang rajin mengadakan kegiatan melukis on the spot. Jadi bukan cuma diskusi atau debat kusir di dunia maya.

12. Banyak laki-laki yang menggoda janda-janda dengan meme atau guyonan dsb.

13. Silakan tambah sendiri.

6 comments:

  1. Masih kalah dengan blog lawas Lambertus Hurek yg banyak dikomentari xiansheng Tionghoa didikan Jerman dan engkoh2 sok tahu didikan Amrik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe iso wae mister Amrik iki. Yang jelas blog hurek masih punya google rank yg tinggi, kliknya juga stabil malah cenderung naik meskipun tidak ada komentar. Sejelek2nya materi di blog ini, penulis dan penanggung jawabnya sangat jelas. Sumber yg dipakai pun selalu saya usahakan sumber primer. Bukan hasil copas, jiplak atau share dari sumber2 lain yg tidak jelas.

      Grup2 medsos itu bubrah antara lain karena hobi share dari sumber2 yg tidak jelas. Ada informasi palsu disebar dan dibumbui, dibingkai jadi bahan kampanye politik atau propagada dsb.

      Inti dari jurnalisme itu tetap sama: DISIPLIN VERIFIKASI. Itu yg membuat koran2 masih hidup sampe sekarang meskipun kalah cepat.

      Delete
    2. Jaman Trump saiki di Amrik, koran2 malah laku, tapi hanya di kalangan kaum terdidik. Karena mereka mau mencari kebenaran dari sumber2 yg sudah diverifikasi itu, Bung. Payahnya, orang2 yang tidak punya pendidikan tinggi, mereka lebih suka yang ga bayar, yang penuh dengan berita2 provokator dari sayap kanan yang penuh pelintiran. Bahkan Presiden Donal Bebek sendiri sering nge-cuit tuduhan2 ga benar, macam Obama nge-tap rumah dia di Trump Tower. Yang bener aje... Maka itu, berbahagialah Oom Hurek yang mewartakan kejujuran, karena dialah yang empunya kebenaran, ceila wkwkwkwkwk

      Delete
  2. Medsos itu penemuan abad ini yg luar biasa. Bisa jadi platform untuk jurnalisme warga yg jauh lebih bebas, jujur, independen dsb. Tapi rupanya berita2 peluntiran, abal2, hoax dan ngawur2an yg justru dominan di medsos. Orang doyan banget like n share informasi yg dia sendiri tidak yakini kebenarannya. Contoh: minggu ini banyak banget anggota grup medsos sidoarjo itu yang share info kalo seorang kiai terkenal di Malang meninggal dunia. Lalu dikomentari ratusan orang dengan doa2 yg bervariasi. Eh, ternyata kabar itu palsu.

    Mengapa? Karena rukun iman jurnalisme yang disebut mbahnya wartawan USA Bill Covac 9 elemen jurnalisme itu dibuang ke tong sampah. Tapi kan pengguna medsos itu bukan wartawan? Suka2 dialah menaikkan informasi apa saja! Monggo mawon... tapi hasilnya jadi informasi sampah.

    Sebetulnya yg paling mengerikan itu justru banyak media utama seperti koran yg memuat berita2 dari online seperti detik.com atau viva.co.id atau okezone.com apa adanya. Ini yang tiap hari dilakukan koran2 di luar jawa dan kota2 kecil: memuat berita2 jiplakan alias copas dari online. Bukan berita2 hasil liputan dan wawancara wartawannya sendiri. Ini yg namanya bunuh diri. Kalau ada delik pers, maka habislah media itu.

    Kalau saya bahas Pater Noster di Wonokromo, itu karena saya ikut misa di sana sore itu. Kemudian saya goreng dengan pengalaman di gereja masa lalu dsb. Inilah bedanya dengan banyak artikel di medsos atau blog keroyokan yg terkenal itu. Ada juga yg nulis tentang misa Latin dsb tapi tidak pernah ikut misa atau nyanyi lagu gregorian hehe...

    Maklumlah, jaman saiki ada mbah Google yang mahatahu sehingga orang cukup minta bantuan google tanpa harus verifikasi atau turun ke lapangan.

    Makanya saya selalu bilang ke reporter2 baru: Saya lebih menghargai berita2mu yg asli, wawancara langsung one on one, motret sendiri meski cuman pake HP, meskipun kalimat2mu kacau balau ketimbang berita yg kelihatan bagus tapi hasil copas di internet. Soalnya memang ada tren makin banyak reporter baru yg lebih suka bekerja on the web ketimbang on the spot.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lho sampeyan iku wartawan, tujuannya mencari kebenaran, dengan mewartakan fakta dengan sedikit analisa (mungkin). Kalau Presiden Donal Bebek atau Habis Brisik dan konco2nya tujuannya ialah kekuasaan, dengan cara mewartakan fakta alternatif atawa kebohongan untuk memprovokasi kaum tak terdidik yang gampang dikipas2 dengan isu SARA. Donal Bebek menggunakan tumbal Orang Meksiko dan Muslim. Secara paralel, Habis Brisik menggunakan tumbal Orang Cina dan pengikut2nya Kristin dan Ahmad, wkwkwk. Strategi dan taktiknya sama!!

      Delete
  3. Makanya kitorang suka baca berita2 di koran atau majalah lawas khususnya sebelum ada online news. Paling asyik itu di bawah tahun 1990 reportase2 wartawan masa lalu punya greget yg sangat terasa. Kenapa? Dorang (ini bukan iwak dorang tapi mereka) selalu wawancara tatap muka, tidak pake telpon2an dengan banyak deskripsi. Setelah datang internet, kita lihat berita2 media massa pun ikut berubah... sangat cepat tapi zonder mendalam dan kurang greget. Hubungan narasumber dengan wartawan tidak dekat.

    Sampai sekarang beta suka baca laman indokliping.wordpress karena berita2nya asyik dan sering bikin ketawa sendiri. Macam pemain2 badminton yg bawa sambel, pake dukun dll kebiasaan yg menarik.
    Contohnya di sini https://indokliping.wordpress.com/2013/09/10/usaha-mengamankan-piala-piala-thomas-1973/

    ReplyDelete