25 February 2017

Indonesia berubah kayak Afghanistan?




Sascha Stevenson punya opini yang gelap tentang masa depan Indonesia. Seperti apa Indonesia 10 tahun mendatang? 20 tahun? 50 tahun? Simak di sini
https://m.youtube.com/watch?v=Dnrs1ulccgA

Akankah Indonesia bakal jadi seperti Afghanistan yang kacau balau? Yang perempuannya tidak boleh sekolah, cuma mendekam di dalam rumah? Tidak ada kebebasan bicara atau berpendapat? Bahkan model pakaian yang dipakai pun sudah ditentukan oleh tokoh masyarakat, pemerintah atau ulama?

Sascha termasuk bule pendatang baru di Indonesia. Awalnya jadi guru bahasa Inggris di EF, kemudian belajar Islam, jadi mualaf, pakai cadar yang sangat tertutup... dan akhirnya jadi seperti sekarang. Nikah dengan dosen asal Bandung.

Sascha banyak mencermati kehidupan sosial politik agama musik pendidikan dsb di Indonesia sejak 2001. Satu dekade lebih. Tapi rupanya wanita asal Kanada ini sudah merasakan ada indikasi yang mengarah ke gaya hidup ala Afghanistan.

Siapa orang Indonesia yang mau berwisata ke Afghanistan sekarang? Apalagi wanita. Apa yang bisa dinikmati di Afghanistan yang penuh chaos itu? "Saya tidak akan mau," ujar Sascha yang sangat terkenal di Youtube itu.

Jauh sebelum Sascha bicara gamblang di Youtube, saya sudah membaca tulisan-tulisan beberapa sarjana Barat pada tahun 80an dan 90an. Mereka sudah menangkap isyarat itu sejak lama. Dan itu dimulai saat perdebatan panas pembahasan undang-undang perkawinan tahun 1974.

"Sekitar 30an tahun ke depan Indonesia akan sangat berubah. Anda akan kesulitan melihat rambut wanita Indonesia di depan umum," tulis pakar asal Jerman yang saya lupa namanya.

Begitulah. Yang namanya masyarakat senantiasa berubah mengikuti perkembangan zaman. Tentu berubah menjadi lebih baik dan baik. Kalau berubah menjadi seperti Afghanistan yang dikuasai Taliban ya wassalam.

3 comments:

  1. Indonesia berubah kayak Afghanistan ? Amin. Idaman
    si-Rizieq menjadi kenyataan, Negara Islam Khalifah,
    dimana seluruh rakyatnya sejahtera, adil makmur, aman sentosa.
    Kayak orang memancing ikan di danau, selalu merasa tepi seberang lebih ideal dan lebih banyak ikannya.

    ReplyDelete
  2. Surabaya 30 tahun lalu dengan sekarang saja lain. Thn 80an anak2 SMA putri pakai rok sedikit di bawah lutut sbg tanda sopan; sekarang kulihat anak2 SMA negeri harus semata kaki. Jilbab makin menjadi keharusan gaul. Masjid tiap 100 meter.

    ReplyDelete
  3. Perubahan sastra dan budaya Indonesia juga dirasakan oleh mayoritas rakyat Indonesia, hanya saja mereka diam. Begitulah sifat mereka, diam bisa berarti tidak setuju atau setuju. Diam dan senyum nya orang Indonesia susah ditebak. Untuk memahami fenomena itu, seseorang harus memiliki perasaan yang sensibel.
    Bahayanya kalau silent majority itu mulai berunjuk rasa, maka mereka bukannya marah-marah mengajak berdialog dan berargumentasi, melainkan mereka mengamuk membabibuta, kesurupan, kerauhan, lupa ingatan. Ya, lupa ingatan, sebab keesokan harinya mereka sudah senyam-senyum lagi, se-olah2 tidak pernah kejadian apa-apa.
    Minggu ini menteri pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu, mulai memberi Signal peringatan kepada Baasyir, Felix Siauw dan para pengikutnya. Janganlah nasehat itu dianggap sepele, bak angin berlalu. Ingat tidak ada bangsa diatas bumi mengenal kata atau istilah AMUK, MENGAMUK, kecuali orang2 Indonesia.
    Ya, Felix Siauw, kemanakah engkau akan pergi, jika engkau diusir dari Indonesia ? Negara manakah diatas bumi yang bersedia menampung mu, jika engkau diusir dari Indonesia ? Apakah lu sudah pernah berpikir tentang hal itu ? Gara2 lu, gua sampai mencari pasport tua gua, disitu ada tercantum Visa The United States of America, 9 Mar 1989, Indefinitely, Multiple. Ke Tiongkok gua juga punya Green Card. Pulang ke Indonesia juga bebas visa. Enakkan hidup sebagai kuli seperti gua, daripada jualan abab seperti lu. Mikir, mendusinlah Felix !

    ReplyDelete