31 January 2017

Oei Hiem Hwie, perpustakaan, memoar

Pagi ini OEI HIEM HWIE masuk koran lagi. Cerita lama tentang pengalamannya di Pulau Buru karena dianggap antek-antek Bung Karno. Pak Oei juga punya kedekatan khusus dengan Pramoedya Ananta Tour saat berada di pulau pembuangan tahanan politik itu.

Cerita tentang Pak Oei sudah sering dibeber di media massa. Saya juga beberapa kali menulis pengalaman mantan wartawan Trompet Masjarakat, Surabaya, itu di koran. Kalau perlu pendapat tokoh atau pengamat Tionghoa, biasanya saya kontak Oei Hiem Hwie.

Lama-lama jadi dekat dengan sesepuh Tionghoa Surabaya itu. Apalagi beliau punya perpustakaan antik di Medokan Ayu Surabaya. Satu-satunya perpustakaan yang menyimpan begitu banyak majalah, koran, buku, dan dokumen tempo doeloe.

Mau cari koran prakemerdekaan macam Sin Poo, Sin Jit Poo, Keng Poo... ada saja arsipnya di perpustakaan yang bernama Medayu Agung. "Saya memang hobi membaca dan mengoleksi media massa dan buku-buku," ujarnya.

Sayang, banyak buku koleksinya yang diambil aparat setelah peristiwa kelabu 65 itu. Masih lumayan ada setumpuk yang disembunyikan di plafon rumahnya ketika ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru, Maluku.

Kembali ke Jawa Timur, Oei kelahiran Malang tapi cari duit di Surabaya, bersyukur karena buku-buku lamanya masih ada. Tapi di masa Orde Baru dia hidup dalam kecemasan gara-gara status ET di kartu penduduk. ET : eks tapol. "Kami terus diawasi setiap saat," ujarnya.

Orde Baru kemudian tumbang. Pak Oei bisa sedikit lega meskipun tetap eling lan waspada. Diam-diam dia buka perpustakaan sederhana, kecil, agar koleksi-koleksi lawas itu bisa dibaca banyak orang. "Tiap hari ada mahasiswa, dosen, wartawan, tokoh masyarakat datang ke sini," tuturnya lantas tertawa kecil.

Hehehe... Saya ikut tersindir karena memang sering ke perpustakaannya yang dekat perbatasan Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo. Kalau saya lewat di tambak-tambak Sedati Juanda hingga Tambakoso biasanya saya merapat ke Medayu Agung.

Makin hari saya lihat buku-buku makin menumpuk. Selain membeli pakai duit sendiri, banyak orang yang ikut menyumbang. Di era digital ini tentu sumbangan buku makin banyak. Sebab manusia modern lebih banyak membaca di internet ketimbang buka-buka buku kertas.

Saya merasa asyik membaca tulisan-tulisan lawas dengan gaya Melayu Pasar atau Melayu Tionghoa. Penulis-penulis lama senang bermain-main kata, guyon, nyindir... sehingga berita-berita jadi sangat berwarna. Beda dengan model jurnalistik modern yang singkat, padat, tidak bertele-tele, to the point.

Kelemahan perpustakaan milik Tuan Oei hanya satu: tidak ada AC. Bisa dibayangkan betapa sejuknya ruangan perpustakaan dua lantai itu di Surabaya yang panas. Tapi tentu saja Pak Oei tidak punya anggaran untuk pengadaan AC. Pemkot Surabaya juga belum berkenan menyumbang karena lebih memperhatikan perpustakaannya sendiri yang mutunya biasa-biasa saja.

Tahun ini Pak Oei genap 80 tahun. Beliau mau menerbitkan buku memoar yang isinya pasti werno-werni dan interesan. Semoga lancar dan Tuhan kasih sehat untuk Pak Oei.

Salam Sin Cia tahun ayam!

10 comments:

  1. Apakah di KTP yang sekarang masih ada tanda ET ?
    Di Jerman zaman nazi dulu juga ada KTP ditandai J,
    (jahudi). Politik bikin pusing, lebih baik lihat Youtube dengarkan lagu2 kenangan, Diana Nasution,
    Hetty Koes Endang, dll.

    ReplyDelete
  2. Tanda ET sudah tidak ada. Tapi sebagian masyarakat masih melihat mereka dengan pandangan yg kurang positif. Apalagi belakangan isu kebangkitan PKI sering dihembuskan politisi kanan dan ormas2 keras macam FPI. Anak2 mereka pun sering gak ngaku kalo orang tuanya eks tapol.

    PKI dan komunisme masih jadi hantu di Indonesia. Kajian tentang komunisme dan sosialisme hampir tidak ada di Indonesia sehingga sebagian besar orang kita hanya melihat komunisme sama dengan atheisme yg memusuhi agama.

    ReplyDelete
  3. Sampai sekarang peristiwa 300965 masih menjadi bola panas yg terus digoreng dari presiden ke presiden. Politisi dan tokoh2 bangsa masih memelihara trauma politik itu. Orang takut bicara 65 karena bisa dianggap simpatisan atau keturunan PKI.

    Anehnya, saat ini Indonesia justru jadi teman akrab RRT yg komunis tulen. Malah banyak partai politik di Indonesia yg menjalin kerja sama dengan Partai Komunis Tiongkok.

    Makanya saya pernah bilang 50 tahun lagi pun masalah 65 ini tidak akan selesai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu PKI digunakan oleh rejim Suharto dan TNI utk menakut-takuti rakyat. Eh sekarang digunakan oleh FPI. Sesuatu yg tdk dikenal, baik itu PKI, Yahudi, Ahmadi, keturunan Tang Dynasty, dijadikan momok dan rakyat yg tidak berpikir panjang percaya aja.

      Atheis sebenarnya tidak memusuhi agama hanya tidak percaya kpd Tuhan. Sebagian besar ilmuwan terkemuka di dunia ini atheis. Tetapi mereka tidak anti-theis (memusuhi penganut agama). Dan bahkan penganut antitheist itu sendiri tidak bertindak kekerasan , hanya memusuhi secara intelektual saja, karena tidak ada ayat2 Tuhan yg menyuruh mereka membenci dan membunuh si kafirun.

      Delete
  4. Orang2 ET itu sangat religius setelah pulang dari Buru. Yang nasrani pigi gereja saben hari. Ikut koor, komunitas ini itu dsb. Yang muslim naek haji, rajin ngaji, ngajar agama dsb. Tapi mareka2 itu tetap dicurigai menyebarken virus2 komunis bin ateis kepada masyarakat. Makanya mereka dikucilkan dan diawasin oleh aparat baik secara diem2 atawa terang2an.

    Makanya kalo Xiansheng berlibur di indonesia jangan kasih tau orang laen kalo tuan tidak punya agama. Bilang aja kitaorang agama Buddha atawa konghucu tapi tidak sempat pigi ke kelenteng.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ban-ban Kamsia, ojo kuatir Kang Hurek, saya ini hafal liturgi mulai Dominus vobiscum sampai Ite missa est. Bahkan pegawai2 bule saya menganjurkan supaya saya memimpin missa diparoki mereka yang tidak punya Pastor.
      Saya ini khan generasi saksi mata 300965, tahu betul apa yang terjadi didesa Cluring, yang oleh Orba ceritanya diplintir.
      Mbakyu saya juga sial dituduh simpatisan PKI,
      padahal dia cuma salah pilih organisasi Plonco mahasiswi. Tjina Taoist kalau diplonco mau ikut mana kalau bukan Perhimi ? Apakah boleh masuk HMI atau PMKRI ? Kasian Mbakyu di-Screening dikantor polisi Hauptbiro dan tiap minggu wajib lapor.
      Waktu itu banyak orang sial, dibantai gara2 punya istri cantik dan punya sawah-ladang,
      sang istri dirabi dan sawah dirampas.
      Mangkanya ojo golek gawe, urip sing tentrem wae. Untuk apa pingin dadi gubernur atau ono sing mimpi pingin dadi presiden, dengan alesan saya wni punya hak konstitusional.
      Ini Indonesia Bung ! Ya beginilah tempat lahir beta. Memang banyak sekali yang tidak beres. Apakah tugas FPT yang harus membenahi itu ? ( Front Pembela Tenglang )

      Delete
  5. Di Indonesia ada istilah dendam 7 turunan. Kalau G30S ini baru 4 turunan (generasi). Makanya trauma pahit ini masih perlu 3 generasi lagi baru dibahas dengan lebih tenang. Tapi melihat kebangkitan kaum radikal macam itu FPI, rasanya tidak akan pernah selesai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tempat lahir beta memang penuh misteri dan mistik. Wayang2 masih bisa bergerak-gerak, walaupun sang Dalang sampun sirep.
      Sang Dalang yang bertahta di Virginia-Washington,D.C. sudah gamblang mengakui perannya pada peristiwa 300965, lha koq para wayang masih terus melanjutkan perang Bratayuda di Kurusetra.

      Delete
    2. Kang Hurek, sebentar lagi akan banyak komentar2 dari pihak FPI dan FPT. Apakah tidak lebih baik, Artikel ini di delete.
      Selama hayat masih dikandung badan, semoga kita bisa bersua, ngobrol sambil minum kopi dan makan pohong goreng.
      Saya kasih tip caranya menikmati kopi;
      Kaffee soll, Schwarz wie die Nacht, heiss wie die Hoelle und suess wie die Liebe.
      Kopi harus, hitam bak malam tak berbintang, panas bak neraka dan manis bak bersenggama.

      Delete
  6. Bahas PKI itu pasti bikin capek kita punya otak kerna dia punya masalah ada sama saja dari taun ke taun. Belakangan ini orang2 yg bikin diskusi, putar film, bedah buku dsb untuk membahas tragedi 65 sering dibubarkan ormas2 itu. Mareka2 yg ikut nimbrung diskusi juga bisa dituduh sebagai simpatisan atawa keturunan PKI. Oleh kerna itu, orang2 Indonesia umumnya memilih maen aman dengan tidak mau ikut2an bicara tentang topik yg sangat sensitif itu. Ketimbang kita orang berurusan dengen aparat atawa ormas2 itu.

    Hal ini juga menyebabkan sebagian besar orang Indonesia tidak tau dan tidak mau tau apa yg sabenernya terjadi di pulau Buru dulu. Mengapa pak Oei sampe dibuang ke Buru? Pulau Buru itu di mana? Kalau kita bertanya ke tetangga2 pasti mareka bilang kita orang tidak tau. Bahkan orang kita juga jarang yg mau membaca buku2 tentang tapol, Pulau Buru, sastra eksil dsb.

    ReplyDelete