08 January 2017

Sudah ke gereja belum?

Ada paradoks di era yang sangat modern ini. Manusia makin individualistis, gotong royong, gugur gunung... nyaris hilang. Tapi di sisi lain, orang makin ingin tahu agenda pribadi orang lain. Termasuk soal ibadah.

Setiap Minggu ada saja pesan yang masuk: ''Sudah ke gereja belum?''

Pertanyaan kepo yang bikin kita serbasalah. Tidak dijawab gak enak, dijawab kok aneh. Mengapa harus bertanya seperti itu? Lama-lama bisa disambung: romonya siapa, bacaan pertama kedua injilnya apa? Isi khotbahnya apa?

''Saya sudah lama tidak ke gereja hari Minggu,'' jawab saya sekenanya.
Kok bisa? ''Saya selalu misa Sabtu petang/malam. Soalnya, Minggu pagi biasa kerja mengawasi kegiatan Car Free Day. Minggu malam mengedit berita.''

Akhirnya, seorang bapak lulusan S2 itu tidak lagi mengirim SMS yang sama setiap Minggu.

Selain kepo masalah pribadi, di era media sosial ini warga senang melaporkan kegiatan ibadahnya. Bung JC di Sidoarjo saya perhatikan sangat rajin melapor ke Facebook aktivitas ibadahnya di gereja. Tak lupa selfie di depan gerejanya.

Salahkah JC dan teman-teman yang suka melapor ibadahnya di media sosial? Hem... tidak salah kalau medsos itu dianggap sama dengan catatan harian (diari) zaman dulu. Bedanya, diari ditulis di buku tulis dan dibaca sendiri. Sifatnya rahasia.

Sebaliknya, media sosial bisa diakses oleh siapa saja. Dus, status di @ media sosial tidak bisa disamakan dengan catatan harian tempo doeloe. Kalau menyerang pihak lain, rasis, maki-maki, bisa kena pasal di undang-undang ITE.

Kembali ke pertanyaan kepo soal ibadah pribadi. Di negara maju, pertanyaan macam ini sudah kebablasan dan tidak sopan. Bahkan pertanyaan 'agamamu apa' pun sangat tidak pantas. Makanya di negara-negara maju tidak ada kolom agama di KTP, SIM dsb.

Indonesia memang beda.

1 comment:

  1. Sudah ke gereja belum ?
    无所谓,你别多管了!

    ReplyDelete