21 January 2017

Wisata Ngadem di Pacet Mojokerto

Orang Surabaya dari dulu senang ngadem di pegunungan. Mulai dari Trawas, Tretes, Pacet, Batu, Malang. Malang Batu sudah terlalu kota, kaya polusi, macet di beberapa titik. Apalagi dulu jalur Porong macet parah karena lumpur Lapindo. 

Tretes bagus tapi padat banget di depan Hotel Surya. Jalan yang sudah sempit ditempati PKL di kanan kiri. Gak asyik.

Makelar-makelar vila di Tretes juga main hantam kromo aja. Dikira semua laki-laki yang pesiar ke Tretes itu cari cewek nakal atau tukang pijat. Imejnya Tretes memang kurang elok. 

Trawas lebih aman dan asyik. Tapi vila-vila makin banyak. Ada hotel, tempat retret atau rekoleksi gereja, bahkan bukit doa. Umat Katolik di Surabaya yang punya kegiatan besar dan masal biasanya ke Sasana Krida milik Keuskupan Surabaya di Desa Jatijejer Trawas.

Saya sendiri penggemar wisata ngadem di Jolotundo, Desa Seloliman Kecamatan Trawas. Ada petirtaan suci, puluhan situs candi, dan pusat pendidikan lingkungan hidup alias PPLH. Di sini kita bisa belajar bercakap English karena selalu ada rombongan bule.

Kawasan Pacet juga jadi pilihan untuk mendinginkan badan dan otak. Sudah lima tahun saya tidak ke Pacet. Dinginnya sama dengan Tretes dan Trawas. Suasananya masih lebih desa dengan sawah yang luas. Tanaman hijau jadi pemandangan yang asyik.

Beda dengan Tretes yang nyaris tanpa spasi karena vila-vila berdempetan. Pun tidak ada makelar-makelar macam di Tretes.

 Tapi saya lihat pekan lalu Pacet ini juga pelan-pelan mengadah ke Trawas. Banyak tanah dibangun vila. "Sebagian besar sudah dikapling," ujar tukang kembang yang punya lapak jagung bakar di atas kolam air panas. 

Mungkin tidak sampai 10 tahun lagu sawah yang luas itu sudah berubah jadi vila merah - warna khas vila-vila di Pacet. Jualan kamar atau penginapan rupanya lebih asyik dan untung ketimbang jadi petani. 

Yang bikin ganjal di hati itu retribusi di tempat wisata air panas terlalu mahal. Masuk pintu bayar Rp 15 ribu. Masuk kolam renang + kolam air panas bayar lagi Rp 10 ribu. Belok ke air terjun bayar lagi. Dan seterusnya. 

"Makanya jarang ada penduduk sini yang rekreasi ke air panas," kata mas penjual jagung bakar yang asli Desa Padusan Kecamatan Pacet. 

No comments:

Post a Comment