09 January 2017

Persida Sidoarjo Tak Jelas Nasibmu

Persebaya akhirnya dipastikan ikut kompetisi divisi utama. Kompetisi kasta kedua ini dimulai akhir Maret 2017. Seminggu Indonesia Super League (ISL) kompetisi sepakbola tertinggi di Indonesia. Selamat kepada Persebaya yang lima tahun dikucilkan dari kompetisi.

Berbeda dengan Persebaya, 6 klub eks IPL lain harus ikut Liga Nusantara, kompetisi kasta ketiga. Statusnya pun amatir. Selain faktor sejarah dan basis pendukung, Persebaya memang paling heroik berjuang untuk kembali ke keluarga besar sepak bola. Enam klub yang sama-sama dihukum PSSI cenderung adem ayem.

Kalau Persebaya harus mati-matian berjuang sampai lima tahun agar ikut divisi utama, Persida Sidoarjo justru sudah lama pegang tiket divisi utama. Tapi, anehnya, klub yang dulu jadi jujukan pemain-pemain muda di Kabupaten Sidoarjo ini malah tenang-tenang saja.

Sejauh ini belum ada latihan. Kerangka tim, pelatih, pemain, manajemen belum jelas. Padahal kompetisi tinggal dua bulan lagi. Dan Persebaya kemungkinan besar bakal jadi lawan Persida. Ikut nggak Persida di divisi utama.

''Masih belum jelas. Dulu katanya main dibahas dalam sarasehan, tapi sampai sekarang belum diadakan,'' ujar seorang teman yang akrab dengan balbalan lokal.

Kalau soal pemain sih banyak sekali di Sidoarjo, Surabaya dan sekitarnya. Ada 30an klub di Sidoarjo yang siap dipanggil kapan saja. Pemain-pemain lama juga akan senang kalau diajak gabung. Persoalan utamanya... uang!

Divisi utama itu kompetisi (semi)profesional sehingga perlu kontrak pemain. Butuh sekitar 24 pemain muda dan senior. Biayanya sekitar Rp 10 miliar kalau ingin bisa bersaing. Itu pun masih sulit promosi ke ISL. Kalau cuma punya Rp 5 miliar ya hanya bisa sekadar memenuhi kewajiban ikut kompetisi. Agar tidak dicoret PSSI.

Tahun lalu Deltras tak punya uang untuk bikin tim. Maka jalan pintasnya memakai pemain-pemain Deltras plus tim pelatih di kompetisi Indonesia Socccer Championship alias ISC B. Nama Persida tidak dipakai, tapi Sidoarjo United. Hasilnya tidak terlalu buruk.

Akankah model ini dipakai lagi? Kayaknya sulit. Sebab pemain-pemain SU sudah kembali ke klub asalnya Deltras. Sejak Desember 2016 mereka rutin berlatih untuk persiapan Liga Nusantara 2017. Deltras yang hancur-hancuran di Liga Nusantara 2016 (main 8 kali, menang 0, juru kunci grup) tak ingin mengulang performa buruk itu. Bahkan Deltras bertekad kembali ke divisi utama.

Lantas, bagaimana langkah nyata agar Persida bermain di divisi utama yang sudah di depan mata? Riyadh Balahmar, direktur PT yang menaungi Persida, sudah lama lempar handuk. Advokat senior ini tidak kuat lagi menanggung biaya Persida. ''Uang saya sudah banyak dipakai Persida,'' katanya.

Riyadh bahkan sudah mengembalikan Persida ke Pemkab Sidoarjo. Alasannya Persida ini aslinya memang milik pemkab. PT Bumi Jenggolo hanya payung hukum agar Persida bisa ikut divisi utama yang nonamatir. APBD tidak boleh dipakai untuk membiayai tim Persida karena dianggap profesional.

''Kalau pemkab yang membiayai Persida justru salah. Aturan hukum tidak membolehkan,'' kata Bupati Saiful Ilah yang dulu banyak terlibat dalam urusan sepakbola di Kabupaten Sidoarjo. Sebaliknya, Deltras yang main di Liga Nusantara masih bisa dibantu APBD karena sifatnya yang amatir.

Urusan Persida Sidoarjo ini sudah mbulet kayak benang kusut. Perusahaannya kolaps. Sponsor tidak ada. Pemkab tidak mungkin cawe-cawe-cawe. Padahal status sebagai tim divisi utama tidak bisa dianggap remeh di Indonesia. Tinggal satu langkah lagi tembus ISL...

Ironis! Ketika ribuan bonek rame-rame ke Bandung untuk memperjuangkan Persebaya main di divisi utama, kita yang di Sidoarjo malah membiarkan Persida terhempas dari kompetisi divisi utama.

No comments:

Post a Comment