11 February 2017

Homili Minggu Ini Bahas KAFIR



Matius 5 : 22
''Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.''

''But I say to you, whoever is angry with his brother will be liable to judgment, and whoever says to his brother, 'Raqa,' will be answerable to the Sanhedrin, and whoever says, 'You fool,' will be liable to fiery Gehenna.''

Minggu ini umat Katolik di seluruh dunia membahas tema ini: marah, kafir, perzinaan, sumpah dsb. Yang aktual hari2 ini, di tengah suhu politik yang panas, adalah KAFIR.

Siapa yang KAFIR? Definisinya apa kafir itu? Apakah orang yang berbeda agama itu kafir? Yang agamanya sama2 kristiani tapi beda aliran gereja bagaimana? Kafir kah?

Kalau mengacu pada ucapan Yesus Kristus yang dibahas di gereja2 Minggu ini, Minggu VI Masa Biasa, maka kata KAFIR harus dicoret dari kamus rohani kristiani. Kita tidak berhak menyebut siapa pun KAFIR atau RAQA dan kata2 sinonimnya.

''Siapa yang menyebut sesamanya KAFIR harus dihadapkan ke mahkamah agama,'' begitu peringatan Gusti Yesus.

Sayang, di era media sosial ini, di Indonesia, kata KAFIR mengalami inflasi luar biasa. Begitu mudah orang mencap sesama manusia dengan kafir kafir kafir...

Kata KAFIR ini kayaknya lebih cocok dikenakan pada para koruptor pencuri uang rakyat. Siapa pun orangnya, apa pun agama dan jabatannya, kalau korupsi ya kafir. Alias ingkar dari amanat rakyat. Menteri agama sekalipun yang hafal kitab suci, kalau korupsi ya kafir. Hakim konstitusi yang korupsi? Sama aja kafirnya. Begitu.

8 comments:

  1. Terjemahan Bahasa indonesia nya kurang akurat. Kata raqa jika kita google ternyata adalah bahasa Ibrani / Adam kuno yang berarti "kosong / tak berisi". Seperti kakek saya yg Cina dan suka memaki dalam bahasanya "khong khong siauw". Khong artinya kosong, tak berisi, alias mengatai orang itu goblok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas masukan sampean yg sangat informatif. Salut... sampean ternyata punya pemahaman Alkitab yg sangat dalam meskipun katanya bukan kristiani. Eksegese dengan melacak akar kita biasanya hanya dipelajari mahasiswa2 teologi alias calon romo atau pendeta protestan. Saya sendiri yg awam Katolik tidak pernah mendalami etiomologi biblis. Apalagi awam Katolik di Indonesia sering diidentikkan dengan orang yg jarang membaca kitab suci atau menggarisbawahi kata2 atau pake stabilo kayak umat gereja kristen protestan pentakosta injili dsb.

      Terjemahan bahasa Inggris pun beda2. Salah satu versi english yang saya pake begini:

      Matius 5 : 22
      But I say to you that anyone who is angry with a brother will be subjected to judgment. And whoever insults a brother will be brought before the council, and whoever says ‘Fool’ will be sent to fiery hell.

      Delete
    2. Bagusnya zaman sekarang ada internet google dsb yg banyak banget menyediakan informasi tentang Bible Study.. akar2 kata asli, terjemahan yg akurat dan mendekati asli dsb.

      Saya yakin ahli2 Alkitab di Indonesia pada tahun 1960an dan awal 70an sangat memahami naskah asli Alkitab termasuk RAQA...

      Mereka pasti punya alesan untuk memakai kata KAFIR untuk versi bahasa Indonesia. Repotnya, kata KAFIR ini punya pengertian yg sangat berbeda dengan versi umat Islam khususnya FPI dan sejenisnya.

      Delete
    3. Pak Lambertus ternyata benar. Coba ikuti diskusi di http://forums.catholic.com/showthread.php?t=648940

      Ternyata, "fool" di sini lebih dari sekedar bodoh, tetapi orang yang bodoh dan buta hati sampai tidak mengakui Tuhan. Karena itu diterjemahkan Kafir dalam bahasa Indonesia.

      Memang oleh umat Islam garis keras, kata kafir itu mempunyai arti mereka yang bukan Islam. Padahal Orang Kristen dan Orang Yahudi sudah percaya kepada Allah atau Yahweh jauh sebelum wahyu diturunkan Tuhan kepada Muhammad. Wallahualam bissawab. Hanya Tuhanlah yang berhak menghakimi manusia.

      Delete
  2. Dalam Perikop ini ada ajaran Yesus tentang 3 tingkatan dosa yg disebabkan marah. Yg pertama ialah marah yg disimpan terus dalam hati (mendem jero). Yesus memperingatkan di akhir zaman nanti orang begitu akan dihakimi. Tingkat ke dua: marah kepada sesama secara memaki-maki tetapi tidak di depan umum. Dalam hal ini bisa dibawa ke pengadilan Yahudi. Marah yg tingkat ketiga, sudah memaki, di depan umum pulak. Mencemarkan nama baik orang. Marah yg ini dosanya dihukum masuk neraka jahanam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus banget tuan Amrik punya tafsiran... inilah bedanya orang yg tinggal di USA yg punya budaya berpikir dalam indepth thinking dan banyak membaca dengen kita punya orang di Indonesia yg kebanyaken lebih doyan ngomong en kurang suka membaca.

      Pengertian atau tafsiran berbobot seperti itu yg sangat kurang di sini. Malah sejak 80an muncul begitu banyak orang yg bergelar pendeta (belakangan pake istilah USA: pastor) yang kerjaannya jadi tukang khotbah tapi hanya mengandalkan Alkitab versi bahasa Indonesia yg menerjemahkan RAQA dengan KAFIR itu. Kemudian diperkaya sedikit dengan Bible versi Inggris yg juga sudah memparafrase kalimat aslinya.

      Mungkin karena kesulitan2 inilah sehingga tempo doeloe Gereja Katolik tidak mengizinkan umat awam untuk berkhotbah atau membuat tafsiran kitab suci.

      Bikin tafsiran tanpa memahami konteks dan bahasa aslinya bisa jadi melenceng jauh. Lah, alkitab inggris yang saya pake menggunakan kata IDIOT untuk raqa.

      Delete
    2. Oom Lambertus, saya hanya pencet pencet Google saja dan menyaring sumber-sumber yang dapat dipercaya. Dalam waktu beberapa menit saja sudah dapat informasi yang saya bisa percaya.

      Delete
    3. Betul banget... itulah kelebihan google dan teknologi internet yg menyediakan informasi berlimpah ruah. Tapi penggunanya harus tetap punya pengetahuan dan pengalaman dasar agar bisa nyambung. Makanya kita yg non muslim pasti sulit merangkai informasi yg begitu banyak di internet tentang Almaidah dsb.

      Itu pula sebabnya seorang yg beragama X tidak bisa menjadi guru agama Y meskipun pengetahuan agama Y-nya jauh lebih tinggi ketimbang umat beragama Y sendiri. Itu pula sebabnya omongan Ahok di Pulau Seribu jadi masalah besar dan amunisi politik karena dia kristiani tapi memberikan komentar atas ayat suci umat Islam dalam konteks pemilihan gubernur yg melibatkan dirinya.

      Delete