21 January 2017

Mencicipi kue keranjang Tante Tok di Sidoarjo

Sincia atau tahun baru Imlek sudah dekat. Kesempatan untuk mencicipi nian gao atau kue keranjang. Ke mana ya? Pilihannya tidak banyak. Sebab orang Tionghoa di Surabaya atau Sidoarjo sekarang tidak punya waktu untuk mengukus dodol cina itu.

"Cukup membeli di toko-toko. Ngapain capek-capek masak kue keranjang?" Begitu omongan klise Tionghoa Surabaya yang makmur. Orang kota mah sudah lama meninggalkan dapur.. kecuali pedagang makanan.

Syukurlah, saya punya beberapa kenalan Tionghoa yang masih melestarikan budaya leluhurnya. Kemarin saya mampir ke rumahnya Tante Tok di pecinan Sidoarjo. Agenda tahunan jelang sincia. Ibu yang Buddhis plus jemaat kelenteng ini memang salah satu dari sedikit ahli masak nian gao original.

"Resepnya langsung dari papa saya asal Hokkian," katanya dengan logat Jawa kental. 

Tante Tok dibantu tiga asisten, salah satunya Jawa, kerja keras di dapur. Hari itu menghabiskan 20 kg ketan. Bukan ketan lokal tapi impor Thailand. Ketan hasil pertanian di Jawa Timur sulit menghasilkan kue keranjang yang pas. Malah tidak jadi.

Saya perhatikan, dari dulu, Tok Swie Giok ini memasak kue keranjang dengan cinta yang besar. Ini membuat semangatnya selalu tinggi di usia kepala tujuh. Dari subuh sampai 23.00. Dia mulai masak sejak akhir Desember.

"Tiap tahun makin banyak yang pesan gara-gara kamu," ujar Tante Tok sambil tertawa.

Kok bisa? "Kamu yang memasukkan ke internet. Orang jadi tahu kalau saya bikin kue keranjang," ujarnya. 

Oh ya... cerita kue keranjang buatan Tante Tok memang saya muat di blog ini sejak beberapa tahun silam. Tante Tok pun kebanjiran pesanan... meskipun dari dulu pelanggannya sudah banyak. 

Maka, saya diminta mencicipi nian gao buatan kota udang Sidoarjo ini. "Wuenaak... maknyusss," kata saya. Gimana tidak enak (manis), kue khas Tiongkok ini pakai banyak gula. 

Selamat bikin kue keranjang! Semoga Tante Tok selalu hoki di tahun ayam!

No comments:

Post a Comment