13 January 2017

Pabrik Sepatu PT Salim Brothers di Sedati tutup

Sudah tiga bulan ini puluhan buruh pabrik sepatu PT Salim Brothers di Sedati Sidoarjo berkemah di pinggir jalan raya. Persis di depan pabrik. Hujan panas tak membuat para buruh yang kebanyakan wanita itu bubar.

Ada kompor gas dan peralatan masak. Sampai kapan unjuk rasa nginap itu? "Sampai hak-hak kami dipenuhi majikan," ujar seorang buruh pria.

Pabrik sepatu yang cukup terkenal itu praktis tutup total. Ada yang bilang mau relokasi ke kota lain di Jatim yang upah minimumnya lebih rendah ketimbang Sidoarjo. UMK Sidoarjo yang masuk ring 1 bersama Surabaya dan Gresik dianggap terlalu mahal: Rp 3,2 juta.

Namanya juga unjuk rasa, spanduk-spanduk di pinggir jalan berisi kecaman terhadap pengusaha. Intinya buruh minta pesangon segera dibayar. "Jangan biarkan kami keleleran. Kami kan sudah kerja bertahun-tahun," ujar buruh 40an tahun.

Sebagai kota industri, kasus macam PT Salim Brothers ini sebetulnya cukup banyak. Para pengusaha besar, pemilik pabrik, mengalami kesulitan dalam 10 tahun terakhir. Banyak pabrik yang mengurangi pekerja, relokasi, bahkan tutup.

Pabrik Philips yang besar itu, di Berbek Industri Waru, bahkan sudah pindah ke Vietnam. Ribuan buruh kehilangan pekerjaan. Ada lagi pabrik-pabrik lain yang lesu darah.

Salah siapa? Ada apa dengan industri kita? Masih gelap. Yang pasti, UMK yang naik terus setiap tahun sudah sering dikeluhkan bos-bos pabrik. Para laopan ini sering membandingkan produktivitas buruh kita dengan buruh di negara-negara lain.

"Jujur aja satu buruh di Tiongkok bisa menghasilkan produk lima kali lebih banyak ketimbang buruh Indonesia," ujar Pak Han pengusaha Tionghoa muslim yang sering jalan-jalan ke Tiongkok.

1 comment:

  1. Satu buruh di Tiongkok bisa menghasilkan produk lima kali lebih banyak ketimbang buruh Indonesia.
    Sebabnya bukan karena mereka 5x lebih terampil daripada buruh Indonesia, melainkan mereka bekerja 30 hari sebulan. Setahun mereka tidak kenal, Ramadan, lebaran, mulutan, natalan, hajatan, cuti Haid, demo, unjuk rasa, dll. Cuma Sincia dan ceng-beng dapat cuti beberapa hari.
    Sidoarjo dulu cuma terdiri dari satu jalan raya,
    jalannya Daendels, yang diapit oleh pohon2 asem yang besar2. Di Era tahun 50 - 60-an kalah besar sama Porong. Sidoardjo ? ? Itu lho tempatnya beli
    krupuk udang dan petis nyonya Siok.

    ReplyDelete