19 January 2017

Terima Kasih Blackberry! Sayonara...

Blackberry (BBM) sudah kedaluwarsa. Ibarat wanita tua yang sudah tak dilirik kaum adam. Maka ponsel khusus BBM yang dulu harus antre untuk membeli dipensiunkan. Disimpan buat kenang-kenangan. Siapa tahu suatu saag jadi barang antik yang mahal.

Ponsel BBM saya resmi pensiun pada Desember 2016. Ini karena operator seluler langganan lawas itu tidak lagi melayani BBM. Apa boleh buat, saya harus mengistirahatkan ponsel hitam antik itu.

Grup-grup BBM sebelumnya sudah lama tutup. Grup untuk kerjaan di kantor pun tutup karena dianggap tidak efektif. Pakai WA aja. Soalnya BBM itu boros data, kata teman yang paham IT.

Bagi saya, ponsel khusus Blackberry ini punya arti yang khusus. Lewat HP itulah saya mulai belajar mengetik pakai dua jempol. Awalnya lambat tapi makin lama makin cepat. Makin mendekati kecepatan mengetik di laptop atau komputer biasa.

Sejak itulah saya mulai keasyikan dengan Blackberry dan mulai meninggalkan laptop. Laptop benar-benar jarang dipakai. Tapi untuk pekerjaan yang rumit dan makan waktu memang harus pakai laptop atau desktop (komputer biasa).

Teknologi ponsel rupanya berganti begitu cepat. Smartphone dan tablet berbasis android yang kita pakai sekarang pun sudah bukan lagi gadis remaja SMA tapi sudah lulus kuliah S1 dan S2. Di bawahnya sudah muncul gadis-gadis belasan tahun yang centil dan menggoda.

Lama-lama kita capek sendiri memburu gadis-gadis muda... eh HP anyar, yang fiturnya makin canggih dan buanyaak. Berbahagialah orang-orang di pelosok yang tak terjangkau sinyal seluler! Bisa hidup ayem tentrem terganggu rayuan produsen HP anyar.

No comments:

Post a Comment