06 February 2017

Zilvia Iskandar Presenter Metro TV

Tak banyak orang Tionghoa yang bekerja di media. Biasanya jadi laopan media macam Hary Tanoe itulah. Zilvia Iskandar merupakan salah satu dari sedikit nona tenglang yang saben hari kita orang liat dia punya paras ayu di Metro TV.

Awalnya Aling, sapaan Zilvia Iskandar yang asal Bangka Belitung, jadi presenter program bahasa Inggris. English-nya memang fasih karena Aling pernah jadi juara Asian English Olympics, semacam lomba membawakan berita dalam bahasa Inggris.

Kini, setelah empat tahun jadi presenter, Aling makin sering nongol di Metro TV. Tidak lagi berita bahasa Inggris tapi lebih ke politik hukum keamanan (polhukam). Saya lihat Aling tampil wajar, menguasai materi, tanya jawab mengalir lancar.

Sumber berita pun kelihatannya nyaman diwawancarai nona Tionghoa Blitong ini. Contohnya Antasari Azhar. Mantan ketua KPK ini bisa bercerita banyak tentang hal-hal sensitif. Padahal di televisi lain Antasari cenderung hemat bicara. Tidak bicara selepas saat diwawancara Aling.

Dari dulu yang namanya narasumber memang begitu. Cocok-cocokkan dan milih-milih reporter. Dengan reporter A dia bicara satu dua kalimat saja. Bahkan tidak mau diwawancarai. Dengan reporter B lumayan lama. Dengan si C bisa ngobrol berjam-jam, ngopi, dsb.

Di Surabaya ada taipan Tionghoa yang hanya mau diwawancarai panjang lebar sama N, reporter senior. Tak hanya ngobrol, si N ini teman main pingpong laopan kelas atas itu. ''Kuncinya itu soal rasa. Gak bisa dipaksa,'' ujar Pak N seraya tersenyum lebar.

Nah, si Aling alias Zilvia Iskandar ini saya perhatikan bisa 'dinyamani' siapa saja. Ini karena pertanyaan-pertanyaannya tidak mirip polisi menginterogasi pelaku kejahatan atau hakim/jaksa mengorek keterangan terdakwa. Pertanyaan Aling itu dikemas polos, sederhana, tapi membuat narasumber bisa bercerita dengan enak.

''Saya dari kecil memang suka memperhatikan news anchor di televisi,'' ujar putri pemilik sebuah restoran di Manggar Belitung Timur, kota asalnya Ahok, gubernur Jakarta nonaktif.

Alah bisa karena biasa. Awalnya Aling mengaku grogi berbicara di depan kamera. Tapi lama-lama terbiasa dan menikmati pekerjaan sebagai presenter televisi berita. Termasuk harus bagun pagi-pagi atau begadang karena harus siaran di studio.

Kelihatannya berat menjadi jurnalis atau presenter TV. Tapi Aling bilang tidak capek, malah enjoy, karena pekerjaan ini memang hobi. Tidak terasa seperti bekerja.

''Profesi ini juga membuat aku bisa menemui orang-orang penting di negeri ini. Aku bisa ngobrol, diskusi, membangun jaringan dengan berbagai kalangan. Itu akan sulit dilakukan kalau aku tidak di posisi ini,'' ujarnya.

1 comment: