25 March 2017

Ogoh-ogoh sensual jelang Nyepi 2017 di Sidoarjo

Menjelang hari Nyepi, umat Hindu di Kabupaten Sidoarjo juga melakukan persiapan. Kemarin saya mampir ke Pura Jala Siddi Amerta di Jalan Raya Gedangan untuk melihat suasana pura. Awalnya sih dari Gereja Katolik St Paulus, ngobrol dengan suster asal Sumatera Utara.

Gusti Putra pengurus pura menyambut saya dengan ramah. Senyum hangat khas orang Bali yang sadar pariwisata. Beberapa tukang sedang menyelesaikan Candi Bentar yang jadi pintu masuk pura yang bersama Gereja Katolik berdiri di atas tanah milik TNI AL ini.

Melasti atau upacara penyucian di sumber air (bisa laut, sungai, danau dsb) dilakukan Minggu pagi. Umat Hindu di Juanda ini bergabung dengan Surabaya. ''Melasti di Bumimoro Surabaya ke pantai,'' katanya. Sedangkan pura satunya di Krembung mengadakan melasti di Jolotundo Trawas Mojokerto.

Ogoh-ogohnya mana? Pak Putra kemudian mengajak saya ke balai yang luas. Wow, ada dua ogoh-ogoh yang sensual dengan buah dada buesaar banget. Menggantung kayak kates alias pepaya. Simbol hawa nafsu manusia akan hal-hal duniawi. Angkara murka. Ketamakan. 

Itulah yang akan dibakar hari Senin atau sehari menjelang tapa brata Nyepi hari Selasa. ''Anak-anak muda yang bikin ogoh-ogoh itu. Kalau beli sih mahal, sekitar tiga jutaan,'' katanya.

Persiapan Nyepi, khususnya bikin ogoh-ogoh, membuat muda-mudi Hindu di Sidoarjo jadi lebih sering berkumpul. Gotong royong untuk membuat dua patung itu. Meskipun kualitasnya tentu tidak sebagus buatan seniman di Bali yang mahal itu. Begitu penjelasan Pak Putra.

Semoga Nyepi ini membawa kedamaian bagi alam semesta. 

Raja pelet pasang reklame

Saat nggowes pagi ini, saya melihat banyak banget reklame aneh yang ditempel di tiang-tiang jalan tol dan tiang listrik di kawasan Tambaksumur Waru Sidoarjo. Iklan raja pelet nomor HP... 

Dukun pelet alias tukang sihir pasang iklan? Itu sih sudah biasa di koran-koran atau majalah yang punya rubrik misteri, klenik, pesugihan dsb macam Posmo atau Liberty di Surabaya. Tapi raja pelet pasang iklan di pinggir jalan raya, wah... baru kali ini saya lihat.

Saya sempat coba menghubungi nomor telepon si raja pelet itu. Tapi tidak aktif. Mungkin karena masih terlalu pagi. Dukun santet juga perlu tidur... iya toh!  

Saya cuma ingin bertanya alasan pasang iklan di tiang tol, rekam jejak, hasil kerjanya selama ini, tarifnya berapa, belajar nyantet di mana dsb. Kalau bisa sih saya minta dia menyantet politisi dan pejabat-pejabat yang raja korupsi itu.

Seandainya raja pelet ini bisa melet koruptor, saya kira tidak perlu ada KPK. Tidak perlu operasi tangkap tangan segala. 

Ah, rupanya santet atau pelet tidak hanya ada di masyarakat pelosok di luar Jawa yang buta buruf, tapi masih gentayangan di kota sebesar Surabaya.

23 March 2017

Aqyu Chintha Syama Qhamu: Pop Indonesia Kebule-bulean

Minggu lalu saya sempat tengok lomba menyanyi pop di kawasan utara Sidoarjo, dekat perbatasan Surabaya. Hampir semua peserta berusia di bawah 25 tahun. Suara peserta bagus-bagus. Juga sulit menemukan cewek yang wajahnya jelek.

Boleh dikata semua peserta (laki perempuan) punya pengucapan kata seperti penyanyi-penyanyi terkenal di televisi itu. Artikulasi macam bule-bule yang baru belajar bahasa Indonesia. Yah... kayak gaya Ahmad Dhani pentolan Dewa serta artis-artis binaannya.

HANCHUL HATHIKHU
MENGENANG DHIKHAU
MENJADHI KHEPHING KHEPHING

Bagi kita yang biasa menikmati lagu-lagu pop Indonesia sebelum 2005-an, pengucapan kata-kata ala penyanyi-penyanyi pop (kemudian ditiru anak-anak sampai mahasiswa), rasanya janggal. Kuping jadi gatal. Apalagi bagi orang-orang yang pernah aktif di paduan suara yang baik dan benar.

Di paduan suara, latihan artikulasi, vokalisasi, melafalkan syair mendapat porsi yang sangat besar. Sebagian besar waktu latihan dihabiskan untuk membiasakan diri mengucapkan a i u e o.. la li lu le lo.. tra.. tri.. tru.. tre.. tro...

Anak-anak paduan suara biasanya mengucapkan:

HANN... CURR... HAA.. TII.. KU

Mengapa jadi begini ya? Kok orang Indonesia jadi kebule-bulean? Padahal orang bulenya sendiri berusaha keras untuk berlatih berbicara dengan aksen Indonesia.

Kok jadi mirip Cinta Laura semua: ''Kenapa gitchu dunkz .... which is which is ... so far dan .... aqyu chintha syama qhamu...''

Saya sendiri sudah lama tidak mengikuti perkembangan industri musik Indonesia. Sebab saya merasa tidak menarik lagi. Magnet musik pop Indonesia sudah tak berdaya untuk menarik perhatian saya. Padahal dulu saya hampir tidak pernah absen menonton konser band-band Indonesia di Surabaya, Sidoarjo, dan kadang-kadang Malang.

Saya bahkan sampai kenal baik Pak Jo Karundeng yang jadi koordinator pengamanan sebagian besar artis top. Ini membuat saya punya akses untuk ngobrol dengan bintang-bintang itu di belakang panggung. Bisa bersalaman dengan artis-artis yang sebetulnya tidak secantik di televisi atau media sosial. Ada penyanyi cewek terkenal yang jerawatnya banyak dan besar-besar-besar.

Ada apa dengan musik pop Indonesia?

Dalam beberapa kali diskusi di medsos dengan Yockie Suryo Prayogo, komposer, arranger dan pemain keyboard senior, topik ini juga jadi rasan-rasan orang-orang lawas. Musik pop Indonesia semakin ke sini semakin kehilangan rasa indonesianya. Tak hanya syair (lirik) dan pronunsiasi, tata musik dan sebagainya pun berubah.

JSOP menulis: ''.... setelah era gaya r & b (baca: er dan be) .... nyaris semuanya berubah jadi ngeselin.''

22 March 2017

Timnas U22 Masih Memble

Tim nasional Indonesia bermain bagus kayak Spanyol? Tiki taka, umpan2 pendek cepat dan akurat, banyak menguasai bola... umpan terobosan.. dan gol? Itulah impian banyak orang Indonesia ketika Luis Milla dikontrak sebagai pelatih timnas. Maklum, Luis Milla berasal dari Spanyol dan punya prestasi hebat di negaranya.

Sayang, di laga melawan Myanmar kemarin Indonesia kalah 1-3. Kalah fisik, teknik, dan segalanya. Padahal pemain2 Myanmar juga doyan makan nasi. Hehe... opo hubungane? Gak ono.

Gak popo. Ini cuma uji coba. Bukan pertandingan resmi. Kalah berapa pun gak masalah, kata saya menghibur anak-anak muda di warkop Gedangan Sidoarjo. Kita lihat saja perkembangan anak-anak muda U22 ini. Sebab mereka disiapkan untuk SEA Games. Masih ada waktu.

Tapi ya begitulah... kesan pertama Luis Milla kok tidak meyakinkan! Lupakan tika taka, penguasaan bola, mendikte lawan dsb. Yang saya lihat di babak pertama (babak kedua tidak lihat karena kecewa) adalah team work yang buruk. Kerja sama belum jalan. Pemain-pemain kurang visi bermain.

Ketika ada pemain di kiri yang bebas, si pemain tengah malah ngotot bawa bola sendiri. Sudah pasti dicegat oleh dua bek. Ketika wilayah kiri pertahanan lawan kosong, bola malah diumpan ke tengah. Kacau!

Saya bukan pengamat sepak bola. Cuma penggemar sepak bola yang biasa menonton latihan dan pertandingan bola kelas usia 12 tahun di Stadion Jenggolo Sidoarjo hingga tim nasional di Gelora Delta Sidoarjo juga. Belum lagi siaran langsung di televisi. Meskipun sudah sangat berkurang sejak Pep Guardiola tidak lagi melatih Barcelona.

Maka, kita beri kesempatan kepada Luis Milla untuk kerja kerja kerja untuk membenahi sepak bola Indonesia. Jelas butuh waktu sangat lama. Spanyol bisa begitu hebat karena punya pembinaan sepak bola yang luar biasa sejak usia SD hingga senior. Tidak ada jalan pintas untuk meraih prestasi.

''Jangankan Luis Milla, pelatih sekaliber Jose Mourinho pun tidak akan bisa membuat timnas kita bagus dan menangan,'' kata temanku wartawan senior yang juga kecewa berat menyaksikan laga Indonesia vs Myanmar.

Pelukis Itu Harus Gila Dulu

Buku terbaru karya Henri Nurcahyo berjudul SENI RUPA PANTANG MENYERAH dibahas di Kampung Seni Pondok Mutiara Sidoarjo. Sejumlah perupa antusias mendiskusikan isi buku tentang kegigihan para perupa dalam berkarya dan berpameran.

Dibandingkan seniman-seniman lain, menurut Henri Nurcahyo pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo, para pelukislah yang paling banyak mengadakan pameran. Baik pameran tunggal maupun pameran bersama. Di mana sana, termasuk di bawah pohon seperti di Pondok Mutiara Sidoarjo. ''Mereka tidak memikirkan soal laku apa tidak laku,'' ujar Henri.

Penulis 35 buku yang tinggal di Bungurasih Timur itu membahas kiprah sejumlah pelukis di Jawa Timur yang gigih dalam berkarya. Baik yang sudah meninggal maupun yang masih seger waras. Di antaranya, Jansen Jasien asal Krian yang juga dikenal sebagai aktivis pelestari bangunan cagar budaya, M Thalib Prasodjo (almarhum), Hardono (almarhum), hingga maestro sketsa Lim Keng (almarhum) yang lahir di Desa Kalitengah, Tanggulangin.

Menurut Henri, yang sudah puluhan tahun menjadi pemerhati seni rupa di Jatim, pameran-pameran lukisan yang sangat banyak itu tidak selalu jadi ajang pasar atau jual beli lukisan. Meskipun banyak pelukis yang diam-diam berharap lukisannya laku saat pameran. ''Tapi ada juga pelukis yang sedemikian idealisnya sampai-sampai dia menolak lukisannya laku,'' tutur pria kelahiran 22 Januari 1959 itu.

''Pelukis jenis ini sengaja tidak mau menjual lukisannya. Dia bisa mencari penghasilan dari usaha lain, bukan lukisan,'' tambahnya.

Ada tiga kutipan menggelitik dari maestro Affandi yang memancing diskusi hangat di kalangan para perupa. Pertama, ngelukis iku sing asik sing cepet. Kedua, pelukis itu harus pernah gendheng. Nek durung tau gendheng ojo dadi pelukis. Ketiga, nek dodol lukisan ojo didol dhewe, ora apik. Ngongkono wong liya!

Benarkah seorang pelukis itu harus pernah gila (gendheng)? Amdo Brada, pelukis senior yang juga kepala suku Kampung Seni, tertawa ngakak. Tapi ada pula beberapa pelukis yang tidak setuju omongan Affandi yang memang nyentrik itu.

''Gendheng di sini jangan diartikan secara harfiah. Intinya, pelukis atau seniman apa pun harus total dalam berkarya. Tidak boleh setengah-setengah,'' kata Amdo.

Gendheng juga bisa diartikan sebagai menciptakan karya-karya yang unik, eksperimental, tidak klise. Para pelukis tidak boleh terjebak dalam tuntutan pasar atau pesanan pedagang-pedagang seni rupa. ''Di dunia seni lukis itu selalu ada orang yang suka goreng-menggoreng lukisan untuk menaikkan harga,'' katanya.

Muhammad Adnan, pelukis senior, tidak setuju ucapan Affandi tentang kegilaan pelukis itu tadi. Selama 30-an tahun menekuni seni lukis, dia merasa selalu sehat jasmani dan rohani. ''Kalau gendheng tentu saya nggak bisa berkarya,'' ujarnya lalu tertawa kecil.

Amdo Brada tergolong pelukis yang pantang menyerah. Selain jam terbangnya yang panjang di seni rupa, dia masih tetap mempertahankan Kampung Seni di Pondok Mutiara yang dibuka pada 2015. Ruko yang disulap jadi studio dan tempat tinggal seniman itu sepi pengunjung dan berkali-kali ditinggal penghuninya. Namun, Amdo tetap saja berkarya dan menggelar pameran bersama di halaman.

Amdo juga mewajibkan peserta untuk membuat karya-karya terbaru yang out of the box dengan tema daur ulang. ''Alhamdulillah, bupati, kapolresta, ketua DPRD, beberapa pejabat dan tokoh masyarakat datang untuk memberikan apresiasi. Ada juga beberapa lukisan yang laku meskipun kami tidak jualan. Hehehe...,'' ujarnya.

21 March 2017

Zona Waktu Timor Leste yang Unik

Fretilin kembali pimpin Timor Leste. Begitu salah satu berita di koran Surabaya pagi ini. Laporan bung Justin dari Dilli menyebutkan Fretilin yang dulu musuh nomor 1 Indonesia (saat Timor Timor provinsi ke-27) itu masih populer di mata rakyat sana.

Xanana yang pentolan CNRT (juga musuh besar Indonesia zaman Pak Harto) mendukung Lu Olo dari Fretilin. Presiden Timor Leste ini nama aslinya Francisco Guterres. Nama-nama orang Timor Leste memang mirip orang Portugis, negara bekas penjajahnya.

Kok bisa negara jajahan meniru penjajah? Itulah hebatnya Portugal. Beda dengan Belanda yang menganggap bumiputra sebagai inlander kelas kelas kambing. Inlander dan anjing dilarang masuk, begitu tulisan di gedung Balai Pemuda Surabaya. Cuk... asu Londo!

Yang menarik dari berita pilpres di Timor Leste bagi saya bukan Fretilin, Guterres atau Xanana. Tapi zona waktu yang ditulis di berita itu. ''Hingga pukul 21.00 waktu Timor Leste atau pukul 19.00.....''

Haiya, kita orang baru tahu kalau Timor Leste pakai zona waktu yang berbeda dengan NTT kampung halaman saya. Padahal Timor Leste itu satu pulau dengan Kupang ibukota NTT yang pakai waktu Indonesia tengah. Timor Leste pun tidak pakai waktu Indonesia Barat. Timor Leste memundurkan waktunya satu jam lebih cepat dari WIB alias GMT+6.

Bagi saya, yang sudah lama banget mengkritik zona waktu Indonesia, pilihan pemerintah Timor Leste menggunakan GMT+6 sangat sangat cerdas dan cermat. Itu berarti pemerintahnya sudah membandingkan Malaysia, Singapura atau Brunei yang punya kebijakan cerdas soal zona waktu.

Zona waktu Timor Leste yang diajukan dua jam dari NTT (Indonesia) punya banyak kelebihan. Ketika Kabupaten Belu NTT, tetangga terdekat, pukul 07.00, Timor Leste sudah jam delapan. Ketika anak-anak Timor Leste sudah berada di sekolah jam tujuh pagi, di NTT masih jam enam.

Apakah wilayah NTT masih gelap dan Timor Leste sudah hangat mentari? Tidak. Sama saja. Tapi dengan GMT plus 6 maka orang Timor Leste yang bekerja jam tujuh dijamin lebih sejuk. Asal tahu saja, jam 7 pagi di Surabaya rasanya sudah panas. Jam 5 pun sudah sangat terang.

Kalau diperpanjang, implikasi zona waktu Timor Leste ini lebih panjang lagi. Matahari tenggelam alias magrib di Surabaya yang rata-rata pukul 5.30 hingga dekat 6pm, di Timor Leste justru baru jam delapanan. Kantor-kantor dan perusahaan bisa hemat listrik buanyaaak sekali karena karyawan sudah pulang ketika masih sangat terang.

Salam untuk rakyat Timor Leste!

14 March 2017

Mengapa Grup Medsos Mati Suri?

Sejak tahun lalu saya perhatikan berbagai grup media sosial, khususnya Facebook, di Sidoarjo bubar. Sebetulnya masih ada tapi tidak ada status atau pos baru. Ada grup yang cuma punya 4 postingan dalam setahun.

Kelihatannya grup-grup media sosial di Sidoarjo sudah mencapai titik jenuh. Grup SMS (Suara Masyarakat Sidoarjo) pagi ini cuma ada 4 status baru. Itu pun tidak lagi berisi informasi tentang kemacetan, genangan air, kesehatan, pendidikan, atau hal-hal yang menyangkut kepentingan masyarakat.

Postingan yang ada 90 persen jualan alias iklan. Kemudian dakwah teman-teman yang beraliran skripturalis dan mengusung isu purifikasi. Dakwah macam ini sangat aktif di media sosial. Aslinya sih hasil copy paste atau share dari sumber-sumber lain.

Lantas ke mana 3504 member SMS yang pernah disebut-sebut grup paling populer di Sidoarjo itu? Tidak aktif. Bahkan banyak member yang sudah tidak follow. "Grup-grup medsos itu kan cuma untuk guyonan aja. Orang cepat bosan kalau isinya tidak sesuai dengan seleranya," kata Syamsul dari Gedangan.

Berikut beberapa penyebab grup-grup medsos di Sidoarjo mati suri:

1. Anggota yang terlalu heterogen dengan berbagai latar belakang.

2. Tidak saling kenal di dunia nyata. Hanya sedikit yang berteman di alam nyata. Itu pun hasil kopi darat beberapa kali.

3. Tidak ada TS alias topic starter yang mumpuni. TS yang sejalan dengan visi dan misi grup.

4. Terlalu banyak dakwah dan isu SARA yang cenderung menyudutkan agama lain. Termasuk menyerang sesama agama yang berbeda aliran atau paham.

5. Terlalu banyak iklan baik terselubung maupun terang-terangan. Grup-grup medsos memang lahan empuk bagi bakul-bakul start-up untuk promosi.

6. Para admin tidak melakukan evaluasi secara berkala. Mengapa grup sepi? Mengapa banyak member yang dulu rajin menulis isu-isu penting mundur.

7. Perpecahan di tubuh administrator. Mereka membuat grup-grup baru yang sejenis.

8. Diskusi sering tidak terarah. Isu jalan rusak misalnya ditanggapi dengan guyonan atau meme-meme yang kocak atau rada ngeres. Moderator atau admin seperti tak berdaya.

9. Banyak isu lawas atau foto-foto lawas di-republish seakan-akan peristiwa aktual. Contoh: ada member menaikkan foto tumpukan sampah di daerah Taman plus komentar yang sangat kritis. Setelah dicek ternyata foto itu sudah satu tahun lalu.

10. Informasi atau diskusi di medsos jarang ditindaklanjuti oleh pemerintah. Contoh: jalan rusak atau pungutan liar di sekolah. Isu ini paling banyak dibahas di grup-grup Sidoarjo tapi efeknya hampir tidak ada.

11. Dianggap kurang spesifik. Grup Forum Kesenian Sidoarjo ditinggalkan para pelukis yang bikin grup sendiri namanya Komunitas Perupa Delta. Ada pelukis lain yang bikin grup Sketsapora, Bumbu Pawon, dan entah apa lagi.

Grup-grup beranggota sedikit ini biasanya sangat kompak dan guyub. Seperti Komperta (pelukis) yang rajin mengadakan kegiatan melukis on the spot. Jadi bukan cuma diskusi atau debat kusir di dunia maya.

12. Banyak laki-laki yang menggoda janda-janda dengan meme atau guyonan dsb.

13. Silakan tambah sendiri.

13 March 2017

Terima Kasih Baginda Raja Salman

Terima kasih Raja Salman yang sudah mengunjungi Indonesia. Sang Baginda berlibur cukup lama di Bali. Saking senangnya, penguasa Arab Saudi ini memperpanjang masa liburnya dua hari pulau dewata itu.

Fenomenal. Saya rasa belum ada kepala negara asing yang berlibur hampir dua minggu di Indonesia. Biasanya cepat-cepat balik karena banyak urusan kenegaraan sudah menanti. Makanya banyak kepala negara/pemerintahan yang tidak sampai bermalam di Indonesia.

Kehadiran Raja Salman di tanah air juga membuktikan bahwa Arab Saudi ternyata tidak seekstrem yang kita bayangkan selama ini. Raja Salman justru bertemu dengan pimpinan berbagai agama. Malah ngobrol akrab pakai bahasa Arab dengan seorang pastor SVD asal Flores di Bali.

Mengapa Raja Salman justru memilih berlibur begitu lama di Bali? Pulau yang mayoritas penduduknya Hindu? Kok bukan jalan-jalan ke Aceh atau Minangkabau yang islamnya lebih kental?

Ini juga menarik. Sekaligus membungkam Munarman dari FPI yang beberapa waktu lalu menyerang para pecalang di Bali dengan tuduhan miring. Bali kembali membuktikan diri sebagai pulau wisata ternyaman di dunia. Raja Salman mau menambah waktu liburnya itu luar biasa.

Kadang-kadang orang Indonesia, khususnya yang merasa alam dan sangat islami, merasa lebih Arab ketimbang wong Arab. Lihat saja tulisan di pesawat Saudi Arabian Airlines yang membawa rombongan Raja Salman: GOD BLESS YOU.

Kata-kata God Bless You sudah lama dianggap tidak islami oleh orang-orang Indonesia yang merasa alim. Mereka ganti GOD dengan ALLAH. Jadilah ALLAH BLESS YOU. Lah, kok Kerajaan Arab Saudi yang katanya beraliran wahabi malah pake God Bless You?

Seandainya Baginda Raja Salman berulang tahun di Indonesia, saya yakin pengguna media sosial di sini akan mengucapkan Happy MILAD to King Salman! Kata BIRTHDAY sudah lama dihapus oleh orang-orang alim di Indonesia karena dianggap tidak islami.

Tapi saya tetap yakin orang-orang Saudi menggunakan frase bahasa Inggris yang lazim Happy Birthday to HE King Salman!

Sekali lagi, terima kasih dan selamat jalan Raja Salman! Kunjungan Baginda sudah memberi makna yang sangat dalam baik eksplisit maupun (terutama) implisit bagi kami di Indonesia.

10 March 2017

Sukari 40 Tahun Menjaga Pulau Dem Sidoarjo


Tahun ini genap 40 tahun Pulau Dem di Dusun Tlocor, Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, dihuni orang. Sukari yang babat alas pulau di dekat muara Sungai Porong ini pun masih bertahan bersama keluarga Slamet Solikin untuk menjaga pulau yang luasnya sekitar 600 hektare itu.

Saking lamanya menetap di Dem, lelaki asal Jember ini sering disebut Danyang Pulau Dem. Tak terasa, waktu 40 tahun berlalu begitu cepat. Sukari pun tak lagi khawatir menghadapi binatang-binatang liar seperti celeng, ular, monyet, hingga buaya. "Sekarang ini ramai karena banyak pekerja tambak dan orang-orang yang datang ke sini untuk mancing. Makanya, saya dan istri bisa jualan kopi, mi instan, camilan, dan sebagainya," ujar Sukari kepada saya di rumahnya di Pulau Dem, Minggu 5 Maret 2017.

Mengapa Pulau Dem tidak dijadikan tempat wisata? Wacana seperti itu sudah sering diucapkan. Apalagi ketika jalan akses dari Jembatan Porong ke arah timur hingga Dermaga Tlocor sudah mulus. Namun, tidak mudah diwujudkan mengingat ribuan petak tambak ini dimiliki begitu banyak juragan asal Tanggulangin, Porong, Jabon, Sidoarjo dan sebagainya. Berbeda dengan pulau buatan BPLS yang bernama Pulau Lumpur alias Pulau Sarinah yang statusnya 100 persen milik pemerintah pusat. Sehingga Pulau Sarinah punya prospek yang sangat cerah untuk dikemas sebagai destinasi wisata baru.

Sebaliknya, para juragan tambak di Pulau Dem ini rupanya sudah kerasan dengan usaha pertambakan yang memang sangat menguntungkan. Usaha rumput laut yang baru belakangan dikembangkan di Pulau Dem pun ternyata cocok. Hasilnya tidak kalah dengan di Tanjungsari, salah satu desa di Kecamatan Jabon. "Selama ini wisatanya ya mancing itu. Ada juga pelajar yang ke sini untuk survei dan
wawancara," katanya.

Meski begitu, Sukari mengakui pernah ada pengusaha yang mencoba membangun tempat wisata di Pulau Dem. Pengusaha dari luar itu bahkan sempat membangun gazebo, jembatan, dan sebuah dermaga baru. Juga membuat fondasi bangunan yang cukup luas di dekat tempat
peristirahatan yang menghadap ke Tlocor itu. Namun, tiba-tiba 'pembangunan yang sangat gencar di awal itu dihentikan.

"Saya tidak tahu kenapa kok tidak dilanjutkan. Lah, wong saya nggak pernah ngobrol sama pengusaha itu," katanya.

Apakah ada masalah dengan status tanah? "Setahu saya tidak ada karena sertifikatnya kan ada. Yah, kita lihat saja perkembangannya," ujar ayah tiga anak itu.

Di sisi lain, Pulau Dem yang dikuasai puluhan individu juragan tambak juga menjadi kendala bagi pemerintah untuk mengembangkannya sebagai destinasi wisata. Sebab pemkab tentu tidak mungkin membangun wahana rekreasi di lahan milik warga. Kecuali tanah-tanah itu dibebaskan dulu alias dibeli pemerintah.

Sejauh ini Pemkab Sidoarjo hanya bisa membantu pemavingan jalan-jalan setapak di pematang tambak. Itu pun sangat terbatas. "Alhamdulillah, sekarang sudah ada listrik (PLN) sehingga kami bisa punya hiburan televisi, ngecas HP, pasang kipas angin dan sebagainya," ujar Sukari.

07 March 2017

Nostalgia Bahasa Latin di Gereja Katolik

Misa di Wonokromo Surabaya malam Minggu kemarin dipimpin Pater Kris Anen SVD asal Adonara Flores Timur NTT. Sama-sama berbahasa Lamaholot seperti saya yang asal Lembata, tetangga terdekat Adonara. Sejak awal 70an romo-romo asal NTT, khususnya Flores, memang dipercaya mengelola Paroki Yohanes Pemandi Surabaya itu.

Yang menarik bukan karena kedekatan asal usul dan kesamaan bahasa ibu saya dan pater paroki. Melainkan penggunaan bahasa Latin oleh kor yang dominan. Mulai ordinarium Kyrie sampai Agnus Dei plus Pater Noster alias Bapa Kami.

Lagu-lagu Gregorian Latin memang agak diabaikan gereja-gereja Katolik di Indonesia selama 50 tahun ini. Bahkan di seluruh dunia. Setelah Konsili Vatikan II tahun 1965, dimulailah penggunaan bahasa lokal untuk misa alias perayaan ekaristi. Syair Gregorian yang aslinya Latin pun jadi berbahasa Indonesia.

Maka umat Katolik yang lahir di atas 1970 boleh dikata tidak hafal doa-doa utama dalam bahasa Latin. Bahkan Pater Noster dan Ave Maria, doa resmi yang paling banyak diucapkan di kalangan Katolik, pun tidak hafal. Hanya para pater atau suster yang menguasai doa-doa bahasa Latin.



Begitulah. Saat paduan suara di Wonokromo mengajak umat menyanyikan Pater Noster dari Puji Syukur nomor 402, semua orang kelimpungan. Bolak balik Puji Syukur tapi tetap kesulitan karena tidak biasa. Padahal melodinya sangat sederhana dan hampir tiap Minggu dinyanyikan di kampung asal saya di Lembata... tapi pakai syair bahasa Indonesia.

Rupanya setelah 50 tahun meninggalkan bahasa Latin, saya perhatikan umat Katolik mulai kangen-kangenan atau nostalgia ke masa lalu. Kor-kor makin banyak membawakan Gregorian asli bahasa Latin. Malah banyak lagu yang tingkat kesulitannya sangat tinggi.

Bahkan, banyak pula umat Katolik yang ikut komunitas pencinta Misa Tridentina alias Tridentine Mass. Misa versi pra Vatikan Kedua ini sepenuhnya dalam bahasa Latin. Kecuali homili dan bacaan kitab suci. Romo juga tidak menghadap umat seperti sekarang.

Saya pun mencoba membiasakan diri menikmati tembang-tembang Gregorian yang diambil dari Youtube. Awalnya terasa datar seperti sayur kurang garam.. tapi lama-lama ketagihan. Apalagi kalau menikmati Exsultet yang biasa dibawakan saat malam Paskah itu. Luar biasa indah. Bikin pikiran jadi tenang.

Fenomena kembalinya nuansa Latin ini rupanya tidak bisa dilepaskan dari kepemimpinan Paus Benediktus XVI yang sekarang emeritus. Bapa Suci ini memang mengajak umat Katolik untuk melantunkan beberapa doa sederhana dalam bahasa Latin. Meskipun sudah diganti Paus Fransiskus yang gayanya agak lain, imbauan Paus Benediktus makin dirasakan di tanah air.

Saya sendiri masih belum bisa hafal doa Saya Mengaku alias Confiteor Deo. Apa boleh buat, saya terpaksa baca aja dari buku misa tua terbitan tahun 1958 di lapak pedagang buku bekas di Jalan Semarang, Surabaya. Saya yakin tidak banyak orang Katolik di Jawa Timur yang masih menyimpan buku Misa Tridentina itu.

Confiteor Deo omnipotenti,
et vobis, fratres,
quia peccavi nimis
cogitatione, verbo,
opere, et omissione:
...............................
...............................

01 March 2017

Mea Culpa, Saya Lupa Rabu Abu

Tak terasa hari ini Rabu Abu. Awal puasa atau masa prapaskah Katolik yang berlangsung 40 hari. Saya baru sadar Rabu Abu justru setelah makan siang di tempat perayaan ulang tahun koran Radar Gresik.

Duh.. Gusti, awal puasa dan pantang saya justru makan enak layaknya di pesta. Makan kenyang, porsinya banyak pula. Ada kue-kue, buah-buahan dsb. Puasa dan pantang hari pertama sudah pasti gagal.

Tiba-tiba saya dapat SMS dari Pak Paulus Latera, guru SMA Kristen Petra 3 Surabaya. Pake bahasa Lamaholot atau Flores Timur: "Ama, hode abu kae le wati Ama!"

Artinya, Bung, sudah terima abu atau belum?

Oh Tuhan! Mau jawab apa nih. Saya pun menjawab belum terima alias belum pigi gereja karena ada kegiatan kantor di Gresik. Saya kemudian mengucapkan selamat memasuki prapaskah.

Sekitar 10 menit kemudian datang lagi SMS dari bung Yan di Lembata NTT. Seperti biasa isinya agak panjang dan mirip khotbah. Bunyinya begini:

"Kasihanilah kami, ya Allah menurut kasih SetiaMu! Selamat memasuki masa Prapaskah!

Kita saling doakan dalam menjalankan retret agung ini spy bisa membawa penyelamatan bagi dunia & diri sendiri. Selamat merayakan Perjamuan KasihNya."

Hehehe... tambah gak enak. Tapi saya bersyukur karena diingatkan Tuhan melalui beberapa rekan ini. Bahwa sesibuk apa pun kita tak boleh mengabaikan kewajiban liturgis.

Lima menit lalu, saat menulis catatan ini di Sidoarjo, Ricky yang Tionghoa menyapa saya. "Sekarang Rabu Abu. Kamu ke gereja di Sidoarjo atau Surabaya? Saya mau misa di HKY Surabaya," ujar teman akrab itu dengan suara dikeraskan.

Hehe... asem tenan!

Selamat Rabu Abu!