10 January 2017

Perayaan Natal Bersama di Rutan Medaeng


Biasanya perayaan Natal di Rutan Medaeng Sidoarjo digelar pada pertengahan Desember. Khusus tahun ini digelar setelah 1 Januari 2017. Kali ini giliran Gereja Katolik Santo Yakobus, Citraland Surabaya, yang dipercaya sebagai penyelenggara.

Asal tahu saja, di Gereja Katolik, perayaan Natal hanya boleh dilakukan pada 25 Desember dan setelahnya. Sebelum misa malam Natal dilarang bikin perayaan karena masih masa Adven sesuai kalender liturgi.

Maka suasana perayaan Natal di rumah tahanan terbesar di Indonesia Timur ini pun berbeda dari biasanya. Pihak Paroki Yakobus bikin misa di Gereja Efesus Medaeng. Romo Prima Novianto yang memimpin ekaristi. Ini juga bagus untuk memperkenalkan liturgi Katolik kepada para tahanan dan narapidana nasrani yang mayoritas bukan Katolik.

Total warga binaan yang beragama kristiani (katolik protestan pentakosta baptis dsb) di Rutan Medaeng saat ini sekitar 100 orang. Saya perhatikan sebagian besar terlibat kasus narkoba. Ada pengedar kelas teri hingga bandar antarnegara. Ada juga kasus penipuan dan penggelapan. Penjahat-penjahat jalanan kelas teri umumnya berasal dari kawasan timur macam NTT, Maluku, Papua.

Ditambah perwakilan 30 gereja dan komunitas yang biasa pelayanan di Medaeng plus keluarga tahanan, jemaat yang mengikuti perayaan Natal dan Tahun Baru di Rutan Medaeng ini sekitar 600 orang. Gereja yang kecil itu tentu saja tidak muat. Maka dibuatlah tenda di luar gereja.

Tema Natal kali ini Karena Kasih, Hidupku Berharga. Usai liturgi yang tenang, warga bina bergantian tampil di atas panggung. Paduan suara, grup vokal, dsb.

''Natal di dalam penjara itu selalu memberi kesan yang mendalam. Sukacita kelahiran Kristus juga dirasakan warga binaan,'' ujar Lanny Chandra, ketua Yayasan Pelita Kasih.
Tante Lanny yang juga penerjemah bahasa Mandarin ini sudah puluhan tahun mendampingi narapidana kristiani di berbagai rutan dan lapas di Jawa Timur. Sayang, kali ini tidak ada nona-nona manis dari Tiongkok yang biasanya jadi Kristen setelah mendekam di Medaeng. ''Mereka sudah lama dipindahkan ke Lapas Wanita Malang,'' kata Lanny.

18 comments:

  1. Setelah membaca tulisan diatas, baru saya tahu, mengapa anak2 saya selalu menghiasi pohon Natal pada tanggal 24. Desember siang hari, padahal pohon cemaranya telah dibeli beberapa hari sebelumnya.
    Sejak beberapa hari saya telah menyiapkan uang dan manisan untuk para Tiga Raja yang biasanya selalu datang untuk memberkati rumah dan seluruh penghuninya. Lacurnya kali ini mereka tidak datang, mungkin karena tanggal 6. sampai 8. Januari, suhu udara minus 15 derajad Celcius dan jalan tertutup salju setebal 50 Cm.
    Waktu Advent anak2 pandu sudah datang kerumah membawa lentera perdamaian yang disulut dari
    gereja Yesus Christus di Bethlehem, Friedenslicht aus Bethlehem. Jadi dirumah harus tersedia lilin yang besar dan banyak.
    Sumbangan kepada Tiga Raja untuk Missionaris, dan
    sumbangan kepada Friedenslicht untuk penyandang
    kebutaan dan orang2 cacat.
    Apakah di Indonesia ada gerakan caritativ macam begitu ?

    ReplyDelete
  2. Kamsia Xiansheng.. sudah nulis komentar dan berbagi cerita bagus. Gerakan karitatif jalan terus tapi bantuan dari luar negeri sangat sangat kurang. Sebab gereja di indonesia sudah lama dianggap dewasa sehingga harus berdikari. Makanya gereja2 di sini sering kolekte dua kali untuk keperluan karitatif dsb.

    ReplyDelete
  3. Ya, itulah Pak Lambertus, di Amerika yang mayoritas agamanya Kristen Protestan aliran kapitalis :), perayaan Natal atau "holiday dimulai dari Thanksgiving (hr Kamis ke-3 bulan November) s.d. 25 Desember", yang isinya dipenuhi dengan ritual nomer 1, yaitu belanja. Sedangkan yang aliran fundamentalis, Natal bukan untuk merayakan sukacita kelahiran bayi Yesus, tetapi untuk merayakan kedatangan juruselamat yang nantinya mati disalib; lho, itu kan Paskah?

    Saya yg tumbuh di sekolah Katolik dan merayakan Natal mulai 25 Des s.d. Hari Raya Epifani 6 Jan, selalu bingung dengan berbagai aliran ini; saya selalu mencoba mengingat-ingat, ada Natal kapitalis, ada Natal fundamentalis, dan ada Natal tradisional yang saya pelajari di 13 tahun TK-kelas 12 sekolah Katolik: "Damai di bumi kepada orang yang berkenan (membuka hati) kepadaNya." Walaupun saya tidak relijius lagi, dan keyakinan saya akan Yesus dan Tuhan berbeda dengan yang diajarkan oleh Gereja Katolik, tenggorokan saya selalu tercekat dan mata saya selalu basah krn terharu jika memulai bait pertama lagu "Mari Berhimpun": hai mari berhimpun, oh come oh ye faithful! Venite adoremus. Gloria in Excelcis Deo!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lagu Adeste Fideles itu sangat sederhana tapi paling dahsyat dibandingkan lagu2 natal yg lain. Syairnya liturgis dan biblis... melodinya enak banget. Kalau dibawakan paduan suara dan orkes simfoni terasa keindahannya.
      Adeste Fideles ini beda dengan lagu pop Natal macam Jingle Bells, White Christmas atau Chritmas Song yg lebih menggambarkan suasana natal di masyarakat eropa dan amerika yg lagi kedinginan menikmati salju.

      Di Indonesia, Adeste Fideles ini dikenal dengan Hai Mari Berhimpun di buku Puji Syukur dan Kidung Jemaat. PML Jogja membuat syair Indonesia dengan judul Lekaslah Para Iman di buku Madah Bakti tapi umat Katolik sudah kadung nyanthol dengan Hai Mari Berhimpun versi protestan. Apalagi Hai Mari Berhimpun ini sudah dikasetkan sejak zaman dulu. Makanya versi protestan ini yg dipakai di buku nyanyian liturgi katolik saat ini : Puji Syukur.

      Delete
    2. Terjemahan Katolik terkadang kurang greget. Misalnya Joy to the World, diterjemahkan Alam Raya Karya Bapa ... gak cocok blas. Di Protestan, diterjemahkan Kesukaan Bagi Dunia .. sesuai.

      Delete
    3. Oh... kalau itu sih bukan kurang greget tapi NGAWUR. Maka saya kurang suka syair Alam Raya Karya Bapa.

      Sama dengan Adeste Fideles jadi Lekaslah Para Iman.. yg kurang greget dan maksa. Kata2 'para iman' atau 'pra iman' di Madah Bakti itu jelas tidak cocok dengan tata bahasa Indonesia. Yang bebar itu para gembala, para murid, para rasul, para nabi dsb. Para iman itu... NGAWUR polll...

      Syukurlah, buku Madah Bakti tidak dipakai lagi. Terjemahan2 aneh itu sudah tidak ada lagi. Buku Puji Syukur mencontek Kidung Jemaat dari protestan untuk Joy to The World atau Adeste Fideles.

      Delete
    4. Adeste Fideles aslinya lagu Natal kaum Katholik. Dulu liturgi kaum Katholik memang menggunakan bahasa Latin. Ergo ya jangan di-ganti2 text-nya. Adeste Fideles ya harus tetap Adeste Fideles.
      Bagi orang yang pernah belajar bahasa Latin, ya ngerti arti kata2-nya. Bagi yang belum pernah belajar bahasa latin, ya dibaca terjemahannya yang asli.
      Lagu itu enak didengar justru karena memakai text bahasa latin.
      Apakah ada terjemahan protestan untuk lagu; Asperges me , Tantum ergo sacramentum ?
      Bagaimana bisa adeste fideles diterjemahkan menjadi Kesukaan Bagi Dunia ? Itu khan super ngawur.
      Coba Anda lihat dikamus apa artinya kata adesse dan kata fidelis.
      Mohon maaf, saya bekas anak didik asrama katolik dan waktu mahasiswa harus lulus ujian bahasa latin.


      Delete
    5. Saya luruskan sedikit. Adeste Fideles diterjemahkan jadi Lekaslah Pra Iman (Buku Madah Bakti katolik) dan Hai Mari Berhimpun (Kidung Jemaat protestan). Syair bahasa Latin atau Inggris memang sangat sulit diterjemahkan ke bahasa Indonesia untuk mendapat makna dan konteks yg sama.

      Asperges Me diterjemahkan jadi Ya Tuhan recikilah aku dengan hysop...

      Tantum Ergo jadi Sakramen seagung ini...

      Luar biasa Xiansheng yg bukan katolik tapi pengetahuan sampeyan tentang liturgi katolik hampir sama dengan romo hehe.. Lah wong katolik sendiri kebanyakan tidak tahu karena ini tata ekaristi lama yg dipakai sebelum Konsili Vatikan II atau sebelum 1965. Setelah Vatikan II perayaan ekaristi menggunakan bahasa setempat dan sedikit berbeda dengan misa Latin zaman dulu. Tapi masih dipakai di biara2 dan asrama2 katolik yg diasuh suster frater bruder.

      Nah, sejak Paus Bendiktus XVI ada tren banyak orang katolik mengadakan misa Latin atau Tridentina di sejumlah komunitas. Yakni misa gaya lama dengan bahasa Latin yg syahdu. Imamnya juga membelakangi umat.

      Delete
    6. Xiansheng, anda bacanya terlalu cepat. Adeste Fideles diterjemahkan Hai Mari Berhimpun. Joy to the World itu dari sononya lagu Bhs Inggris, diterjemahkan Kesukaan Bagi Dunia. Ke-dua2nya terjemahan interpretatif yang relatif akurat. Kalau Angels We Have Heard on High (Gloria in Excelcis Deo), saya lebih suka terjemahan (jaman saya dulu SD thn 1980) berupa "Dengarlah di padang sunyi, lagu pujian merdu, malaikat memuji Allah, bahana suaranya ...." drpd yg Protestan "Dari pulau dan benua, dll." karena teks Injil Lukas tidak menggambarkan ada pulau atau benua. Yang digambarkan ya para malaikat di padang yang sunyi. Jadi penterjemah lagu tidak mudah, harus memperhatikan maksud dan latar belakang teks, dan ritme dan diksi kalau dinyanyikan harus pas.

      Delete
    7. Panjenengan bener Mas, kulo matur mea culpa.

      Delete
  4. Aktion Sternsinger ( Tiga Raja ) tahun ini difokuskan untuk membantu rakyat miskin di Tansania. Tiap tahun dirundingkan Region mana yang paling membutuhkan bantuan.
    Syukurlah Indonesia sekarang sudah cukup kaya, sehingga tidak membutuhkan bantuan dari luar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe... belum kaya lah. Indonesia masih negara miskin yg kirim ribuan TKI ke malaysia hongkong taiwan timur tengah. Tapi secara umum dianggap lebih baik ketimbang negara2 afrika. Secara gerejawi pun sudah terjadi arus balik: Indonesia yg justru kirim misionaris ke negara2 bule yg dulu membawa ajaran kristus ke nusantara.

      Makanya dulu waktu SD, pulau Lembata di NTT 100 persen parokinya dilayani romo2 SVD (sebagian besar ada pater eropa), sekarang 98 persen paroki di Lembata romonya diosesan alias projo. Pater2 SVD sudah pigi ke amerika latin, afrika, taiwan, eropa dsb.

      Delete
    2. Ketika keponakan saya menikah di Eropa ada 3 Pastor dari Flores yang memimpin
      missa digereja. Waktu sekolah di universitas, kita banyak berteman dengan
      pemuda2 bule yang sekolah theologi. Mereka adalah seminaris Ordo SVD, yang memang dipersiapkan sebagai missionaris kepulau Flores.
      Kata Lembata saya kenal setelah membaca artikel Anda. Waktu masih belajar disekolah rakyat, yang saya kenal adalah pulau Lomblen. Provinsi Jawa Timur dulunya juga dibagi menjadi 6 atau 7 karesidenan. Teman bermain saya juga ada yang anaknya wedana, camat, lurah, carik, kamituo.

      Delete
  5. Luar biasa dua komentator yg sama2 bukan Katolik (juga bukan protestan) ternyata sangat mengetahui nyanyian dan tradisi Katolik. Bahkan sampai ke syair lagu2 liturgi dengan beberapa versinya. Orang katolik yg tiap hari atau tiap Minggu ke Gereja pun saya yakin belum tentu menguasai hehe...

    Mungkin itulah manfaatnya orang non Katolik bersekolah di sekolah katolik. Tahu banyak hal tentang kekatolikan tanpa harus jadi katolik. Fakta ini penting untuk membantah anggapan seakan-akan sekolah katolik itu ajang untuk kristenisasi alias mengajak anak2 beragama lain masuk Katolik. Bahkan ada teman saya Tionghoa yg dulunya tertarik sama katolik, setelah masuk sekolah katolik, malah jadi tidak berminat masuk katolik. Hehehe....

    ReplyDelete
  6. Om Hurek, aku mau ikut nimbrung tentang "Adeste Fideles", yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi "Hai Mari Berhimpun". Jujur saja, himne ini adalah himne Natal favoritku sepanjang masa dan selalu aku tunggu.

    Lagu ini mengajak kita semua untuk meninggalkan sejenak semua beban kita, rutinitas pekerjaan dan hal-hal duniawi kita. Lupakanlah sejenak perang di Syria, kasus penistaan agama, harga sembako yang melambung tinggi, narkoba yang terus memakan korban, dll. Mari kita melongok sejenak ke Betlehem, bahwa di sana seorang bayi mungil sudah lahir, dan bayi itu sangat istimewa karena Dia-lah Juruselamat yang telah dinubuatkan sejak zaman nabi Yesaya.

    Mengenai terjemahan, saya baru tau kalo ternyata nyanyian Katolik sempat punya terjemahan "Lekaslah Para Iman". Yang saya tau ya sama, "Hai Mari Berhimpun". Katanya sih, dulu Yamuger kerjasama dengan Panitia Liturgi KAJ sehingga beberapa lagu Natal di Kidung Jemaat dan Puji Syukur bisa sama nada dan syairnya.

    Dulu, sebelum ada Kidung Jemaat, umat Protestan banyak yang memakai buku "Nyanyian Rohani" dan "Dua Sahabat Lama". Lagu-lagu Natal versi Nyanyian Rohani ini masih diingat sampai sekarang terutama oleh orang2 tua.
    Misalnya lagu "Malam Kudus". Versi Nyanyian Rohani liriknya seperti ini:
    "Malam Kudus, Sunyi Senyap, Bintangmu Gemerlap..."
    Sementara di Kidung Jemaat liriknya begini:
    "Malam Kudus, Sunyi Senyap, Dunia Terlelap..."
    Lucunya, sampai detik ini, banyak orang masih lebih hafal "Malam Kudus" versi Nyanyian Rohani daripada versi Kidung Jemaat.

    Begitu juga lagu "Angels We Have Heard on High", Nyanyian Rohani menerjemahkannya menjadi "Dari Pulau dan Benua, Terdengar Selalu Trus...". Sementara di Kidung Jemaat menjadi "Alam Raya Berkumandang oleh Pujian Mulia...", dan sama seperti Malam Kudus tadi, "Dari Pulau dan Benua" masih diingat sampai sekarang. (Sementara Puji Syukur menerjemahkannya menjadi "Para Malaikat Bernyanyi...")

    Nah, "Adeste Fideles" versi Nyanyian Rohani ini juga punya sedikit perbedaan lirik dengan versi Kidung Jemaat atau Puji Syukur.

    Setiap kali menonton Misa Natal di Vatikan via live streaming, dan kidung "Adeste Fideles" dinyanyikan, aku merinding dan tanpa sadar air mata membasahi pipi. Indahnya kidung pujian ini diiringi orgel pipa dan orkestra yang menggelegar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu syair di buku Madah Bakti Nomor 353 (Adeste Fideles). Lengkapnya:

      Lekaslah pra iman pergi lihat Tuhan
      Lekaslah berkunjung dalam gua
      Raja Malaikat lahir di rumputan

      Refren: Lekaslah menyembahNya,
      lekaslah menyembahNya,
      Lekaslah menyembah Yesus Putra

      Gembala yang jujur lari berdesakan
      Melihat Hyang Putra dalam gua
      Kita pra iman insyaf Yesus Tuhan

      Sinar Allah Bapa baka berkilauan
      Kini kelihatan bagai bayi
      Raja pra raja tidur di palungan

      Delete
  7. Ternyata bukan hanya saya yang suka terharu oleh lagu Adeste Fidelis yang megah dan penuh sukacita. Natal sudah lewat tapi saya banyak merasakan nuansa Natal di perbincangan blog ini, walaupun kalau menurut doktrin Vatikan saya termasuk seorang yang murtad. Terima kasih!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya kita Vatikan sudah hapus kata murtad dari kamusnya. Apalagi di era Paus Frans sekarang. Sri Paus bilang "Alam raya itu gereja bagi banyak orang di bumi ini. Ada tidak harus rajin ke gereja, komuni.. agar jadi orang yg bermoral. Di dunia ini begitu banyak kebajikan yg dibuat oleh orang2 yg tidak bertuhan. Sebaliknya banyak kejahatan yg dilakukan orang atas nama Tuhan..''

      Delete