20 February 2017

Baba Tionghoa menang lagi di Lembata



Pemilihan bupati di Lembata NTT sudah selesai. Meski belum ada pengumuman resmi dari KPU, pasangan Yenci Sunur dan Thomas Ola Langoday bisa dipastikan menang. Baba Sunur yang peranakan Tionghoa masih terlalu tangguh buat empat pasangan lainnya.

Viktor Mado Watun mantan bupati rupanya harus puas di posisi ketiga. Padahal politisi asal Atawatung Ileape ini didukung penuh Gubernur NTT Frans Lebu Raya, sesama kader PDI Perjuangan. Klaim tim sukses Viktor Mado pun terpatahkan.

Di mana-mana yang namanya petahana (incumbent) memang sulit dikalahkan. Kecuali dia melakukan tindak pidana kelas berat macam korupsi, jadi bandar narkoba atau otak pembunuhan. Kalau cuma salah ngomong, tidak menjaga lidah macam Ahok di Jakarta ya tidak begitu berpengaruh pada hasil pemilihan

Selama lima tahun menjabat bupati Lembata, Baba Sunur ini sering digoyang oleh lawan-lawan politiknya. Begitu banyak tuduhan miring terhadap baba yang lebih banyak menghabiskan umur di Jakarta dan Bekasi itu. Malah ada orang (anonim) yang bikin website khusus di internet untuk menyerang Baba Sunur.

Tapi buktinya baba yang kabarnya punya leluhur di Kedang ini tetap saja sakti. Lawan-lawannya justru kelelahan sendiri. Bukannya bersatu untuk maju menghadapi Baba Sunur, para politisi Lembata ini rame-rame keroyok Sunur di pilkada 15 Februari 2015.

Bayangkan, Kabupaten Lembata yang kecil itu (dulu gabung Flores Timur) punya lima pasangan calon. Yang menarik, 4 pasangan punya cabup atau cawabup asal Ile Ape, kecamatan asal saya. Bahkan ada satu desa (Atawatung) yang punya dua calon bupati: Viktor Mado Watun dan Lukas Witak.

Lah, bagaimana suara rakyat tidak terpecah ke banyak pasasangan kalau yang maju begitu banyak? Apalagi Baba Sunur yang ahli strategi menggandeng orang Ile Ape, Thomas Ola Langoday, sebagai calon wakil bupati.

Maka perbedaan dukungan pun terlihat nyata. Erni di Lamahora memilih Viktor Mado, sementara suaminya mencoblos Baba Sunur. Orang Ile Ape malah banyak yang memberikan suara untuk calon bupati yang Tionghoa. ''Kita kan bebas memilih,'' ujar Siba asal Ile Ape yang senang Baba Sunur.

Leo Larantukan, pengamat politik NTT, mengatakan kemenangan Marianus Sae di Ngada, Baba Sunur di Lembata dan AG Hadjon di Flores Timur punya pola yang sama. Selain memainkan isu daerah, mereka sangat rajin mengunjungi bapa-mama petani kecil di kampung-kampung pelosok.

''Duduk makan sirih pinang bersama, Ja'i, Sole, dan Dolo bersama. Sehingga berkali-kali demo kepada Marianus dan Yenci Sunur, oleh kebanyakan orang kampung dianggap sebagai permainan para elit semata,'' ujar teman lama yang asli Waibalun Flores Timur itu.

Kemenangan kedua Baba Sunur di Lembata ini juga menunjukkan bahwa politik SARA tidak efektif di Indonesia. Orang-orang sederhana di Lembata tidak lagi berkutat dengan isu lama TITEN NIMUN (putra daerah, pribumi, orang kita) tapi sudah sangat rasional.

''Saya heran mengapa Baba Sunur dapat suara banyak dari Ile Ape. Padahal orang Ile Ape sendiri ada dua orang yang jadi calon bupati,'' ujar Siba.

8 comments:

  1. Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya. Sebagai anak angkat harus bisa membawa diri, jangan sombong dan angkuh. Wong Indonesia kuwi nggak kenekan, gampang tersinggung.
    Budaya Indonesia adalah musyawarah dan kompromi, bukan berdebat mau menang sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Xiansheng ini salah persepsi melulu. Cara berpikirnya masih 1960an jaman hwee-kuok. Perputaran uang di Flores itu sak upil, shg mafia berkedok Pemerintah itu tidak membudaya sedalam di Jkt. Selain itu, krn persamaan agama, seorang baba Tionghoa dianggap sbg putra daerah.

      Jakarta penuh dengan mafia di setiap sudut Pemda DKI dan DPRD. Anggaran Belanja Pemda triliunan rupiah, shg ada aja yg bisa dimainin. Utk melawan mafia, dg cara musyawarah?? Berarti Anda ikut bancakan jd mafia. Itulah yg terjadi selama bergenerasi sejak jaman Sukarno ke Suharto dan lebih2 lagi sekarang ketika ekonomi Indonesia sedang bagus2nya dan demokrasi memberi jalan orang2 yg tadinya tdk punya akses ke kekuasaan utk menjadi pejabat.

      Lihat Jokowi yg membongkar mafia Petral, dan sekarang Freport. Apakah itu musyawarah?? Tidak. Ini salvo meriam yg dimotori oleh Sti Mulyani. Mengapa dia tidak digoyang dengan cara SARA? Krn Jokowi itu Jawa Islam yg berbudaya NU.

      Ahok itu karakter dasarnya sama dengan Jokowi: koppig, jujur, pekerja keras.
      Hanya tampak luarnya saja dia tdk njawani shg mudah diserang. Mengapa Habibi hanya jd Presiden setahun? Mengapa Kalla tidak bisa jd Presiden? Mengapa Hatta tdk bisa jd Presiden? Krn bukan Jawa. Apalagi Ahok yg sudah Cina, Kristen lagi.

      Musyawarah esyemelekete. Pd tingkat tertentu di mana kepentingan2 begitu banyak bertarung dengan taruhan triliunan rupiah, ga ada musyawarah kecuali utk mempertahankan status quo yang bobrok utk bancakan.

      Delete
  2. Haiya... betul banget itu. Perputaran duit di NTT itu saupil bahkan hampir tidak ada. Apalagi di Lembata yg kabupaten di sebuah pulau kecil lah.

    Jangankan NTT, perputaran uang di Indonesia itu menumpuk di Jakarta. Makanya kita di Surabaya dulu.. guyonan pak dahlan iskan... bahwa Surabaya itu bukan kota terbesar ke2 setelah Jakarta tapi kota nomer 6. Kota nomer 1 jakarta nomer 2 jakarta nomer 3 sampe 5 jakarte.

    Malah saya pikir Surabaya bukan lagi nomer 6 tapi bisa nomer 7 atawa 8. Sebab skala ekonominya mungkin mesih kalah sama Tangerang, Depok, Bekasi dsb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kang Hurek, mohon bertanya, apakah di Lembata tempo doeloe ada Sekolahan Tiong Hwaa Hwee Koan ( THHK ) ? Kakek-moyang saya adalah pentolan pendiri THHK di Soerabaia dan dia juga mendirikan THHK didesanya di Tiongkok, dimana bahasa asing yang diajarkan bukannya bahasa Inggris, tetapi bahasa Melayoe, guru bahasa melayoe-nya diimport dari Soerabaia, selain itu disekolahnya juga menerima siswa putri, yang zaman dulu tidak lazim. Kakek saya mendirikan THHK didesa Kabupaten Banyuwangi, sedangkan ayah ikut mendirikan THHK di Denpasar.
      Harus diingat, pada waktu itu belum ada Negara Repoeblik Indonesia, jadi tidak bisa mereka dimaki antek2 cino, daripada jadi antek2 Londo.
      Saya bertanya ini, karena seingat saya, tempo doeloe di setiap kecamatan di Djawa Timur dan Bali selalu ada THHK, walaupun hanya sampai SR kelas 6. Guru2 kita kebanyakan Baba atau orang Hokkien, jadi ucapan intonasi Mandarin kita salah kaprah. Supaya bahasa cina kita lebih orisinil, maka leluhur kita mengimport orang2 suku Khek dari Kwangtong Mexian, untuk menjadi guru di THHK. Suku Khek memang orisinilnya dari daerah utara ( Changan atau Luoyang ).

      Delete
  3. Setahu saya di NTT yg ada cuman baba dan nona alias tionghoa peranakan. Anak2 tionghoa ini membaur, main, ngobrol dan sekolah di sekolah2 yg sama dengan penduduk tempatan. Gak ada jarak. Jangankan THHK, sekolah2 umum pun masuk terlambat di NTT.

    Buktinya, mendiang kakek dan nenek saya masih buta huruf di Lembata. Alias sekolah rakyat/dasar baru dibuka sejak generasi bapak saya. Baru kemarin sore lah. Jangan disamakan dengan di Jawa yg sejak jaman Belanda sudah ada sekolah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kang Hurek, Sekolah THHK tidak pernah melarang anak2 Bumiputra yang ingin bersekolah ditempatnya. Saya masih ingat, ketika saya masuk kelas 1 sekolah rakyat THHK, teman duduk sebangku saya adalah seorang siswi pribumi asal Makasar. Bapaknya tentara TNI berpangkat kopral. Entah siapa nama aslinya dalam bahasa Indonesia, yang saya masih ingat, dia diberi nama cina oleh kepala sekolah, yaitu Gu-ai-ni. Dan ada lagi teman sekelas anak pribumi asli Bali diberi nama cina Ie-lui-de. Sayang saya hanya bisa sekolah dengan mereka 1 tahun lamanya. Kelas 2 sampai 4 SR, saya diasingkan ke Banyuwangi, pindah sekolah dua kali disana.
      Kelas 5 saya kembali ke Denpasar, disana saya duduk sekelas lagi dengan Lui-de disekolah SR-Negeri. Ternyata Lui-de sekarang memakai nama Bali aslinya, yaitu
      I Wayan Leter. Konon Lui-de sekarang sudah jadi PNS berpangkat tinggi di Pemda Denpasar.

      Delete
    2. Lambertus, nenek2 saya juga buta huruf. Kakek paternal saya bisa membaca aksara Cina krn pernah sekolah ongko loro di tanah leluhur. Kakek maternal saya yg mendarat di Sumbawa Besar juga bisa membaca aksara Cina, dan mengajari dirinya sendiri membaca Bahasa Indonesia, dan berbahasa Melayu dialek Sumbawa (kita orang, dia orang . Kalau berkunjung ke Surabaya, pasti beliau membaca Jawa Pos. Dia meninggal 1990 pas saya kuliah. Beliau bisa berbahasa Mandarin, Hokkian (Min-nan), Hokchia (Min-dong), Melayu / Indonesia, dan bahasa daerah Samawa.

      Delete
    3. Ow... cerita yg sangat menarik. Dari sini kita jadi tau kalo sistem persekolahan atawa schooling di indonesia benar2 belon merata dan masih sangat baru.

      Saya juga hanya sekedar kasih gambaran kalo sekolah2 dasar di Lembata atau NTT pada umumnya sangat terlambat kalo kita bandingken dengan di pulau Jawa yg sudah ada sejak hindia belanda. Itu masih SD.. kalo SMP tambah parah. SMA opo maneh.

      Ini juga salah satu alesan mengapa orang2 di luar Jawa yg kurang makan sekolahan itu lebih gampang dikibulin sama orang2 pinter dari luar.

      Delete