01 March 2017

Mea Culpa, Saya Lupa Rabu Abu

Tak terasa hari ini Rabu Abu. Awal puasa atau masa prapaskah Katolik yang berlangsung 40 hari. Saya baru sadar Rabu Abu justru setelah makan siang di tempat perayaan ulang tahun koran Radar Gresik.

Duh.. Gusti, awal puasa dan pantang saya justru makan enak layaknya di pesta. Makan kenyang, porsinya banyak pula. Ada kue-kue, buah-buahan dsb. Puasa dan pantang hari pertama sudah pasti gagal.

Tiba-tiba saya dapat SMS dari Pak Paulus Latera, guru SMA Kristen Petra 3 Surabaya. Pake bahasa Lamaholot atau Flores Timur: "Ama, hode abu kae le wati Ama!"

Artinya, Bung, sudah terima abu atau belum?

Oh Tuhan! Mau jawab apa nih. Saya pun menjawab belum terima alias belum pigi gereja karena ada kegiatan kantor di Gresik. Saya kemudian mengucapkan selamat memasuki prapaskah.

Sekitar 10 menit kemudian datang lagi SMS dari bung Yan di Lembata NTT. Seperti biasa isinya agak panjang dan mirip khotbah. Bunyinya begini:

"Kasihanilah kami, ya Allah menurut kasih SetiaMu! Selamat memasuki masa Prapaskah!

Kita saling doakan dalam menjalankan retret agung ini spy bisa membawa penyelamatan bagi dunia & diri sendiri. Selamat merayakan Perjamuan KasihNya."

Hehehe... tambah gak enak. Tapi saya bersyukur karena diingatkan Tuhan melalui beberapa rekan ini. Bahwa sesibuk apa pun kita tak boleh mengabaikan kewajiban liturgis.

Lima menit lalu, saat menulis catatan ini di Sidoarjo, Ricky yang Tionghoa menyapa saya. "Sekarang Rabu Abu. Kamu ke gereja di Sidoarjo atau Surabaya? Saya mau misa di HKY Surabaya," ujar teman akrab itu dengan suara dikeraskan.

Hehe... asem tenan!

Selamat Rabu Abu!

12 comments:

  1. Lambertus, saya baru dapat SMS dr Tuhan, ktnya ga apa lupa itu biasa, sudah diampuni, katanya. Ganti aja puasanya hari Kamis.

    ReplyDelete
  2. Hehehe... ada SMS dari Tuhan juga nih. Ini cuma curhat plus guyonan enteng2an aja. Di Indonesia memang ada kebiasaan basa basi bertanya sudah pigi gerejakah belum ala orang NTT. "Mo mai gereja kae le wati?"

    Nah, kita yg belum pigi gereja (misa wati) biasanya jadi salah tingkah dan mau jawab apa. Kalau jawab WATI, dia akan tanya lagi dst. Mungkin enak di Barat yg ada larangan untuk menanyakan hal2 pribadi seperti urusan gereja, ibadah dsb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya tidak ada larangan atau tabu untuk menanyakan urusan pribadi / agama, asalkan sopan, terutama dengan yang sudah kenal. Di daerah yang masih kental rasa keagamaannya misalnya di Midwest (bagian tengah atas ke kanan dikit) atau Deep South (bagian selatan), orang boleh bertanya kepada pendatang: "Have you found a place to worship?" kemudian akan membantu mencarikan gereja yang cocok, kalau dia mau. Dan sesama anggota gereja yang sama, sudah pasti akan mengingatkan akan permulaan masa puasa, yang di USA disebut Lent atau Lenten season, dan dipraktikkan oleh tidak hanya Gereja Katolik ttp juga oleh gereja Episkopal (Anglikan), Lutheran (denominasinya HKBP), dan beberapa Gereja Protestan lainnya.

      Sedangkan di kota-kota besar (urban) di mana budaya sekuler lebih mendominasi dan orang-orang pada cuek satu sama lain, memang hampir tidak pernah orang menanyakan soal agama, kecuali kalau sudah kenal baik.

      Delete
  3. Dalam agama Katolik selalu ditekankan kita ini manusia yg berdosa yg mengakibatkan penderitaan Yesus di kayu salib. Mea culpa (my fault), krn dosaku, krn dosaku. Krn itu salib di rumah orang Katolik ada tubuh Yesus yg sedang menderita: Sengsaramu oh Yesus akibat dosaku, begitu dinyanyikan pas upacara jalan salib. Sedangkan Orang Protestan selalu diajarkan Yesus sudah menebus jiwa kita. Kemenangan ada di tangan jika engkau mengaku Yesus itu Tuhan . Krn itu salib di rumah Protestan tidak ada tubuh Yesus yg sudah bangkit dan menang.

    Rupanya Lambertus, Anda ini seorang Katolik mendarah daging: lupa Rabu Abu pun merasa demikian bersalah hingga harus menulis "mea culpa" blog!

    ReplyDelete
  4. Terima kasih atas komentar yg inspiratif.
    Mea culpa.. mea culpa.. mea maxima culpa.. itulah doa yg setiap minggu (bahkan tiap hari) diucapkan orang katolik. Doa liturgi resmi yg di Indonesia disebut Saya Mengaku.

    Orang katolik khususnya di NTT, khususnya lagi flores lembata solor adonara memang punya tradisi yg cenderung menyatu dengan kebudayaan lokal. Ritual2 khas katolik macam rabu abu, arak2an minggu palem, pembasuhan kaki kamis putih, pange lingua gloriosi, jumat agung semana santa, exultet malam paskah, malam natal itu seperti pesta rakyat yg dilakoni secara massal. Anak2 SD jaman saya dulu jalan kaki 2,5 km ke gereja di kampung sebelah untuk terima abu saat Rabu Abu. Ritual seperti ini sangat berbekas bagi orang flores sampe kembali ke rumah Bapa meskipun kita orang sudah migrasi ke kota lain yg orang katoliknya tidak sampe 2 persen.

    Kalau pas minggu palem dan kebetulan kita tidak ke gereja karena urusan kerja dsb, sering muncul lagu2 perarakan palem Hosana putera Daud... terpujilah yg datang dalam nama Tuhan.

    Kalau kita tidak pigi misa kamis putih muncul lagu Ubi caritas est amor...

    Tradisi2 katolik yg sangat kuat dan khas itulah yg membuat orang2 flores sering merasa mea culpa mea culpa...

    Kalau tidak pigi gereja hari minggu biasa biasanya sih no problem karena masih ada minggu depan atau misa harian. Tapi kalo tidak terima abu, kita harus tunggu tahun depan... kalau masih dikasih umur oleh Tuhan.

    ReplyDelete
  5. Wuih, sangat ajaib, kok masih ada orang Indonesia yang secara tulus mengucapkan mea culpa. Biasanya mereka selalu berkata; saya dizolimi, dipolitisasi.
    Sudah tertangkap KPK masih berani bilang saya dizolimi.

    ReplyDelete
  6. Yang paling penting, Pak Lambertus, apakah kita puasa atau pantang? Masa Lenten seperti bulan Ramadhan, ialah waktu yg digunakan untuk latihan spiritual, menahan nafsu makan, dan nafsu lain-lainnya. Saya sendiri sudah lama menghindari makan daging. Bukan karena spiritual, tetapi karena ada turunan penyakit jantung dan kadar asam urat yang tinggi. Jika makan tidak diatur, dalam usia yg makin tuwir ini tiba2 kaki bengkak dan sakitnya bukan main (gout). Juga saya tidak mau terkena stroke atau serangan jantung. Jadi saya pantang makan daging selama-lamanya. Protein dari tahu, tempe, kacang-kacangan, telur, susu/keju saja.

    ReplyDelete
  7. Betul betul... saya setuju. Terima abu di kita punya dahi kan cuma ritual simbolis saja. Yang paling penting itu memang substansi...

    Bapa Paus dua minggu lalu kalo tidak salah juga mengingatkan umat Katolik agar tidak terjebak dalam ritualisme. Substansi agama itu jauh lebih penting ketimbang kita orang rajin pigi misa, ikut kor, sembahyang lingkungan, ziarah dsb.

    Bahkan Paus Fransiskus mengatakan, lebih baik orang atheis yg jujur dan baik daripada orang Katolik yg munafik. Paus dari tanah Argentina ini memang seorang Jesuit yg sangat substantif.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lambertus, kata "munafik" ini menarik untuk dibahas. Dalam arti yang anda sebutkan, munafik berarti orang yang ritual agamanya bagus, tetapi dalam perbuatan atau ahlak dia banyak berdosa. Di dalam Injil2 sinoptik, Yesus dituliskan sering mengkritik Orang Farisi yang taat dalam hukum agama dan ritual, tetapi sering melupakan substansi dari ajaran kitab suci, yaitu Kasih Allah.

      Dalam pengertian pilkada DKI, golongan garis keras menuduh para muslimin dan muslimah pendukung Ahok sebagai kaum munafik, menurut sebutan Nabi Muhammad dan sahabat2nya kepada para muslimin yang pura2 masuk Islam tetapi sebenarnya menikam dari belakang. Suatu tuduhan yang sangat kencang krn dalam Al Quran orang munafik harus dihukum mati. Nuansa arti kata tersebut menjadi lebih tajam dan kejam. Saya kira golongan ini pun perlu menyimak ajaran Nabi Isa, yaitu utamakanlah kasih Allah daripada ritual beragama.

      Delete
  8. Saya tidak percaya ada orang yang atheis dan yang kafir, tetapi saya percaya banyak orang yang munafik. Orang China di Tiongkok pun takut kualat.

    ReplyDelete
  9. Matthaeum 6:16
    Cum autem jejunatis, nolite fieri sicut hypocritæ, tristes. Exterminant enim facies suas, ut appareant hominibus jejunantes. Amen dico vobis, quia receperunt mercedem suam.

    Ini pesan beliau supaya kita tidak meniru cara orang munafik berpuasa. Demonstratif supaya dilihat orang...

    ReplyDelete

  10. Pope Francis has said it is better to be an atheist than one of "many" Catholics he said lead a hypocritical double life.

    Delivering another criticism of some members of his own Church, the pontiff said: It is a scandal to say one thing and do another. That is a double life.

    "There are those who say 'I am very Catholic, I always go to Mass, I belong to this and that association'," the head of the 1.2 billion-member Roman Catholic Church said, according to a Vatican Radio transcript.

    ReplyDelete