07 February 2017

Norma di ruang pengadilan memang beda

Dialog antara Ahok (plus penasihat hukumnya) dengan saksi di persidangan KH Maruf Amin masih jadi bahan polemik di masyarakat. Pagi tadi politisi Demokrat kembali mengangkat isu ini di televisi untuk menyerang Ahok yang lagi berjuang agar terpilih jadi gubernur Jakarta.

Yockey Suryo Prayogo (JSOP) musisi senior dan budayawan berkali-kali mengingatkan masyarakat untuk menempatkan segala sesuatu pada porsinya. Ini yang sulit. ''Kita ini berbangsa tapi belum siap bernegara,'' ujar JSOP.

Ribut-ribut kasus Ahok yang berkepanjangan menjadi contoh gamblang kegamangan kita untuk belajar demokrasi. Norma sosial, norma hukum... kacau balau di sini. Omongan Ahok yang bocor, kurang tenggang rasa digoreng jadi masalah pidana. Kemudian diseret ke pengadilan.

Lalu muncul masalah baru pekan lalu. Orang-orang tersinggung karena ulama senior, tokoh NU, ketua MUI, dicecar pertanyaan oleh terdakwa dan pengacaranya. Apakah salah Ahok dkk mengorek keterangan dari saksi-saksi?

Kita sering lupa bahwa ruang pengadilan itu punya norma atau unggah-ungguh sendiri. Siapa pun yang duduk sebagai saksi atau terdakwa harus siap dicecar pertanyaan-pertanyaan oleh hakim, jaksa, pengacara.

Begitu kita berada di ruang sidang maka segala atribut di luar dilepas. Tak peduli profesor, pastor, pengusaha yang punya 30 pabrik, ulama, gubernur, bupati, tukang becak, nelayan, petani.

Beberapa tahun lalu Romo Frans Amanue, pastor dan tokoh Katolik di Flores Timur, jadi terdakwa di Pengadilan Negeri Larantuka. Romo ini pun dicecar pertanyaan bertubi-tubi dari hakim dan jaksa (yang mewakili pelapor). Kata-kata mereka tidak enak didengar bagi umat Katolik di NTT yang sangat menjunjung tinggi seorang romo yang mendapat urapan imamat kudus.

Tapi hukum adalah hukum. Sidang pengadilan jalan terus dengan segala dinamikanya. Romo Frans yang diadili karena paling gencar menolak tambang mineral itu akhirnya divonis bebas. ''Ini memang risiko saya sebagai gembala umat,'' ujar romo asal Adonara itu.

Semoga orang Indonesia semakin rasional dan mau belajar untuk bernegara.

2 comments:

  1. Lain lubuk lain ikannya. Ahok sama sekali tidak bersalah terkait kasus Al Maidah atau Maruf Amin,
    asalkan saja dia hidup di Eropa, bahkan Ahok boleh memakai ayat Injil untuk membela dirinya.
    Tetapi Ahok pasti bersalah, jika dia di Eropa memaki seseorang dengan kata maling, bajingan, didepan umum.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Encek Jerman, anda salah memahami Ahok. Ahok tidak pernah memaki seseorang tertentu sbg maling atau bajingan. Yang berulang kali dia katakan ialah jika ada perkara di mana kepentingan rakyatnya dipermainkan oleh pejabat pada umumnya seperti pada kasus APBD DKI, di mana banyak alokasi dana siluman untuk proyek2 yg dimarkup, dia mengatakan itu praktik para bajingan, para maling. Libel atau defamation itu hanya jika tudingan itu tidak betul. Nyatanya, yg diciduk KPK ialah ketua DPRD Mohammad Sanusi. Buktinya dia benar kan?

      Ahok membawa angin segar dan teladan bhw orang Tionghoa itu jujur dan peduli mengabdi rakyat, bukan hanya menumpuk kekayaan saja. Inilah jalan baru untuk Indonesia yang lebih maju. Sejarah menunjukkan taktik generasi anda yang takluk dan melulu mengabdi rejim yang jahat itu tidak efektif dan malah makan tuan di jangka panjang dengan adanya riot dan pengrusakan thd properti dan bahkan nyawa orang Tionghoa.

      Nikmatilah pensiun Anda di Tiongkok, dan berhentilah mengkritik dengan tidak proporsional generasi Tionghoa baru yang berani beda untuk kepentingan anak cucu mereka yang meng-Indonesia dengan kental.

      Delete