23 March 2017

Aqyu Chintha Syama Qhamu: Pop Indonesia Kebule-bulean

Minggu lalu saya sempat tengok lomba menyanyi pop di kawasan utara Sidoarjo, dekat perbatasan Surabaya. Hampir semua peserta berusia di bawah 25 tahun. Suara peserta bagus-bagus. Juga sulit menemukan cewek yang wajahnya jelek.

Boleh dikata semua peserta (laki perempuan) punya pengucapan kata seperti penyanyi-penyanyi terkenal di televisi itu. Artikulasi macam bule-bule yang baru belajar bahasa Indonesia. Yah... kayak gaya Ahmad Dhani pentolan Dewa serta artis-artis binaannya.

HANCHUL HATHIKHU
MENGENANG DHIKHAU
MENJADHI KHEPHING KHEPHING

Bagi kita yang biasa menikmati lagu-lagu pop Indonesia sebelum 2005-an, pengucapan kata-kata ala penyanyi-penyanyi pop (kemudian ditiru anak-anak sampai mahasiswa), rasanya janggal. Kuping jadi gatal. Apalagi bagi orang-orang yang pernah aktif di paduan suara yang baik dan benar.

Di paduan suara, latihan artikulasi, vokalisasi, melafalkan syair mendapat porsi yang sangat besar. Sebagian besar waktu latihan dihabiskan untuk membiasakan diri mengucapkan a i u e o.. la li lu le lo.. tra.. tri.. tru.. tre.. tro...

Anak-anak paduan suara biasanya mengucapkan:

HANN... CURR... HAA.. TII.. KU

Mengapa jadi begini ya? Kok orang Indonesia jadi kebule-bulean? Padahal orang bulenya sendiri berusaha keras untuk berlatih berbicara dengan aksen Indonesia.

Kok jadi mirip Cinta Laura semua: ''Kenapa gitchu dunkz .... which is which is ... so far dan .... aqyu chintha syama qhamu...''

Saya sendiri sudah lama tidak mengikuti perkembangan industri musik Indonesia. Sebab saya merasa tidak menarik lagi. Magnet musik pop Indonesia sudah tak berdaya untuk menarik perhatian saya. Padahal dulu saya hampir tidak pernah absen menonton konser band-band Indonesia di Surabaya, Sidoarjo, dan kadang-kadang Malang.

Saya bahkan sampai kenal baik Pak Jo Karundeng yang jadi koordinator pengamanan sebagian besar artis top. Ini membuat saya punya akses untuk ngobrol dengan bintang-bintang itu di belakang panggung. Bisa bersalaman dengan artis-artis yang sebetulnya tidak secantik di televisi atau media sosial. Ada penyanyi cewek terkenal yang jerawatnya banyak dan besar-besar-besar.

Ada apa dengan musik pop Indonesia?

Dalam beberapa kali diskusi di medsos dengan Yockie Suryo Prayogo, komposer, arranger dan pemain keyboard senior, topik ini juga jadi rasan-rasan orang-orang lawas. Musik pop Indonesia semakin ke sini semakin kehilangan rasa indonesianya. Tak hanya syair (lirik) dan pronunsiasi, tata musik dan sebagainya pun berubah.

JSOP menulis: ''.... setelah era gaya r & b (baca: er dan be) .... nyaris semuanya berubah jadi ngeselin.''

No comments:

Post a Comment