03 January 2017

Menikmati daging landak yang alot

Sudah tiga tahunan saya tidak mencicipi daging landak. Maklum, binatang berduri ini makin sulit ditemukan di kawasan hutan Jolotundo Trawas Mojokerto. Kalaupun ada yang tertangkap, biasanya cepat terjual.

Peminat daging landak memang sangat banyak. Sekitar 10 tahun lalu, landak yang kecil masih bisa dibeli Rp 50 ribu. Sekarang paling murah Rp 100 ribu. Daging landak dari hutan milik Perhutani itu kemudian dimasak Nur Hasanah alias mbak Gembuk.

Biasanya dibuat krengsengan atau dirawon. Saya lebih suka yang dirawon karena lebih empuk. Daging landak itu alot kalau tidak ada treatment awal dengan bumbu-bumbu tertentu.

Semalam saya mampir di Jolotundo, warung mbak Gembuk yang sejak dulu jadi jujukan para seniman Sidoarjo. Ada markas Teater Lekture Sidoarjo yang terkenal itu. Hawa sejuk menusuk khas pegunungan.

Tumben... Mbak Gembuk dengan gembira mengatakan ada iwak landak. Krengsengan. Tentu saja saya tak sabar menjajal daging eksotis yang gak umum itu. Tapi alot banget. ''Gak sempat dibuat rawon,'' ujar mbak yang ramah itu.

Selain alot, daging landak ini dikelilingi tulang-tulang yang ruwet. Maka makannya harus hati-hati. Pelan-pelan. ''Iwak landak itu cepat laku,'' ujarnya. Labanya bisa dua kali lipat.

Saya sebetulnya sudah lama melihat landak berkeliaran di kebun-kebun di NTT. Tapi saya baru tahu kalau daging landak itu gurih dan enak ya di kawasan Seloliman Trawas ini.

15 comments:

  1. Wah, anda membantu kepunahan hewan landak dari kawasan hutan tsb.

    ReplyDelete
  2. Hehehe.. cuma mencicipi daging yh sudah matang. Dulu saya sering beli, sekarang sudah tidak lagi. Semoga landak2 tidak punah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Landak itu termasuk Ordo Rodentia, alias mamalia hewan pengerat, satu keluarga dengan tikus. Selamat menikmati tikus berpunggung duri! Hehehehe.

      Delete
  3. Hehe... jadi ingat cerita pak Greg seniman eks pulau buru. Mereka biasa makan tikus di masa pembuangan orde baru itu. Daging landak ini sebenarnya gurih kalo bumbunya pas.

    ReplyDelete
  4. Daging yang alot akan menjadi empuk, jika dicampur dengan parutan pepaya muda selama 3 jam, lalu dicuci bersih, barulah dimasak dengan bumbu. Itulah khasiat emzym papain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini resep lama warisan dari kita punya nenek moyang, tapi banyak orang yg suka lupa. Daging dimasak jadi krengsengan begitu saja sehingga kita orang langsung kapok meskipun makan sedikit aja. Banyak makanan di warung2 yg kurang nikmat karena lupa resep2 lawas.
      Terima kasih Toean sudah kasih ingat kita punya resep djaman doeloe... kamsia.

      Delete
  5. Bapak Presiden Soekarno dulu pernah menginstruksikan kepada rakyat Indonesia untuk memburu dan memakan tikus sawah, karena tikus sawah merupakan hama padi.
    Landak dimusim panas dan musim rontok banyak berkeliaran dikebun saya. Musim dingin mereka tidur terus didalam semak2. Saya dilarang oleh anak2 menangkap binatang itu, katanya landak itu berguna karena makan bekicot.
    Kita anak Indonesia jahil, semua binatang liar kita tangkap dan pelihara untuk mainan.
    Pernah sekali saya menangkap seekor ular dikebun dengan jepitan panjang, lalu saya pelihara dalam sebuah kotak. Katanya anak saya, usia 6 tahun, Pa ular itu jenis Ringelnatter, tidak berbisa, berguna karena makan tikus. Saya bilang: kalau tidak berbisa, coba kamu pegang, sok keminter !
    Oleh anak saya dipegang sungguhan. Saya terkejut,
    lho anak ini sudah gila.
    Ternyata anak2 disekolah Eropa, sejak taman kanak2 dan sekolah rakyat sudah diajari yang bener oleh ibu gurunya. Selain budipekerti juga diajari pengetahuan umum.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul xiansheng. Itulah bedanya pendidikan yg mengutamakan ahlak berbasis agama drpd yg mengutamakan ahlak tanpa embel2 agama plus ilmu sains.

      Delete
    2. Cerita pengalaman nyata yg sangat mengesankan. Saya baru tau kalo tuan presiden bung Karno pernah kasih instruksi agar orang Indonesia makan tikus hehe... Cerita unik ini belum ada tertulis di buku2.

      Kita memang perlu belajar dari orang Eropa dan Tiongkok yang sejak kecil sudah dilatih berpikir ilmiah. Bukan berpikir klenik dan cuma menduga2 tidak karuan. Kita orang indonesia dari kecil sampai tua jarang dikasih jawaban logis tentang macam2 perkara. Syukurlah sekarang ini sudah ada mbah Google yg bisa menjawab segala macam pertanyaan.
      Misalnya: mengapa air laut tidak pernah kering, padahal sungai2 kering pada musim kemarau?

      Delete
    3. Bung Hurek, mbah Google memang ciamik. Anda orang beriman, jadi menanyanya juga sopan dan Logis : Mengapa air laut tidak pernah kering ?
      Saya orang kafir menanyanya nyeleneh:
      Mengapa perempuan Jawa berambut tetapi selain itu mereka klemis dan kinclong ?
      Perempuan Eropa dan China juga berambut, tetapi yang satu berjerami dan yang lainnya berijuk.
      Dulu saya sangka karena Ras mereka yang berbeda. Ternyata menurut mbah Google, karena Agama ( Fitra ).
      Rahasianya ternyata Depilation & Epilation.

      Delete
  6. Saya jadi ketawa sendiri dengan istilah KAFIR hehe... kafir iku opo? Mbah Google juga bingung karena jawabannya ada 1001 macam dan semuanya merasa paling benar.
    Kalo dipikir2... jaman dulu sebelum ada agama, semua manusia hidup bersatu padu, tidak ada yang menyebut kelompok lain kafir dsb. Kemudian datang agama yg sama2 mengklaim paling benar dan paling dekat dengan Tuhan. Padahal Bibel mengatakan semua manusia itu diciptakan sesuai dengan citra dan gambar Allah..

    Oh ya.. jawaban mbah google tentang air laut juga macam2 sesuai pengetahuan yg nyumbang informasi di internet. Ada yg cuma guyon, ada yg ngawur, ada yg pake ayat2 suci bahwa itulah kemahakuasaan Tuhan, ada yg setengah ilmiah.. ada yg terlalu banyak kutipan buku2 teks sehingga bikin kitorang bingung.

    Tapi paling tidak Google ini membuat alam pikiran kita makin terbuka. Apalagi kalo kita membaca tulisan orang2 eropa dan amerika yg english. Kalau tulisan orang2 indonesia ya kebanyakan masih gitu2 aja. Malah makin lama makin banyak hoax-nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Manusia sudah kenal agama atau kepercayaan sejak mereka mulai bertani dan berburu. Mereka tidak bersatu padu, tetapi bersaing dan baku perang untuk mempertahankan teritori mereka.

      Delete
    2. Menarik.. bahas daging landak yg gurih akhirnya lari ke agama dan kafir segala. Luar biasa. Hehe...

      Delete
    3. Bung Hurek, KAFIR per definitionem FPI, adalah manusia diluar Agama Islam dan termasuk Muslim Abangan.
      Abangan iku opo ? Apakah Muslim yang toleran, yang sopan dan santun, yang saya kenal 62 tahun silam, ketika saya pindah ke Banyuwangi dari pulau Bali ?

      Delete
    4. Hehe... abang dadi ijo.. ijo tambah ijo... saiki abang2 ora payu. Ijo royo2.. tandure wis sumilir..

      Delete