26 February 2017

Gerson Poyk kembali ke bumi NTT




Gerson Poyk sastrawan hebat asal NTT itu telah pergi untuk selamanya. Usianya 86 tahun. Tapi banyak orang yakin usia aslinya lebih dari itu karena penulis hebat itu diduga kuat memudakan usia agar bisa tetap muda di depan wanita.

Gerson Poyk juga membuktikan bahwa kopi, sopi dan rokok tak membuat umurnya jadi pendek. Meskipun sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta, Bung Gerson selalu antusias pulang kampung ke bumi NTT. Mengapa? Karena di seluruh NTT selalu ada sopi, tuak, arak dan sejenisnya.

"Wanita-wanita akan terlihat lebih menawan kalau kita minum sopi," ujar sastrawan yang selalu jenaka dan ceria itu.

Gerson Poyk memang fenomenal dan unik. Betapa tidak. Ketika sebagian besar rakyat NTT masih buta huruf, ia sudah bergelut dengan buku-buku kelas berat. Menghasilkan tulisan sastra, jurnalistik, yang banyak. Dialah sastrawan besar asal NTT yang sulit dicari tandingannya.

Gerson Poyk mendapat penghargaan Adinegoro pada 1985 dan 1986. Kemudian SEA Write Award pada 1989. Kumpulan cerpennya sangat banyak. Sebut saja Hari-Hari Pertama (68), Sang Guru (71), Matias Akankari (75), Cinta Rajaguguk (75), Nostalgia Nusa Tenggara (76), Cumbuan Sabana (79)... dan masih banyak lagi.

Hingga tahun 2016, ketika fisiknya sangat menurun karena tua, Bung Gerson pun tetap menulis. Beberapa cerpennya dimuat di koran terbitan Jakarta.

Yang menarik, hampir semua karyanya ada tali temali dengan kehidupan orang sederhana di Nusa Tenggara. Gerson bercerita tentang singkong, kebun, bambu betung, panen dan sejenisnya. Inilah yang membuat Gerson Poyk sejak dulu dianggap sebagai humas orang NTT lewat sastra.

Tak heran, orang-orang NTT (maksudnya intelektual, sastrawan, dan budayawan) mendesak agar jenazah Gerson Poyk dimakamkan di NTT. Dan harus di taman makam pahlawan!

Peter Apollonius Rohi wartawan senior dan sahabat Bung Gerson menulis:

"Masyarakat meminta jenazah sastrawan Gerson Poyk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kupang. Ia memang seorang pahlawan dalam dunianya, dikenal dalam dan luar negeri. Polemik terjadi. Masyarakat meminta, tapi persyaratan memberatkan. Ia harus memiliki unsur TNI atau unsur tentara. Bersenjata.

"Perjuangan Gerson untuk mengangkat nama bangsa, dimulai dari bawah. Coretan kalbu dalam penanya mengundang decak kagum. Diterjemahkan dalam berbagai bahasa sebagai karya sastra dunia, termasuk Turki dn Rusia. Tentu saja juga dalam bahasa Prancis, Inggris, Belanda dll. Kata Napolion Bonaparte, pena penulis lebih tajam dari seribu bayonet.

Penulis akan dikeang sepanjang masa. Orang tahu siapa itu seniman2 besar seperti Leo Tolstoy, Shakespeare, musicus Chopin, Mozart, pelukis Van Gogh, Michelangelo dll, tapi mereka tidak ingat siapa para penguasa zaman itu, siapa para konglomerat masa mereka, siapa jenderal atau lain2nya.

Para pemikir dan pencipta tetap besar dan dikenang sepanjang massa. Gerson sendiri tidak meminta, tapi masyarakat telah mempahlawankan dia, sebagai pemberi semangat dan inspirasi jutaan anak2 muda Indonesia, jutaan anak2 muda NTT.

Mari kita berpikir baru, bahwa para pahlawan itu adalah mereka yang juga para pemikir, para penemu, para perintis dalam berbagai hal yang karya2 mereka dinikmati jutaan orang. Berpikirlah bahwa Makam Pahlawan bukanlah makam tentara. Pahlawan adalah mereka yang diakui masyarakat sebagai pahlawan."

Selamat jalan Bung Gerson Poyk!

25 February 2017

Indonesia berubah kayak Afghanistan?




Sascha Stevenson punya opini yang gelap tentang masa depan Indonesia. Seperti apa Indonesia 10 tahun mendatang? 20 tahun? 50 tahun? Simak di sini
https://m.youtube.com/watch?v=Dnrs1ulccgA

Akankah Indonesia bakal jadi seperti Afghanistan yang kacau balau? Yang perempuannya tidak boleh sekolah, cuma mendekam di dalam rumah? Tidak ada kebebasan bicara atau berpendapat? Bahkan model pakaian yang dipakai pun sudah ditentukan oleh tokoh masyarakat, pemerintah atau ulama?

Sascha termasuk bule pendatang baru di Indonesia. Awalnya jadi guru bahasa Inggris di EF, kemudian belajar Islam, jadi mualaf, pakai cadar yang sangat tertutup... dan akhirnya jadi seperti sekarang. Nikah dengan dosen asal Bandung.

Sascha banyak mencermati kehidupan sosial politik agama musik pendidikan dsb di Indonesia sejak 2001. Satu dekade lebih. Tapi rupanya wanita asal Kanada ini sudah merasakan ada indikasi yang mengarah ke gaya hidup ala Afghanistan.

Siapa orang Indonesia yang mau berwisata ke Afghanistan sekarang? Apalagi wanita. Apa yang bisa dinikmati di Afghanistan yang penuh chaos itu? "Saya tidak akan mau," ujar Sascha yang sangat terkenal di Youtube itu.

Jauh sebelum Sascha bicara gamblang di Youtube, saya sudah membaca tulisan-tulisan beberapa sarjana Barat pada tahun 80an dan 90an. Mereka sudah menangkap isyarat itu sejak lama. Dan itu dimulai saat perdebatan panas pembahasan undang-undang perkawinan tahun 1974.

"Sekitar 30an tahun ke depan Indonesia akan sangat berubah. Anda akan kesulitan melihat rambut wanita Indonesia di depan umum," tulis pakar asal Jerman yang saya lupa namanya.

Begitulah. Yang namanya masyarakat senantiasa berubah mengikuti perkembangan zaman. Tentu berubah menjadi lebih baik dan baik. Kalau berubah menjadi seperti Afghanistan yang dikuasai Taliban ya wassalam.

22 February 2017

Baba Ahok kini underdog

Blunder Baba Ahok di Pulau Seribu benar-benar dimanfaatkan Anies Baswedan untuk menyalip di tikungan. Perolehan suara Ahok kemarin masih terbanyak tapi tidak sampai 50 persen. Pilgub DKI Jakarta pun harus diulang di putaran kedua pada 19 April 2017.

Nasi sudah jadi bubur. Baba Ahok yang mestinya menang satu putaran kini harus menghadapi cabaran yang berat. Dengan posisi yang seimbang maka suara pendukung Agus SBY yang 17 persen yang bakal menentukan pemenang pilgub Jakarta.

Di atas kertas boleh dikata sebagian besar pemilih Agus condong ke Anies. Apalagi melihat aksi berbalas pendapat kubu SBY dan Jokowi akhir-akhir ini. Bagaimanapun juga Ahok itu diusung PDIP yang punya kaitan dengan Jokowi.

Kalau analisis di atas kertas itu terwujud di lapangan, ya Anies bisa dipastikan menang dengan selisih 5-7 persen. Bisa saja Ahok mengambil suara pemilih yang kemarin belum sempat nyoblos. Tapi jumlahnya tidak banyak. Dan tidak semuanya pendukung Ahok.

Satu-satunya jalan ya meyakinkan pemilih Agus SBY tadi. Mungkinkah itu? Dalam politik apa saja mungkin. Siapa yang menyangka seorang Anies yang dulu tangan kanan Jokowi, menterinya Jokowi, merapat ke Prawobo? Siapa sangka Anies yang orang Paramadina bergandengan tangan dengan Rizieq pimpinan FPI?

Begitulah. Politik bukan matematika meskipun bisa diramalkan berdasar peta sosial budaya ekonomi dsb. Kita yang berada di luar Jakarta hanya berharap Jakarta dan negara ini tetap aman dan damai.

20 February 2017

Baba Tionghoa menang lagi di Lembata



Pemilihan bupati di Lembata NTT sudah selesai. Meski belum ada pengumuman resmi dari KPU, pasangan Yenci Sunur dan Thomas Ola Langoday bisa dipastikan menang. Baba Sunur yang peranakan Tionghoa masih terlalu tangguh buat empat pasangan lainnya.

Viktor Mado Watun mantan bupati rupanya harus puas di posisi ketiga. Padahal politisi asal Atawatung Ileape ini didukung penuh Gubernur NTT Frans Lebu Raya, sesama kader PDI Perjuangan. Klaim tim sukses Viktor Mado pun terpatahkan.

Di mana-mana yang namanya petahana (incumbent) memang sulit dikalahkan. Kecuali dia melakukan tindak pidana kelas berat macam korupsi, jadi bandar narkoba atau otak pembunuhan. Kalau cuma salah ngomong, tidak menjaga lidah macam Ahok di Jakarta ya tidak begitu berpengaruh pada hasil pemilihan

Selama lima tahun menjabat bupati Lembata, Baba Sunur ini sering digoyang oleh lawan-lawan politiknya. Begitu banyak tuduhan miring terhadap baba yang lebih banyak menghabiskan umur di Jakarta dan Bekasi itu. Malah ada orang (anonim) yang bikin website khusus di internet untuk menyerang Baba Sunur.

Tapi buktinya baba yang kabarnya punya leluhur di Kedang ini tetap saja sakti. Lawan-lawannya justru kelelahan sendiri. Bukannya bersatu untuk maju menghadapi Baba Sunur, para politisi Lembata ini rame-rame keroyok Sunur di pilkada 15 Februari 2015.

Bayangkan, Kabupaten Lembata yang kecil itu (dulu gabung Flores Timur) punya lima pasangan calon. Yang menarik, 4 pasangan punya cabup atau cawabup asal Ile Ape, kecamatan asal saya. Bahkan ada satu desa (Atawatung) yang punya dua calon bupati: Viktor Mado Watun dan Lukas Witak.

Lah, bagaimana suara rakyat tidak terpecah ke banyak pasasangan kalau yang maju begitu banyak? Apalagi Baba Sunur yang ahli strategi menggandeng orang Ile Ape, Thomas Ola Langoday, sebagai calon wakil bupati.

Maka perbedaan dukungan pun terlihat nyata. Erni di Lamahora memilih Viktor Mado, sementara suaminya mencoblos Baba Sunur. Orang Ile Ape malah banyak yang memberikan suara untuk calon bupati yang Tionghoa. ''Kita kan bebas memilih,'' ujar Siba asal Ile Ape yang senang Baba Sunur.

Leo Larantukan, pengamat politik NTT, mengatakan kemenangan Marianus Sae di Ngada, Baba Sunur di Lembata dan AG Hadjon di Flores Timur punya pola yang sama. Selain memainkan isu daerah, mereka sangat rajin mengunjungi bapa-mama petani kecil di kampung-kampung pelosok.

''Duduk makan sirih pinang bersama, Ja'i, Sole, dan Dolo bersama. Sehingga berkali-kali demo kepada Marianus dan Yenci Sunur, oleh kebanyakan orang kampung dianggap sebagai permainan para elit semata,'' ujar teman lama yang asli Waibalun Flores Timur itu.

Kemenangan kedua Baba Sunur di Lembata ini juga menunjukkan bahwa politik SARA tidak efektif di Indonesia. Orang-orang sederhana di Lembata tidak lagi berkutat dengan isu lama TITEN NIMUN (putra daerah, pribumi, orang kita) tapi sudah sangat rasional.

''Saya heran mengapa Baba Sunur dapat suara banyak dari Ile Ape. Padahal orang Ile Ape sendiri ada dua orang yang jadi calon bupati,'' ujar Siba.

13 February 2017

Komperta dan geliat kesenian di Sidoarjo

Teman-teman seniman Sidoarjo sempat loyo setelah diterjang lumpur Lapindo akhir Mei 2006. Apalagi cukup banyak seniman yang tinggal di daerah terdampak lumpur. Beberapa seniman senior yang biasa menggerakkan kesenian di Sidoarjo macam Eyang Thalib, Bambang Thelo, Eyang Bete meninggal dunia.

Bung Yasluck ketua dewan kesenian juga wafat. Pelukis Djoko Lelono Stefanus juga meninggal mendadak. Maka 10 tahun ini hampir tidak ada pemeran lukisan atau pertunjukan kesenian yang besar. Ada satu dua kegiatan seni tapi cuma percikan-percikan kecil.

Syukurlah, dua tahun ini sudah ada geliat kesenian, khususnya seni rupa. Teman-teman pelukis muda bikin Komperta : Komunitas Perupa Delta. Dipimpin Antonius Juniarto Dwi Nugroho, seniman Komperta rajin blusukan ke berbagai kawasan Sidoarjo untuk OTS.

OTS iku opo? ''On the spot. Melukis langsung di lokasi,'' ujar Juniarto yang juga guru seni rupa. OTS ini juga sekaligus mengangkat candi-candi dan tempat wisata di Kabupaten Sidoarjo.

Lama-lama OTS jadi agenda rutin seniman Sidoarjo plus Surabaya dan kota-kota sekitar. Lama-lama lukisan jadi banyak. Lama-lama ada gairah untuk bikin pameran. Jujur aja... Komperta inilah yang sekarang jadi motor penggerak kesenian di Sidoarjo.

Komunitas-komunitas lain pun ikut terprovokasi untuk bangkit lagi. Komunitas Sketsapora makin aktif. Bumbu Pawon yang dimotori Rojib alias Mbah Bey juga makin kenceng. Bung Santoso juga aktif mendampingi perupa-perupa muda.

Pasar Seni di Pondok Mutiara pun hidup lagi setelah mati suri cukup lama. Komunitasnya Jansen Jasien di Krian juga menghidupkan gedung Lokaphala yang mangkrak itu.

Saat ini dua komunitas perupa lagi bikin pameran dalam waktu bersamaan. Komperta gelar pameran bersama dengan tajuk Among Karsa di Taman Budaya Jatim, Gentengkali Surabaya. Ada 21 pelukis Sidoarjo plus Surabaya dan sekitar ikut bergabung. Masing-masing pelukis dibatasi 2 karya.

Luar biasa! Karena itu, saya gembira ketika diminta Mas Juniarto ketua Komperta untuk menyumbang tulisan di katalog Among Karsa. Saya sampaikan apresiasi kepada Komperta yang kembali memanaskan mesin kesenian di Sidoarjo yang macet sangat lama.

Saya juga salut dengan Cak Amdo yang menghidupkan kembali pasar seni yang tidur lama itu. Apalagi kemarin Bupati Sidoarjo Saiful Ilah, Ketua DPRD Sidoarjo Sullamul Hadi Nurmawan, dan beberapa pejabat penting hadir untuk membuka pameran lukisan bertema lingkungan itu.


12 February 2017

Nasi jagung murah di Tanggulangin



Hampir tidak ada orang Sidoarjo yang makan nasi jagung. Apalagi yang menanam jagung. Kecuali beberapa penduduk Kecamatan Jabon di pinggir selatan Sungai Porong. Itu pun cuma sekadar memanfaatkan bantaran sungai yang kosong.

Makanya kita sangat kesulitan mencari warung yang jualan nasi jagung. Orang NTT yang pernah menghabiskan masa kecil dengan makan nasi jagung setiap hari biasanya kangen makanan wong cilik itu. Dulu ada PKL yang buka lapak di luar Stadion Gelora Delta. Tapi belakangan saya tak menemui ibu itu.

Eh, pagi ini saya tidak sengaja berjumpa dengan nasi jagung di pinggir jalan raya Tanggulangin. Harganya cuma Rp 3500. Mana ada nasi bungkus di bawah Rp 5000 di Sidoarjo dan Surabaya?

''Nasi jagung itu punya penggemar khusus,'' ujar mas pemilik warkop yang doyan lagu2 dangdut koplonya si Shodiq kriwul itu.

Maka sambil nunut nyetrum HP, saya menikmati nasi jagung yang lezat. Pake iwak asin. Teh tawar. Total tidak sampai Rp 5000. Malah dapat bonus nonton video konser dangdut koplo Monata plus internet gratis plus nyetrum ponsel.

Seandainya orang Indonesia, khususnya NTT, makan nasi jagung melulu, biaya konsumsi bisa ditekan banyak. Tak sampai Rp 500 ribu sebulan per mulut. Kalau masak sendiri pasti lebih murah lagi.


11 February 2017

Homili Minggu Ini Bahas KAFIR



Matius 5 : 22
''Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.''

''But I say to you, whoever is angry with his brother will be liable to judgment, and whoever says to his brother, 'Raqa,' will be answerable to the Sanhedrin, and whoever says, 'You fool,' will be liable to fiery Gehenna.''

Minggu ini umat Katolik di seluruh dunia membahas tema ini: marah, kafir, perzinaan, sumpah dsb. Yang aktual hari2 ini, di tengah suhu politik yang panas, adalah KAFIR.

Siapa yang KAFIR? Definisinya apa kafir itu? Apakah orang yang berbeda agama itu kafir? Yang agamanya sama2 kristiani tapi beda aliran gereja bagaimana? Kafir kah?

Kalau mengacu pada ucapan Yesus Kristus yang dibahas di gereja2 Minggu ini, Minggu VI Masa Biasa, maka kata KAFIR harus dicoret dari kamus rohani kristiani. Kita tidak berhak menyebut siapa pun KAFIR atau RAQA dan kata2 sinonimnya.

''Siapa yang menyebut sesamanya KAFIR harus dihadapkan ke mahkamah agama,'' begitu peringatan Gusti Yesus.

Sayang, di era media sosial ini, di Indonesia, kata KAFIR mengalami inflasi luar biasa. Begitu mudah orang mencap sesama manusia dengan kafir kafir kafir...

Kata KAFIR ini kayaknya lebih cocok dikenakan pada para koruptor pencuri uang rakyat. Siapa pun orangnya, apa pun agama dan jabatannya, kalau korupsi ya kafir. Alias ingkar dari amanat rakyat. Menteri agama sekalipun yang hafal kitab suci, kalau korupsi ya kafir. Hakim konstitusi yang korupsi? Sama aja kafirnya. Begitu.

07 February 2017

Norma di ruang pengadilan memang beda

Dialog antara Ahok (plus penasihat hukumnya) dengan saksi di persidangan KH Maruf Amin masih jadi bahan polemik di masyarakat. Pagi tadi politisi Demokrat kembali mengangkat isu ini di televisi untuk menyerang Ahok yang lagi berjuang agar terpilih jadi gubernur Jakarta.

Yockey Suryo Prayogo (JSOP) musisi senior dan budayawan berkali-kali mengingatkan masyarakat untuk menempatkan segala sesuatu pada porsinya. Ini yang sulit. ''Kita ini berbangsa tapi belum siap bernegara,'' ujar JSOP.

Ribut-ribut kasus Ahok yang berkepanjangan menjadi contoh gamblang kegamangan kita untuk belajar demokrasi. Norma sosial, norma hukum... kacau balau di sini. Omongan Ahok yang bocor, kurang tenggang rasa digoreng jadi masalah pidana. Kemudian diseret ke pengadilan.

Lalu muncul masalah baru pekan lalu. Orang-orang tersinggung karena ulama senior, tokoh NU, ketua MUI, dicecar pertanyaan oleh terdakwa dan pengacaranya. Apakah salah Ahok dkk mengorek keterangan dari saksi-saksi?

Kita sering lupa bahwa ruang pengadilan itu punya norma atau unggah-ungguh sendiri. Siapa pun yang duduk sebagai saksi atau terdakwa harus siap dicecar pertanyaan-pertanyaan oleh hakim, jaksa, pengacara.

Begitu kita berada di ruang sidang maka segala atribut di luar dilepas. Tak peduli profesor, pastor, pengusaha yang punya 30 pabrik, ulama, gubernur, bupati, tukang becak, nelayan, petani.

Beberapa tahun lalu Romo Frans Amanue, pastor dan tokoh Katolik di Flores Timur, jadi terdakwa di Pengadilan Negeri Larantuka. Romo ini pun dicecar pertanyaan bertubi-tubi dari hakim dan jaksa (yang mewakili pelapor). Kata-kata mereka tidak enak didengar bagi umat Katolik di NTT yang sangat menjunjung tinggi seorang romo yang mendapat urapan imamat kudus.

Tapi hukum adalah hukum. Sidang pengadilan jalan terus dengan segala dinamikanya. Romo Frans yang diadili karena paling gencar menolak tambang mineral itu akhirnya divonis bebas. ''Ini memang risiko saya sebagai gembala umat,'' ujar romo asal Adonara itu.

Semoga orang Indonesia semakin rasional dan mau belajar untuk bernegara.

Salah Kaprah Penjahit Perempuan dan Polisi Wanita

Ini kebiasaan lama tapi cukup mengganggu. Istilah PENJAHIT PEREMPUAN muncul lagi di grup media sosial teman-teman Sidoarjo.

Semua orang tentu paham maksudnya. Cak Yakin mencari perempuan (bukan laki-laki atau waria) untuk jadi penjahit. Apa yang dijahit? Pakaian tentu. Khusus menjahit pakaian perempuan atau laki-laki dewasa dan anak-anak? Silakan bertanya langsung ke Cak Yakin.

Dari segi bahasa, kalau kita sedikit berpikir pakai logika sederhana, frase PENJAHIT PEREMPUAN tidak berterima. Perempuan kok dijahit? Bisa ditangkap polisi karena melakukan tindak pidana penganiayaan.

Sudah lama Pusat Bahasa meluruskan istilah PENJAHIT PEREMPUAN dengan PEREMPUAN PENJAHIT. Sama dengan WANITA PENGUSAHA, bukan PENGUSAHA WANITA. Wanita pengusaha berarti pengusaha yang berjenis kelamin wanita. Pengusaha wanita ya pengusaha yang berbisnis wanita. Orangnya (pelaku usaha) bisa laki-laki, perempuan, atau waria.

Satu lagi istilah salah kaprah yang identik dengan PENJAHIT WANITA adalah POLISI WANITA yang biasa disingkat POLWAN. Istilah yang benar adalah WANITA POLISI. Wanita yang berprofesi sebagai polisi. Bukan polisi yang khusus mengurusi wanita.

Saya sendiri dari dulu tidak menggunakan istilah POLWAN karena saya anggap polisi berjenis kelamin laki-laki dan perempuan sama saja. Cukup disebut POLISI titik. Membedakan polisi atas dasar jenis kelamin hanya akan jadi bahan tertawaan di era semodern sekarang.

06 February 2017

Zilvia Iskandar Presenter Metro TV

Tak banyak orang Tionghoa yang bekerja di media. Biasanya jadi laopan media macam Hary Tanoe itulah. Zilvia Iskandar merupakan salah satu dari sedikit nona tenglang yang saben hari kita orang liat dia punya paras ayu di Metro TV.

Awalnya Aling, sapaan Zilvia Iskandar yang asal Bangka Belitung, jadi presenter program bahasa Inggris. English-nya memang fasih karena Aling pernah jadi juara Asian English Olympics, semacam lomba membawakan berita dalam bahasa Inggris.

Kini, setelah empat tahun jadi presenter, Aling makin sering nongol di Metro TV. Tidak lagi berita bahasa Inggris tapi lebih ke politik hukum keamanan (polhukam). Saya lihat Aling tampil wajar, menguasai materi, tanya jawab mengalir lancar.

Sumber berita pun kelihatannya nyaman diwawancarai nona Tionghoa Blitong ini. Contohnya Antasari Azhar. Mantan ketua KPK ini bisa bercerita banyak tentang hal-hal sensitif. Padahal di televisi lain Antasari cenderung hemat bicara. Tidak bicara selepas saat diwawancara Aling.

Dari dulu yang namanya narasumber memang begitu. Cocok-cocokkan dan milih-milih reporter. Dengan reporter A dia bicara satu dua kalimat saja. Bahkan tidak mau diwawancarai. Dengan reporter B lumayan lama. Dengan si C bisa ngobrol berjam-jam, ngopi, dsb.

Di Surabaya ada taipan Tionghoa yang hanya mau diwawancarai panjang lebar sama N, reporter senior. Tak hanya ngobrol, si N ini teman main pingpong laopan kelas atas itu. ''Kuncinya itu soal rasa. Gak bisa dipaksa,'' ujar Pak N seraya tersenyum lebar.

Nah, si Aling alias Zilvia Iskandar ini saya perhatikan bisa 'dinyamani' siapa saja. Ini karena pertanyaan-pertanyaannya tidak mirip polisi menginterogasi pelaku kejahatan atau hakim/jaksa mengorek keterangan terdakwa. Pertanyaan Aling itu dikemas polos, sederhana, tapi membuat narasumber bisa bercerita dengan enak.

''Saya dari kecil memang suka memperhatikan news anchor di televisi,'' ujar putri pemilik sebuah restoran di Manggar Belitung Timur, kota asalnya Ahok, gubernur Jakarta nonaktif.

Alah bisa karena biasa. Awalnya Aling mengaku grogi berbicara di depan kamera. Tapi lama-lama terbiasa dan menikmati pekerjaan sebagai presenter televisi berita. Termasuk harus bagun pagi-pagi atau begadang karena harus siaran di studio.

Kelihatannya berat menjadi jurnalis atau presenter TV. Tapi Aling bilang tidak capek, malah enjoy, karena pekerjaan ini memang hobi. Tidak terasa seperti bekerja.

''Profesi ini juga membuat aku bisa menemui orang-orang penting di negeri ini. Aku bisa ngobrol, diskusi, membangun jaringan dengan berbagai kalangan. Itu akan sulit dilakukan kalau aku tidak di posisi ini,'' ujarnya.

05 February 2017

Pemenang Sidoarjo Bersih dan Hijau (SBH) 2016/2017



Lomba kebersihan antardesa/kelurahan bertajuk Sidoarjo Bersih dan Hijau (SBH) baru saja berakhir. Bupati Sidoarjo memberikan penghargaan kepada para pemenang di Alun-Alun Sidoarjo, Minggu 29 Januari 2017.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, SBH 2016/2017 diawali dengan pendampingan dan sosialisasi oleh tim Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan di 18 desa peserta lomba sejak Oktober 2016. Setiap desa menunjuk satu RT sebagai percontohan mengelola sampah rumah tangga. 


"Sampah harus diproses sampai tuntas di tempat," ujar Kepala DLHK Sidoarjo Bahrul Amig.

Semangat SBH memang diarahkan untuk mengubah mindset warga Sidoarjo agar mau mengurangi sampah semaksimal mungkin. Sebab tempat pengolahan akhir (TPA) di Jabon sudah penuh. Sidoarjo yang punya 2,5 juta penduduk akan kelabakan jika tak ada kesadaran warganya untuk mengolah sampah.

Selama tiga bulan 17 desa plus satu kelurahan (Magersari) berlomba untuk mengelola sampah warga RT-nya. Tim juri melihat perkembangan dari awal hingga akhir SBH Januari 2017. Porsi penilaian terbesar adalah pengolahan sampah. Sekitar 60 persen.

Akhirnya, dewan juri memutuskan pemenang SBH 2016. Semoga semangat menjadikan Sidoarjo bersih dan hijau tidak luntur meskipun gelaran SBH sudah selesai. 

Selamat untuk peserta yang menang dan yang belum menang. Semuanya sama-sama hebat! #SBH2016 

#Pemenang SBH 2016/2017

Terbaik I       Desa Sruni, Gedangan
Terbaik II      Desa Jiken, Tulangan
Terbaik III     Desa Gelam, Candi
Harapan I       Desa Bungurasih, Waru
Harapan II      Desa Keboharan, Krian


#Kader Lingkungan Terbaik

1. Sujadi, Desa Pepe, Sedati
2. Lilis Sri Indarini - Desa Karangpuri, Wonoayu
3. Ari Budiarti -  Desa Banjarasri, Tanggulangin
4. Mariyono Subagyo - Kelurahan Magersari, Sidoarjo
5. Nur Faridha Habibi - Desa Kedungcangkring, Jabon
6. Sutarminingsih --  Desa Ketegan, Taman
7. Ernawati -  Desa Kedungboto, Porong
8. Sumarti -  Desa Masangan Wetan, Sukodono
9. Mitayani - Desa Prambon, Prambon
10. Sri Irmawanto -  Desa Keper, Krembung


#Tokoh Masyarakat Pejuang Lingkungan Bersih dan Hijau

Doni Setiawan   Desa Gelam Candi

#Desa/Kelurahan Inovatif dalam Mewujudkan Lingkungan Bersih dan  Hijau

Kelurahan Magersari Kecamatan Sidoarjo

#Pembina Lingkungan Pemukiman Bersih dan Hijau (Kades)

1. Nur Salim,   Kades Jabaran, Balongbendo
2. Diding Hernawan, Kades Kramat Temenggung, Tarik
3. Ahmad Zainul Abidin, Kades Sidomulyo, Buduran

04 February 2017

Jadi Garam dan Terang seperti Bunda Maria

Matius 5 : 13
"Kowe iku padha dadi uyahing bumi. Lah yen uyah iku ilang asine, apa kang kanggo mulihake asine? Wis ora ana gunane maneh kajaba mung dibuwang lan diidak-idak ing wong."

Minggu ini di Gereja Katolik, 5 Februari 2017, membahas garam dan terang dunia. Perikop Injil Matius 5 ini sangat terkenal. Saking seringnya dibahas sejak kita SD sampai kita tua hingga masuk liang kubur.

Tapi memang tidak gampang jadi garam dan terang itu. Uyahing bumi iku ora gampang...

Garam hanya punya manfaat kalau masih punya keasinan. Kalau gak asin ya gak ngefek blas.

Di tengah kehidupan bangsa yang masih seperti ini, wejangan Gusti Yesus ini jadi makin relevan. Kita jadi garam kalau menjadi pembawa damai, sukacita, kebahagiaan bagi sesama. Jadi garam juga berarti meluruskan yang bengkok, meratakan jalan yang berlekak-lekuk.

Santo Jose Maria Escriva de Balaguer membahas topik garam dan terang dunia dengan sangat sederhana. Orang kudus pendiri Opus Dei ini mengatakan jadilah orang kristiani yang membaktikan hidup untuk Tuhan dalam kegiatanmu sehari-hari.

Saya kutip pengajaran beliau dalam bahasa Inggris (ketimbang keliru menerjemahkan):

"....with naturalness, with simplicity, by living exactly as you do in the midst of the world, devoted as you are to your professional work and to the care of your family, participating in all the noble aspirations of people, respecting the legitimate freedom of each person…

"Ordinary life can be holy and filled with God. The Lord calls us to sanctify our usual tasks, because that is also where Christian perfection dwells. Let us not forget that almost all the days Mary spent on this earth were spent in a way very like the days of millions of other women who are also dedicated to their family, to the education of their children, to household tasks. All of that, which many wrongly consider to be insignificant and of no value, Mary sanctified even to the smallest detail…

An ordinary blessed life, which can be so full of the love of God! For this is what explains the life of Mary: her love lived to the point of forgetting herself, completely happy as she was to be in her place where God wanted her. That is why her smallest gesture was never banal, but on the contrary, can be seen as full of meaning…

It is up to us to try to be like her in the exact circumstances in which God wants us to live."

Tielman Brothers legenda musik dari NTT

Orang2 lama asal NTT, yang punya akses ke media dan tinggal di Kupang, biasanya bangga dengan band lawas Tielman Brothers. Grup musik ini jadi bukti bahwa orang NTT (plesetannya Nusa Tetap Tertinggal atau Nasib Tidak Tentu) sebetulnya punya musisi yang ternama pada era 50an.

''Siapa bilang orang NTT tidak bisa main musik? Tidak bisa nyanyi di piringan hitam dan kaset? Lihat itu Tielman,'' begitu ucapan orang2 lama yang bangga dengan grup musik Indo berdarah Timor Kupang, NTT, itu.

Di era internet ini informasi tentang Tielman cukup berlimpah. Di Youtube kita bisa lihat gaya menyanyi Andy Tielman yang khas. Saya suka lagu2 lawas macam Bengawan Solo, Rayuan Pulau Kelapa, Ayo Mama, Bolelebo... dan beberapa lagu daerah yang dimainkan sang rock star.

Halus, penuh perasaan, dengan petikan gitar yang khas. Apalagi lagu Bolelebo yang merupakan salah satu lagu 'kebangsaan' perantau NTT di Jawa atau luar Indonesia. Kata2 kuncinya: ''Bae tida bae... tanah Timor lebe bae!'' Biasa dimodifikasi menjadi ''bae tidak bae Flobamora lebe bae..''

Salah satu tokoh NTT di Jawa yang sangat paham perjalanan karir Tielman Brothers adalah Peter Apollonius Rohi‬. Bung Peter ini wartawan senior yang mendirikan cukup banyak koran di Jakarta dan Surabaya. Beliau asli Kupang, Pulau Timor bagian barat. Beda dengan Timor Leste yang sama2 Pulau Timor tapi posisinya di sebelah timur.

Bung Peter mengaku pernah menyaksikan konser pertama band Tielman ini di Camplong, 50 km dari Kupang NTT tahun 1948. Para pemusik masih kecil2 tapi sudah kelihatan bakatnya. ''Konsernya di bangunan sekolah yang sangat sederhana. Sekarang sudah jadi gereja,'' tutur Peter Rohi yang tinggal di Kampung Malang, Surabaya.

Konser kecil di kampung Camplong itu menjadi tonggak perjalanan Tielman di belantika musik hingga kondang. Band ini kemudian lebih terkenal di luar negara ketimbang di Indonesia. Bahkan orang NTT sendiri kayak saya pun tidak kenal. Tahunya ya belakangan setelah ada Youtube. Kecuali orang2 yang punya akses informasi sehebat Peter Rohi.

Saya pun terkesima membaca tulisan Peter Rohi:

''Menurut pengakuan Geroge Horrison dan Paul McCartney, keduanya menonton Tielman Brothers yang saat itu bernama The Timor Rhythm Brothers show di Jerman. Kembali ke Liverpool, mereka mendirikan The Beatless dengan menggunakan warna musik Tielman Brothers. Jimmy
Hendrix juga mengakui bahwa Tielman Brothers yang dia tiru.

''Tielman Brothers ternyata telah membawa genre baru dalam musik Rock n Roll modern. Kita harus menghormati mereka sebagaimana Belanda memberi penghormatan kenegaraan ketika meninggalnya Andy Tillman sebagai Bapak Rock n Roll.

''Kota Camplong semestinya memiliki sebuah monumen sebagai kenangan indah tentang lahir dan bangkitnya Rock n Roll modern. Saya sangat mengharapkan bantuan teman2 muda di Kupang untuk membuat dokumentasi ini. Dari Timor untuk dunia, sebuah genre musik baru.''

03 February 2017

Iklan pasta gigi era 1950an

Cukup banyak produk yang bisa bertahan di pasar dari generasi ke generasi. Bagaimana cara mengetahui produk-produk tua itu? Gampang banget. Cukup buka majalah atau koran tempo doeloe.

Lalu lihatlah iklan-iklannya. Sudah pasti hitam putih. Sebab pada tahun 1930an belum ada teknik cetak warna seperti sekarang. Iklan-iklan lawas biasanya menggunakan gambar sketsa.

Salah satu iklan yang sangat sering muncul di media-media lawas adalah PEPSODENT. Pasta gigi ini ternyata sudah terkenal jauh sebelum Indonesia merdeka. Saya perhatikan kata-kata iklan di majalah Terang Bulan edisi Februari 1959. Wow... rupanya kata-kata bujukan PEPSODENT masih mirip dengan sekarang.

Di era modern ini Pepsodent bukan sekadar bisa bertahan, tapi juga masih memimpin pasar pasta gigi. Mulai dari kota besar macam Surabaya atau Jakarta hingga ke pelosok NTT pasta gigi ini masih paling diminati masyarakat.

Apa botak bisa sembuh?

Capek mengikuti perkembangan politik yang ruwet, ada baiknya kita bertamasya ke zaman Hindia Belanda. Baca-baca koran dan majalah tempo doeloe. Ini hiburan yang indah buat saya.

Maka saya mampir ke perpustakaan Medayu Agung milik Om Oei di Surabaya. Sekalian kasih slamet tahun ayam semoga sehat dan baca hokinya. Om Oei yang tahun ini genap 80 tahun masih meladeni seorang nona manis. Wawancara khusus.

''Ini wartawan dari Pemkot Surabaya,'' ujar Om Oei memperkenalkan nona itu. Saya senang melihat om bekas tapol Pulau Buru ini yang masih sehat. Ingatannya masih tajam.

Lalu saya naik ke lantai dua. Ambil Sin Po edisi 25 Juli 1930. Di halaman 2 majalah terbitan Batavia ini ada iklan obat untuk menumbuhkan rambut. Iklannya cukup panjang model berita alias advertorial. Ada gambar sketsa pria dan wanita yang botak kemudian lebat lagi rambutnya.

Saya sangat menikmati bahasa Melayu Tionghoa atau Melayu Pasar tempo doeloe. Sangat khas gaya bahasa baba-baba Tionghoa baik di Jawa maupun luar Jawa.

Oh... ternyata sejak 1930an orang Indonesia (yang belum merdeka) sudah galau dengan kebotakan. Dan sudah bikin obat untuk menyuburkan rambut.

''Tipis dan tebalnja ramboet boekan ada perkara nasib tapi rawatannja saban hari jang perloe. Kaloe alpa, orang bisa keliatan toea sabelon oesia 25 taoen. Sebaliknja, dengen rawatan bener orang tinggal moeda sampe oemoer ampatpoeloe, limapoeloe... anempoeloe taoen.''

Obat botak itu produksi Perolan Company di Pasar Baroe No. 99 Goedo (Java).

Gudo? Jangan-jangan Gudo, kota kecil di Jombang itu?

Namanya juga iklan, jualan ketjap, perusahaan ini kasih iming-iming: ''... keadaan botak jang paling hebat sekalipoen, tida perloe dianggep kasep....''