11 January 2017

Wayang Wahyu tinggal cerita

Semalam saya pijat di padepokannya Pak Soetadji Puspo Pinardi di Pasar Seni Pondok Mutiara Sidoarjo. Pria 75 tahun ini bisa membenahi urat-urat yang ruwet. Telaten banget. Sambil mijat Pak Taji ngomong ngalor ngidul soal wayang kulit, wayang wahyu, gamelan, hingga Alkitab.

Selain praktisi kesenian Jawa, Soetadji dulu aktivis gereja berbahasa Jawa. Makanya dia hafal ayat-ayat Alkitab berbahasa Jawa. ''Saya juga pernah dirikan gereja di Surabaya. Dekat Jagir Wonokromo,'' ujar sang seniman yang ditemani bu Nur Hayati, sinden dan penyanyi keroncong senior di Sidoarjo. 

Suami istri memang kompak. Bu Nur nyinden, Pak Taji mendalang atau menari. Orang yang belum kenal tentu menganggap aneh dan janggal. Tapi begitulah keseharian pasutri seniman tua ini. Malam Jumat Pak Taji sering mendalang diiringi musik rekaman dan vokal bu Nur. Ada atau tidak ada penonton ya tetap semangat.

Bagi pasutri ini, kesenian Jawa itu terapi jiwa. Tidak beda dengan agama. Bahkan Pak Taji sering mengoplos cerita wayang kulitnya dengan kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mendengar tuturan Pak Taji sambil mengurut badan saya, rasanya kekristenan itu sangat dekat dengan budaya Jawa. Jangan-jangan Yesus itu keturunan Jawa!

Kabarnya Pak Taji pernah mengembangkan WAYANG WAHYU di kalangan umat Kristen pedesaan. Wayang kulit yang mengangkat cerita dari Alkitab. Seni sekaligus perkabaran Injil tempo doeloe ketika masyarakat Jawa masih sangat tradisional. Ketika masih banyak penduduk yang buta huruf.

''Penggemar wayang wahyu dulu banyak sekali,'' ujar pria kelahiran Pare Kediri itu.

Mengapa tidak dilanjutkan? Biar wayang wahyu tidak punah, pancing saya.

Pak Taji mengaku sudah berbicara dengan beberapa pendeta di Surabaya, Sidoarjo, dan kota lain di Jatim. Tapi rupanya pendeta-pendeta itu gak nyambung. Mereka tidak tahu wayang wahyu, pedalangan, gunungan, sabetan dsb. ''Kalau pendetanya aja gak respon, gimana bisa jalan?'' katanya sedih.

Di Sidoarjo hampir tidak mungkin mementaskan wayang wahyu karena masyarakatnya masyarakat santri. Orang nasrani cuma segelintir. Itu kebanyakan umat gereja-gereja aliran yang berkiblat ke Amerika. Gereja-gereja yang sangat pop dalam tata ibadatnya.

Sudah ke GKJW? Ternyata tidak mudah juga. Apa boleh buat, wayang wahyu hanya tinggal cerita dari mulut Pak Taji. Tapi seniman tua ini tak putus asa. Dia percaya bahwa kesenian yang baik pasti tetap akan lestari dari masa ke masa.

3 comments:

  1. Saya kira Wali Sanga dulu menyiarkan Islam di Jawa begitu caranya

    ReplyDelete
  2. Bung Hurek, ada pepatah cina yang berbunyi:
    落叶归根,luo ye gui gen, daun-daun yang rontok akan kembali keakarnya.
    Suatu ketika orang2 nusantara akan sadar dan kembali ke budaya asli mereka yang sejati.
    Namun sampai hal tersebut terjadi, pasti saya dan Pak Soetadji sudah kembali menjadi abu.
    Saya adalah Cina-Indonesia generasi ke 4, toh setelah 150 tahun, cino iki mulih nyang negoro
    asli ne.

    ReplyDelete
  3. Wayang wahyu ini semacam metode inkulturasi gereja di tanah Jawa. Menggunakan seni budaya lokal untuk penyampaian ajaran kristiani kepada masyarakat yg masih sangat tradisional. Dulu warga masih banyak yg buta huruf sehingga belum bisa baca Alkitab. Maka Bruder Timoteus mengembangkan wayang wahyu di solo tahun 60an. Mungkin sebelumnya sudah ada tapi sejarah yg tertulis memang begitu.

    Model ini jauh sebelumnya dilakukan para wali dalam menyebarkan ajaran Islam. Jadi inkulturasi yg gencar dilakukan di gereja2 tempo doeloe justru lebih dulu dilakukan para wali di Nusantara untuk agama Islam.

    Pepatah Tionghoa itu sangat bagus... daun yg rontok akan kembali ke akarnya! Semua orang pada dasarnya punya kecenderungan untuk kembali ke akarnya. Hobinya pak taji ini juga saya kira bagian dari permainan dia kembali ke akar Jawa karena nuansa itu tidak lagi dia temukan di masa kini.

    Salam sehat untuk Xiansheng!

    ReplyDelete